Ratna - Galih, Cinta - Rangga, Milea - Dilan

Oleh

Film Dilan 1990. Tabloidbintang.com

DILAN 1990
Sutradara : Fajar Bustomi
Skenario : Titien Wattimena dan Pidi Baiq
Berdasarkan novel “Dialah Dilanku 1990” karya Pidi Baiq
Pemain : Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla, Refal Hady, Happy Salma, Ira Wibowo

Demam Dilan-Milea mencapai titik tertinggi. Setiap lima atau 10 tahun akan muncul film remaja, atau katakanlah drama SMA yang membuat remaja (puteri) terlena dan remaja (putera) mendadak berubah seperti protagonis dalam film yang sedang heboh itu.

Ali Topan, Gita Cita dari SMA, Ada Apa dengan Cinta, lantas secara global sempat ada fase kegandrungan serial Twilight (ini periode paling menyiksa), dan kini ada film Dilan yang ucapannya dikutip oleh berbagai kalangan, dari politikus hingga remaja puber.

Bahwa penonton membludak hingga berjuta-juta orang dan di antaranya adalah penonton yang mengaku menyaksikan berkali-kali adalah sesuatu yang selalu terjadi pada drama-drama SMA ini. Yang menarik, justru Dilan malah disukai mereka yang “sudah berusia lanjut”. Susana lokasi syuting film Dilan 1990. (Foto: Arsip Pribadi Fajar Bustomi/Tabloidbintang.com)

Meski saya belum mengadakan studi ilmiah sama sekali, siang itu bioskop yang saya datangi lebih banyak penonton berusia 30-an yang tampaknya ingin bernostalgia masa SMA mereka di tahun 1990-an.

Ceritanya? Tidak istimewa bahkan menuju pada zona klise. Seorang gadis cantik bernama Milea baru saja pindah ke SMA di Bandung dan seorang anak lelaki bandel bernama Dilan yang bermulut seperti mitraliur: cerdas, sedikit cerewet tapi lucu.

Bayangkan berapa banyak film remaja yang selalu saja dimulai dengan anak baru yang pindah sekolah? Gita Cinta dari SMA (versi lama maupun baru) pun dimulai dari kedatangan murid baru bernama Ratna Suminar yang kemudian menjadi perhatian Galih. Lantas Twilight juga dimulai dengan kedatangan murid baru bernama Bella ke sebuah SMA di kota kecil Fork.

Rupanya pola kedatangan murid baru ini jalan keluar termudah untuk memperkenalkan gejolak hormonal anak-anak SMA: rasa ingin tahu, proses pengejaran ,pacaran ,lantas hadangan (di tahun 1970-an dan 1980-an biasanya dihadang orang-tua, di masa kini halangan itu muncul dari anak-anak itu sendiri).

Jadi drama dalam cerita Dilan dan Milea sebetulnya datar saja, tanpa gejolak atau problem yang prinsipil. Kalem, lucu dan kadang sedikit norak karena tokoh Dilan memang sengaja membuat dirinya norak agar Milea bisa tersenyum. Setiap hari pasti saja ada ucapan yang konyol—yang kemudian membuat sebagian penonton menggelinjang dan sebagian lagi menghela napas sembari melirik jam tangan (kapan selesainya rangkaian rayuan gombal ini?)

Kalimat-kalimat yang dicurahkan Dilan pada si gadis manis melalui telepon umum itu tak hanya menunjukkan seorang remaja yang mabuk kepayang, tetapi —nah, ini tampaknya yang membuat penonton kejang-kejang— karena Dilan memperlihatkan dirinya seorang pelindung. “Jangan sampai ada yang menyakitimu. Kalau ada, dia akan hilang.”Cuplikan adegan film Dilan

Tampaknya gaya “lelaki yang melindungi pacar”, gahar, dan protektif itulah yang membuat penonton perempuan terbuai. Semoga perkiraan saya salah. Karena jika benar, ini seolah mengembalikan perempuan kembali ke posisi yang pasif dan lemah dan tanpa inisiatif.

