Amstrong, Perjalanan Mencari Diri ke Bulan

Selasa, 30 Oktober 2018 11:50 WIB

Film First Man film biopik tentang astronot NASA Neil Amstrong yang pertama kali mendarat di bulan

Benarkah film “The First Man” perlu dikecam hanya karena absen dari adegan Neil Armstrong memacakkan bendera Amerika di bulan? Seberapa jauhkah peristiwa sejarah harus betul-betul mematuhi kejadian nyata ‘seutuhnya’. Dan siapa yang menentukan apa ‘gambaran’ yang utuh dan apa yang dianggap “total lunacy” (kegilaan total) seperti yang dituduhkan Senator Florida Marco Rubio?

Sutradara Damien Chazelle menyajikan film First Man, yang diadaptasi dari buku karya James R. Hansen, dan menunjukkan bahwa membuat film adalah sebuah pilihan. Chazelle, pemenang Sutradara Terbaik Academy Awards tahun lalu untuk penyutradaraan La La Land dan penulis skenario Josh Singer (penulis skenario film Spotlight) memilih untuk merekam kehidupan pribadi Armstrong. Itu artinya bukan sekedar perjuangannya untuk bisa mencapai bulan, dengan teknologi yang masih sangat minim, tetapi juga perjuangan batinnya karena kehilangan puterinya yang dilibas kanker.

Kamera langsung menyorot ruang sempit cockpit Armstrong dan timnya yang tengah menguji coba mengemudi pesawat Gemini. Untuk beberapa menit pertama, rangkaian adegan itu memusingkan, merepotkan (mata penonton) dan menjengkelkan. Handheld camera sebagai pilihan Chazelle itu tentu saja ingin agar membuat penonton merasakan menjadi sempitnya ruangan di dalam cockpit dan merasakan realisme dokumenter.

Setting dari tahun 1961 sampai 1968 menjadi pilihan Chazelle karena itulah awal mula gejolak Armstrong. Pertama, karena karirnya yang menanjak menjadi salah satu calon astronot yang kemungkinan menjadi orang pertama yang menginjak bulan dan orang pertama yang menghajar Soviet yang tampaknya sudah memenangkan perang syaraf melawan AS. Kedua, yang lebih disorot Chazelle adalah jiwa Armstrong yang terguncang: seorang lelaki pendiam yang intens, penuh kasih yang kemudian terluka ketika puteri bungsunya harus kalah melawan kanker. Duka Armstrong begitu mendalam hingga menyebabkan dia justru menjauh dari isterinya Janet Shearon (diperankan dengan brilian oleh Claire Foy) dan kedua puteranya, karena tak akan ada yang bisa menggantikan kekosongan dalam dirinya.

Sementara itu, setiap percobaan misi Apollo masih selalu ada problem teknis hingga menewaskan tiga sahabat Armstrong sesama astronot. Armstrong semakin terpukul dan dia semakin menutup diri serapatnya hingga nyaris tak ingin berpamitan sebelum dia berangkat menuju bulan. Di setiap pojok rumah, dia melihat puterinya Karen yang bermain-main seperti semasa hidupnya. Ini salah satu kedahsyatan Chazelle yang menunjukkan kehilangan luar biasa tanpa banyak adegan airmata.

Advertising
Advertising

Rasa kehilangan dan duka yang dikubur rapat-rapat di balik dadanya itu tampaknya membuat dia jadi gagah berani, nyaris nekad dalam misi bersejarah itu.

Tanggal 20 Juli 1969 adalah hari besar Armstrong. Seluruh dunia menyaksikan peristiwa ini. Pada saat ini, Chazelle memperlihatkan mengapa dia memang layak dinobatkan sebagai Sutradara Terbaik Academy Award tahun lalu. Adegan Apollo yang berhasil mendarat di bulan diperlihatkan dengan adegan puitik. Armstrong serta Aldrin membuka pintu, gelap berangsur menyingkir dan tiba-tiba tata suara mati total. Sunyi senyap. Kita seolah bersama mereka berdua, ikut menatap bulan dari dekat dengan rasa haru dan kagum. Betapa kecilnya kita, betapa besarnya Sang Pencipta.

Beberapa film dokumenter tentang Neil Armstrong dan timnya itu selalu menayangkan dua hal penting: ucapan Armstrong “That's one small step for (a) man, one giant leap for mankind" dan peristiwa penancapan bendera Amerika di bulan.

Sutradara Chazelle memilih hanya memperlihatkan adegan Armstrong yang menjejakkan langkah pertama sembari mengucapkan kalimat bersejarah itu. Bendera juga terlihat berkibar, tapi Chazelle tampak tak ingin memenuhi layarnya dengan sensasi yang bertubi-tubi. Secara esensi, film ini adalah sebuah film keluarga. Armstrong tampak berjalan sendirian dan merasa begitu dekat dengan anaknya dan ketiga kawannya yang sudah ‘pamit’ duluan ke alam baka. Armstrong mengucapkan selamat berpisah dengan anaknya. Kali ini dia mencoba ikhlas.

