Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Gilead, Fantasi yang Berada di Depan Mata

image-profil

Oleh

image-gnews
Serial Handmaid's Tale. Ew.com
Serial Handmaid's Tale. Ew.com
Iklan

Gilead, sebuah neraka  bagi mereka yang percaya pada kebebasan dan kemanusiaan. Inilah sebuah jagat yang pada masa lalu dikenal sebagai bagian dari AS. Kawasan New England, AS  menjelma menjadi Gilead melalui sebuah ‘revolusi’ di mana perempuan diperlakukan sebagai ternak penghasil keturunan; dipaksa berseragam; dilarang membaca; dilarang memperoleh pendidikan  apalagi bersuara dan beropini dan kehidupan sehari-harinya dibatasi oleh polisi rahasia yang disebut “Eye”.

Sastrawan Margaret Atwood menciptakan jagat dystopian ini dalam novel yang terbit tahun 1985 lalu. Novel ini, bagi saya, melebihi kekuatan novel ‘1984’ karya George Orwell; sebuah novel yang seolah menjadi sebuah ‘ramalan’ tentang sebuah masyarakat yang perlahan-lahan tercerabut dari kemanusiaannya dengan menggunakan agama sebagai justifikasi.

Gilead, masyarakat baru ini dipimpin oleh serangkaian komandan berdasarkan penafsiran kitab yang sangat harafiah dan ekstrim sebagai justifikasi menyelenggarakan pemerintahan.  Gilead terbangun di atas tanah yang penuh darah. Para pemimpin dan komandan seolah menarik masyarakatnya kembali ke abad kegelapan.

Justifikasi yang digunakan para Komandan— demikian nama dewan pimpinan Gilead--adalah karena di ‘masa modern’ angka fertilitas yang jatuh mendekati nol dan polusi udara yang semakin memburuk akibat keserakahan kapitalisme. Itu dua dari sekian alasan bagi kaum konservatif untuk mengambil alih pemerintahan. Perang saudara antar kaum konservatif dan liberal dimenangkan oleh kaum konservatif ini adalah sebuah kenyataan yang dihadapi berbagai negara masa kini.

Perubahan pertama yang terjadi adalah pembersihan kaum cendekia, homoseksual, pemimpin agama dan pemberontak. Para perempuan secara brutal ditundukkan dengan undang-undang yang tak mengijinkan perempuan memiliki atau memperoleh tanah, properti, uang, dan pendidikan. 

Pada episode-episode awal kita akan berkenalan dengan sebuah sistem kelas yang memperlihatkan betapa masyarakat baru ini bukan hanya sekedar opresif dan militeristik, tetapi sudah mencapai pada ekstrimitas yang mengerikan. Para perempuan kelas atas –yang rata-rata sudah mandul—adalah isteri para komandan yang harus mengenakan seragam biru, bertugas mengurus rumah tangga. Merekapun sama opresifnya seperti para Komandan. 

Sementara, para perempuan yang masih subur dinamakan Handmaiden yang ‘dipekerjakan’ pada  salah satu rumah tangga pasangan Komandan dan isterinya. Para handmaiden mengenakan baju merah dengan topi besar putih yang membuat mereka hanya boleh menatap lurus ke depan atau menunduk. Setiap bulan pada saat subur, Komandan akan memperkosa handmaiden –adegan yang paling nyeri, karena perkosaan itu terjadi dengan bantuan sang isteri. Sang isteri duduk memegangi handmaiden dengan dua kaki melebar dan sang suami memperkosa sang ‘mesin penghasil anak’.

Para guru atau trainer disebut “aunt” atau bibik; sedangkan para tukang masak disebut “Martha”. Mereka semua mengalami opresi dari atasannya dan pada gilirannya setiap kelas menginjak kelas di bawahnya. Semua digambarkan dengan dingin dan mengerikan hingga menyentuh syaraf. Perlawanan? Tentu saja ada. Tetapi mereka yang berani yang melawan bukan hanya sekedar disetrum atau disabet atau diculik para polisi rahasia, tetapi bisa saja matanya dicungkil atau salah satu tangan dipotong. Paling parah jika dibuang ke Koloni, tempat golongan paling rendah diasingkan.

Di dalam negara terror ini kita berkenalan dengan June Osborne (Elizabeth Moss) yang pada masa lalu sudah mempunyai suami dan anak. Di masa Gilead, June diculik dan dipaksa menjadi obyek perkosaan bulanan Komandan Fred Waterford (Joseph Fiennes) dengan bantuan sang isteri Serena Joy (Yvonne Strahovski). Nama June berubah menjadi Offred (sesuai dengan nama Komandan tempat June ‘bekerja’).