Film Ada Apa dengan Cinta (Rudy Soedjarwo, 2002) justru meletakkan sosok Cinta sebagai subyek , misalnya: Cinta yang berinisatif menulis surat; Cinta yang mendatangi rumah Rangga karena Rangga sakit dan Cinta pula yang akhirnya menyatakan dia menyayangi Rangga). Jika tokoh Cinta sebagai protagonis perempuan diusung sebagai pembuat keputusan sesuai hati dan nalarnya sendiri; maka kini dalam film ini, adalah Dilan yang memegang kemudi.

Tentu saja saya sepakat tokoh-tokoh dalam jagat film itu masih muda dan masih akan berkembang. Tetapi sikap-sikap seperti inilah yang kemudian kelak menjustifikasi pembagian pekerjaan berdasarkan gender : perempuan harus di rumah saja, sementara lelaki adalah pencari nafkah.

Stereotip semakin kental ketika terkuak bahwa Dilan termasuk geng motor. Sebagai pembela kawan yang setia, ketika terjadi penyerangan terhadap salah satu kawannya, Dilan berubah beringas saat membela kawannya yang dihajar geng sebelah sana. Plot baru mulai menarik dan bergerak ketika Dilan ada pada dilema untuk menjadi jagoan bersama geng motornya atau menanggapi ancaman si pacar yang akan meninggalkannya jika Dilan ikut berkelahi.

Tetapi ketegangan yang sudah naik, turun kembali, karena tampaknya fokus film ini lebih pada cinta kedua remaja itu.
Bisa dibayangkan ketika Milea yang diganggu dan ditampar kawan Dilan , lantas apa yang terjadi dengan si penampar itu? Tentu saja Dilan menghajarnya menjadi bubur. Wong itu pacarnya.

Lagi-lagi, ini membuat saya tak nyaman karena Milea tampak jadi perempuan lemah. Lebih nyaman jika Milea bisa menabok balik si kawan cunihin itu dan Dilan tak perlu datang sebagai pahlawan. Tentu saja itu maunya saya.

Saya akan mencoba adil bahwa film ini memang lancar bercerita dan salah satu penyebabnya tentu saja karena skenario yang ditulis dengan rapi. Bahwa serangkaian dialog gombal yang terus menerus dimuncratkan dari mulut Dilan agaknya karena itulah bangunan karakter yang ingin disodorkan penulis novel maupun sutradara.

Apa boleh buat mungkin itu pula model lelaki remaja yang sedang disukai (bukankah saat meledaknya tokoh Cinta dan Rangga, mendadak saja banyak anak-anak SMA yang gemar menyitir puisi?). Cuplikan adegan film Dilan

Sebetulnya saya lebih tertarik mencari tahu, sebagai penonton yang belum membaca novelnya, apakah pernah ada sedikit latar belakang mengapa tokoh Dilan —yang datang dari keluarga yang asyik (Ibu yang mengenakan T-shirt Mick Jagger), adik kakak yang sama lucunya dengan Dilan— bisa menjadi remaja yang pemarah dan mudah muntab?

Itu akan lebih menarik dijelajahi daripada menyaksikan tigaperempat film yang berisi Dilan ngocol pada si pacar manis. Saya juga tertarik mengetahui mengapa Dilan mengutip dan menuliskan ucapan presiden AS Ronald Reagan yang Republikan di tembok kamarnya.

Tapi catatan kritis ini pasti sama sekali tidak mempengaruhi jumlah penonton, karena pada akhirnya penonton lebih memilih keinginannya sendiri. Sampai nanti lima atau tujuh tahun lagi, lahir pasangan remaja baru yang lebih seru, kosa kata Milea-Dilan akan mengisi ruang perbincangan keseharian penonton Indonesia.