Inilah persoalan yang tak dipahami oleh para politikus sehingga menuduh Chazelle tak cukup patriotik karena tak mencantumkan adegan pemasangan bendera AS bersejarah itu. Untuk saya, Armstrong justru terlihat sebagai manusia yang utuh: astronot legendaris sekaligus lelaki rapuh yang kehilangan puterinya.

Ryan Gosling dan Claire Foy sudah pasti akan mengalami rangkaian karpet merah berbagai festival tahun depan. Mereka memang tidak hadir sebagai pasangan suami isteri yang meledak-ledak. Kemarahan, kesedihan dankegeraman semua tersimpan erat dan hanya tampak pada sorot mata dan gerak tubuh yang moderat. Tak ada drama besar. Yang terasa adalah gejolak melalui pandangan mata pasangan suami isteri itu.

Chazelle, meski kali ini tak bertumpu pada musik sebagai roh film –meski masih terasa aroma khasnya yang menampilkan waltz ketika pesawat sudah mendekati bulan. Untuk beberapa saat, musik itu melemaskansyaraf ketegangan karena perjalanan yang sulit menuju bulan. Film First Man bukan hanya sebuah sejarah dunia tentang jejak kaki manusia pertama di bulan, tetapi tentang perjalanan seorang ayah untuk berdamai dengan kehilangan besar dalam hidupnya. Pada saat dia kembali ke bumi, tak banyak kata, tak perlu drama besar, Armstrong kembali kepada isterinya cukup dengan kedua telapak tangan yang saling menyentuh.

FIRST MAN

Sutradara : Damien Chazelle

Skenario: Josh Singer

Berdasarkan buku First Man: the Life of Neil A.Armstrong

Karya James R.Hansen

Pemain: Ryan Gosling, Claire Foy, Jason Clarke, Kyle Chandler

Berita terkait

Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

9 hari lalu

Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.

Baca Selengkapnya

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

30 hari lalu

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.

Baca Selengkapnya

Hibah untuk Keberlanjutan Media yang Melayani Kepentingan Publik

38 hari lalu

Hibah untuk Keberlanjutan Media yang Melayani Kepentingan Publik

Tanggung jawab negara dalam memastikan jurnalisme yang berkualitas di Tanah Air perlu ditagih.

Baca Selengkapnya

AFPI Sebut Mahasiswa Jadi Salah Satu Peminjam Dana Fintech Lending, untuk Bayar UKT hingga Penelitian

42 hari lalu

AFPI Sebut Mahasiswa Jadi Salah Satu Peminjam Dana Fintech Lending, untuk Bayar UKT hingga Penelitian

Mahasiswa disebut menjadi salah satu peminjam di fintech lending.

Baca Selengkapnya

DPRD DKI Jakarta Gelontorkan Rp 3 M untuk Seragam Dinas, Sekwan: Ada Pin Emas

57 hari lalu

DPRD DKI Jakarta Gelontorkan Rp 3 M untuk Seragam Dinas, Sekwan: Ada Pin Emas

DPRD DKI Jakarta kembali menggelontorkan anggaran miliaran untuk pengadaan baju dinas dan atributnya. Tahun 2024 bahkan anggarannya naik menembus Rp 3 miliar.

Baca Selengkapnya

Pastikan Dukung Hak Angket, NasDem: Menunggu Penghitungan Suara Selesai

58 hari lalu

Pastikan Dukung Hak Angket, NasDem: Menunggu Penghitungan Suara Selesai

NasDem memastikan bakal mendukung digulirkannya hak angket kecurangan pemilu di DPR. Menunggu momen perhitungan suara rampung.

Baca Selengkapnya

H+1 Pemilu, Bulog Salurkan Lagi Bansos Beras

15 Februari 2024

H+1 Pemilu, Bulog Salurkan Lagi Bansos Beras

Bayu Krisnamurthi memantau langsung penyaluran bansos beras di Kantor Pos Sukasari, Kota Bogor, Jawa Barat pada Kamis, 15 Februari 2024.

Baca Selengkapnya

Penjabat Bupati Banyuasin Sidak Pusat Pelayanan Terpadu Citra Grand City

12 Februari 2024

Penjabat Bupati Banyuasin Sidak Pusat Pelayanan Terpadu Citra Grand City

Hani Syopiar mengapresiasi tenaga kesehatan yang bertugas selama libur panjang.

Baca Selengkapnya

Urgensi Kontranarasi dari Film Dokumenter "Sexy Killer" dan "Dirty Vote"

12 Februari 2024

Urgensi Kontranarasi dari Film Dokumenter "Sexy Killer" dan "Dirty Vote"

Layaknya "Sexy Killer", "Dirty Vote" layak diacungi jempol. Substansi yang dihadirkan membuka mata kita tentang kecurangan dan potensi-potensi kecurangan elektoral secara spesifik, yang boleh jadi terlewat oleh kesadaran umum kita.

Baca Selengkapnya