Jumat, 20 Juli 2018

Gary Oldman dalam Tubuh Churchill

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Darkest Hour. rogerebert.com

    Darkest Hour. rogerebert.com

    We Shall Never Surrender”

    Kalimat yang kini menjadi sebuah kalimat historis  yang membakar para anak-anak muda yang bergabung dengan Inggris melawan Nazi Jerman. Saat itu, tentu saja mereka tak tahu Nazi akan menemukan nasib buruknya. Pasukan militan yang mengerikan itu sudah mengalahkan  negara-negara penting di Eropa. Belgia sudah rontok dan  Nazi menguasai sebagian Prancis.  Itali  sudah menyodor-nyodorkan diri untuk menjadi penengah bagi Inggris  dan Jerman. Di bulan Mei 1940, Sekutu tampak di tepi kekalahan.

    Adalah Winston Churchill yang mengucapkan kalimat itu. Di dalam film terbaru sutradara Joe Wright ini, kalimat itu tampaknya bukan hanya untuk perlawanan terhadap Nazi, tetapi justru untuk para penentang Chruchill di dalam lingkaran politik Inggris. Peperangan dalam film ini ternyata lebih menggambarkan peperangan intrik di dalam politik  Inggris yang berisik itu untuk memutuskan bagaimana caranya menghadapi orang edan bernama Hitler yang sudah merangsek seluruh Eropa.

     Sosok besar Perdana Menteri Churchill sudah puluhan kali ditampilkan melalui berbagai aktor, antara lain Brian Cox dalam film “Churchill” dan yang masih ditayangkan adalah Churchill versi John Lithgow dalam serial Netflix “The Crown”. Kali ini Gary Oldman memangku tugas berat itu.

    Churchill dalam film Darkest Hour menyorot dengan intens saat-saat Churchill  diangkat menjadi Perdana Menteri sebagai ‘pilihan terpaksa’. Di dalam partainya dia dibenci, karena lidahnya yang terkenal tajam. Meski insting Churchill tentang Adolf Hitler memang tepat –bahwa Hitler adalah binatang buas yang mengancam kemanusiaan – tetapi pimpinan Churchill yang menggantikan Neville Chamberlain diterima dengan gerutuan dan ketidakrelaan.

    Potongan film Darkest Hour. telegraph.co.uk

    Seperti film Lincoln (Stephen Spielbirg, 2012) yang betul-betul menyorot hari-hari Lincoln memperjuangkan undang-undang anti perbudakan, film Darkest Hour juga hanya terfokus pada bagaimana Churchill harus menangkis dan melawan ‘musuh-musuh’ dalam negerinya sendiri, dan juga beberapa peragu dan pembencinya di beberapa negara Eropa lain. Setiap hari berganti, dengan menunjukan perubahan tanggal, kita melihat Gary Oldman dalam jubah dan riasan prosthetic yang telah menyulapnya menjadi Perdana Menteri tambun yang kita kenal. Musuh di dalam lingkarannya adalah Menteri Luar Negeri  Lord Halifax (Stephen Dillane) dan bekas Perdana Menteri Neville Chamberlain (Neville Chamberlain). Keduanya yakin Sekutu sudah kalah dan satu-satunya jalan keluar adalah negosiasi dengan Jerman melalui makelar Itali.

    Sutradara Joe Wright sengaja tak mevisualisasikan  adegan legendaris Dunkirk bukan saja karena itu sudah digambarkan dengan luar biasa oleh Christopher Nolan dalam film Dunkirk (2017) ,tetapi karena Wright sendiri sudah menampilkan adegan panjang itu dalam karyanya sendiri, film Atonement  (2007). Yang penting bagi Wright adalah menunjukkan bagaimana Churchill harus berdebat keras untuk menyelamatan 350 ribu anggota pasukan yang terdampar dengan mengorbankan pasukan lain di Calais. Bagaimana dia mendapatkan ide agar mengirim kapal-kapal kecil milik warga sipil untuk menjemput pasukannya.

    Yang paling penting di sini bukan lagi plot, karena sejarah sudah menunjukkan sekutu akhirnya memenangkan perang besar ini, melainkan bagaimana Gary Oldman menyandang dan membawa cerita ini sejak awal hingga akhir. Jika pada tubuh aktor lain Churchill lebih kita kenal sebagai pimpinan yang galak, penuh gerutu, agak manipulatif (ingat bagaimana dia menyembunyikan penyakitnya dari publik dan dari sang Ratu) , maka tampaknya sutradara Joe Wright ingin memotret sisi lain Churchill.

    Pada 30 menit pertama, film ini nyaris tak berjarak dengan komedi karena Churchill selalu menyemprot kalimat yang cerkas, lucu dan menggelikan. Oldman membawa kompleksitas karakter itu dengan luar biasa.

    Churchill yang penuh kasih pada isteri dan anak-anaknya (dia selalu merayu isterinya jika Clemmy –demikian dia memanggilnya—sudah mulai jengkel); memahami sekretarisnya; membentak lawan politiknya dan berpura-pura memberi izin pada Lord Halifax untuk bernegosiasi dengan Jerman melalui Italia hanya untuk mengulur waktu belaka.

    Potongan film Darkest Hour. windonadvertiser.co.uk

    Dalam film ini, ada sebuah adegan fiktif di mana Churchill mengendarai kendaraan metro bawah tanah untuk mencari tahu apa perasaan warga sipil tentang ancaman Nazi yang sudah di hadapan gerbang mereka. Jawaban mereka adalah sebuah dorongan yang dibutuhkan (sebuah film) agar dia bisa berdiri dengan gagah perkasa di hadapan parlemen membela keputusannya untuk melawan Jerman.

    Pada dasarnya, meski di permukaan Churchill memperlihatkan keraguan, sesungguhnya dia adalah perwujudan dari kalimat “we shall never surrender”.  Pidatonya pada akhir film yang kemudian menjadi salah satu pidato paling legendaris dan yang paling sering dikutip. “I have nothing to offer but blood, toil, tears, and sweat," demikian Churchill menggelegar di hadapan parlemen.

    Demikian juga ketika Churchill mengucapkan “kita akan bertempur di Prancis, di samudera, lautan; kita akan bertempur dan memebla pulau-pulau milik kita, kita akan bertempur di pantai di daratan….” Tak ada lagi yang mencoba menggusur sang Perdana Menteri, karena pada saat yang kritis memang dialah yang dibutuhkan.

    Gary Oldman pantas memperoleh penghargaan Golden Globe sebagai Aktor Terbaik dan tampaknya jalan sudah terbuka untuk Academy Award bulan Maret nanti.

    DARKEST HOUR

    Sutradara: Joe Wright

    Skenario: Anthony McCarten

    Pemain:  Gary Oldman, Kristin Scott Thomas, Lily James

    LEILA S. CHUDORI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anggota Tim Sukses Sudirman Said Dituduh Membawa Uang Narkotik

    Ian Lubis, anggota tim sukses calon gubernur Jawa Tengah Sudirman Said, disergap polisi dengan tuduhan membawa uang narkotik senilai Rp 4,5 miliar.