LEILA S. CHUDORI






Tragedi Kemanusiaan Kanjuruhan

9 jam lalu

Tragedi Kemanusiaan Kanjuruhan

Penembakan gas air mata oleh polisi yang menyebabkan tragedi Kanjuruhan harus diusut.


Kolom The Outlaw Ocean Project: Profesi Ini Paling Maut Sekaligus Paling Kejam?

3 hari lalu

Kolom The Outlaw Ocean Project: Profesi Ini Paling Maut Sekaligus Paling Kejam?

Kejahatan, kekerasan, dan perbudakan di kapal penangkap ikan terus terjadi. Bagaimana cara mencegahnya?


Ribuan Peserta BPJS Ketenagakerjaan di Ternate Terima BSU Tahun 2022 Dari Presiden

4 hari lalu

Ribuan Peserta BPJS Ketenagakerjaan di Ternate Terima BSU Tahun 2022 Dari Presiden

Program BSU ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mempertahankan daya beli pekerja dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari


Dosa Jakarta di Kasus Korupsi Lukas Enembe

7 hari lalu

Dosa Jakarta di Kasus Korupsi Lukas Enembe

Kasus korupsi Lukas Enembe menyingkap kesalahan pemerintah pusat dan daerah. Salah urus, dana otonomi khusus gagal menyejahterakan warga Papua.


Dukung Anies Baswedan jadi Presiden 2024, Fahira Idris: Agar Indonesia juga Merasakan Lompatan Kemajuan

9 hari lalu

Dukung Anies Baswedan jadi Presiden 2024, Fahira Idris: Agar Indonesia juga Merasakan Lompatan Kemajuan

Fahira Idris meyakini Anies Baswedan bisa membawa Indonesia melakukan lompatan kemajuan.


Agar Anak Terlindung dari Kejahatan Seksual

14 hari lalu

Agar Anak Terlindung dari Kejahatan Seksual

Kasus kejahatan seksual terhadap anak merajalela. Selain menegakkan aturan, kampanye dan edukasi perlu digencarkan untuk membangun kesadaran masyarakat.


Bjorka: Antara Dendam dan Ketahanan Keamanan Siber Indonesia

18 hari lalu

Bjorka: Antara Dendam dan Ketahanan Keamanan Siber Indonesia

Aksi Bjorka tentu membuat lalu lintas perbincangan publik menjadi riuh, dari ruang istana, universitas, hingga warung kopi. Bjorka berhasil memecah ombak berbagai isu kejahatan yang sedang terjadi di negara ini.


Nasehat Sederhana untuk Pemerintah, Jangan Pernah Menyusahkan Hidup Rakyat

21 hari lalu

Nasehat Sederhana untuk Pemerintah, Jangan Pernah Menyusahkan Hidup Rakyat

Cerita Revolusi Perancis, Revolusi Amerika, Revolusi Kemerdekaan, dan Revolusi lainnya, berawal dari rasa bosan dan jijik rakyat kepada kekuasaan yang sudah mulai melupakan akarnya.


Peretasan Bjorka: Kalang Kabut Atasi Kebocoran Data

21 hari lalu

Peretasan Bjorka: Kalang Kabut Atasi Kebocoran Data

Aksi peretasan Bjorka memberi pesan kelemahan sistem teknologi dan informasi pemerintah Indonesia. Darurat perlindungan data pribadi.


Di Balik "Amplop Kiai"

26 hari lalu

Di Balik "Amplop Kiai"

Sudah bukan rahasia, konflik terbuka itu merupakan buntut dari pernyataan tentang "amplop kiai" yang disampaikan Sumo saat acara Pembekalan Politik Cerdas Berintegritas di KPK beberapa waktu lalu. Protes keras terhadap Ketua Umum yang juga Meneg PPN dan Kepala Bappenas itu sudah bergulir dalam beberapa pekan terakhir.