Satu-satunya kebebasan yang dimiliki June adalah pikirannya. Melalui voice-over, kita mengikuti bagaimana perasaan June sesungguhnya; bagaimana dia mencoba sebisanya tidak melanggar peraturan yang begitu ketat tetapi sesekali masih berbincang sebisanya –sembari memendam perasaan—pada Nick Blaine (Max Minghella) supir Komandan Waterford.

Kita diperkenalkan pada keseharian para handsmaid, yakni berbelanja ke sebuah pasar besar yang sama sekali tak menyajikan tulisan teks atau harga barang, melainkan hanya gambar. Ini adalah salah satu upaya agar perempuan tak perlu membaca. Pada acara belanja inilah para handsmaid akan saling bertemu dan mencoba diam-diam saling bertukar informasi.

Salah satu kawan June adalah Ofglen (Alexis Bledel) yang di masa lalu bernama Emily, seorang perempuan yang sudah menikah dengan perempuan lain. “Sebetulnya saya akan dihukum mati,” kata Emily/Ofglen kepada June, “tetapi karena saya masih subur, mereka tetap menggunakan saya,” katanya sembari mengajak June untuk bergabung dalam sebuah perkumpulan perlawanan di bawah tanah bernama Mayday.

Serial ini bukan hanya tegang, menakutkan, mengerikan tetapi mengirim rasa khawatir dan sakit karena begitu banyak kejadian yang sebetulnya fiktif tapi terasa nyata. Bahwa perempuan dianggap sebagai mesin industri keturunan belaka dan segala gerak geriknya dibatasi hingga pendidikanpun dijauhkan darinya adalah hal-hal yang memang terjadi di belahan bumi lain. Bahwa orientasi seksual dianggap sebagai “gender betray” (pengkhianatan gender) dan mendapatkan ancaman hukum mati.  Ini sesuatu yang sudah terjadi di negara-negara Barat di awal abad 20, misalnya aktivis Roger Casement yang dihukum gantung karena ‘berkhianat’ kepada kerajaan Inggris dan belakangan diketahui orientasi seksualnya. Di Indonesia, masyarakat dan negara sudah mulai terlihat sikapnya terhadap homoseksual.

Di dalam serial ini, cinta nyaris tak ditampilkan kecuali dalam bentuk kilas balik ketika Gilead masih berbentuk Amerika yang “wajar” dan kita kenal. Kalaupun terjadi hubungan seks berdasarkan rasa suka, sudah pasti itu terjadi secara diam-diam, penuh rasa takut sekaligus menjadi katarsis. 

Elizabeth Moss dan Alexis Bledel menampilkan seni akting yang luar biasa, dan keduanya diberi ganjaran piala Emmy tahun lalu.  Ann Dowd sebagai Bibik Lydia adalah  sosok yang sangat kompleks dan ditampilkan dengan luar biasa. Bibik Lidya adalah perempuan yang keji dan mengerikan pada saat suaranya menggelegar memberikan aba-aba serta memberi hukuman, tetapi pada saat lain dia bisa jatuh kasihan pada salah satu Handsmaid asuhannya. Dia percaya, Gilead adalah sistem kenegaraan yang tepat dan baik, dan dia adalah ujung tombak yang akan selalu mendukung kekejian demi ‘kebaikan’ itu.

Elizabeth Moss dan juga Bruce Miller sebagai kreator serial ini berhasil memenangkan Golden Globe Award untuk kategori Drama yang  baru saja diumumkan dan mereka memang sangat pantas memperolehnya.

The Handmaid’s Tale mungkin sebuah kisah fantasi. Tetapi jangan terkejut jika inilah kisah fiktif yang paling nyata yang sebetulnya perlahan tengah menggerayang ingin menguasai kehidupan kita. Margaret Atwood sebagai penulis novel (dan konsultan produksi serial ini), menurut saya adalah ‘peramal’ yang sungguh tajam.

 

THE HANDMAID’S TALE

Kreator : Bruce Miller

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Berdasarkan novel karya Margaret Atwood dengan judul yang sama

Pemain : Elisabeth Moss, Joseph Fiennes, Alexis Bleidel, Max Minghella

LEILA S. CHUDORI

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

22 jam lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

14 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

15 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

15 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

16 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

22 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

41 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

50 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024