Dominasi Situs-situs Radikal

Penulis

Dirga Maulana

Kamis, 15 Maret 2018 01:54 WIB

Identitas anggota grup penyebar berita hoax MCA ditunjukkan dalam rilis di Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Jakarta, 28 Februari 2018. Tugas dari MCA ialah menyerang akun lawan dengan menyebar virus-virus hingga gawai milik lawan rusak dan menstrategikan isu baru untuk lawan. TEMPO/Amston Probel

Dirga Maulana
Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta

Internet telah mengubah pola konsumsi generasi milenial terhadap informasi agama. Mereka dulu biasanya mendapatkannya melalui media cetak, seperti buku, majalah, dan jurnal, serta pengajian-pengajian dari ustad maupun mubalig. Kini mereka bermigrasi ke media-media konvergensi yang lebih instan dan kerap menyajikan konten secara parsial. Internet menjadi alat pencarian informasi agama secara sporadis.

Fenomena ini sejatinya penanda bahwa ada pola interaksi sosial dan pembicaraan agama lewat kanal-kanal baru, yang menyampaikan pesan, propaganda, serta penyebaran paham-paham radikal dan ekstrem agama. Ruang baru tersebut bukan sekadar alat, melainkan keniscayaan bagi generasi milenial.

Radikalisme dalam situs dan media sosial menjadi persoalan pelik karena tiga sebab. Pertama, media itu saluran komunikasi baru. Kedua, jangkauannya sangat luas dan melewati batas-batas negara. Ketiga, ia mampu mempengaruhi seseorang dengan sangat efektif.

Penelitian Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSBPS) Universitas Muhammadiyah Surakarta bersama Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta menemukan bahwa situs organisasi Islam arus utama (NU Online dan Suara Muhammadiyah) kerap memproduksi narasi-narasi yang menekankan pentingnya integrasi umat, pesan yang menyejukkan, dan membawa pesan Islam yang rahmat bagi semua.

Advertising
Advertising

Adapun situs organisasi Islam kontemporer (Hidayatullah.com dan Suara Islam) menarasikan persoalan kelompok dan cenderung diam pada fenomena radikalisme agama. Sedangkan situs organisasi Islam non-afiliasi (Eramuslim.com dan VOA-Islam.com) kerap memproduksi narasi-narasi yang mendukung sikap serta tindakan radikal (PSBPS & PPIM, 2017).

Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa situs-situs organisasi Islam non-afiliasi itulah yang paling populer di kalangan warganet Indonesia. Ini bisa kita lihat dari persentase jumlah pengunjung selama Juli-September 2017. Misalnya, total pengunjung Eramuslim.com sekitar 9,5 juta lebih, Islam.id 8,3 juta lebih, dan VOA-Islam.com 5 juta lebih. Bandingkan dengan pengunjung NU Online yang 6,5 juta lebih dan Suara Muhammadiyah sekitar 388 ribu lebih.

Eramuslim dan VOA-Islam kerap menulis judul yang mengajak sikap intoleransi dan ujaran kebencian. Mereka menulis judul seperti "Media Kufar Bakal Juluki Al-Mahdi Teroris", "Indonesia Butuh Diktator yang Beriman", "Yahudi Zionis, Biang Kerusakan Dunia", "Muslim Lemah Dibantai di Rohingnya, Masih Tak Mau Jihad?", "Kewajiban Mempersiapkan Fisik untuk Berjihad". Mereka juga mengelola situsnya dengan sangat serius untuk menyampaikan pesan-pesan ideologisnya kepada pembaca.

Meminjam teori jarum hipodermik David K. Berlo, hal itu digambarkan sebagai sebuah peluru yang memasuki pikiran khalayak dan menyuntikkan beberapa pesan khusus. Artinya, situs-situs radikal diibaratkan sebagai obat yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah warganet kemudian warganet akan beraksi seperti yang diharapkan.

Hal tersebut terbukti dengan, misalnya, bagaimana terpidana terorisme Aman Abdurrahman menuliskan narasi-narasi Islam melalui blog Millahibrahim.com dari balik jeruji penjara. Dari tulisan tersebut, Aman sangat dikagumi banyak pengikutnya, bahkan ada yang terinspirasi setelah membaca blognya.

Kasus serupa terjadi di Irak. Tokoh Al-Qaidah, Abu Musab Al-Zarqawi, sangat mahir dalam menggunakan Internet. Dia mengunggah rekaman bom di pinggir jalan, pemenggalan kepala sandera, serta rekaman diplomat Mesir dan Aljazair yang telah mereka culik sebelum dieksekusi.

Sebagian besar proses radikalisasi terhadap anak muda milenial dalam jaringan online ini berlangsung sangat efektif dan cepat. Charlie Winter mengungkapkan bahwa Internet dan media sosial bagaikan "masjid radikal" tempat teroris menyebarkan narasi untuk mencari simpatisan serta merekrut pengguna Internet dan media sosial.

Berdasarkan hal tersebut, pemerintah harus memperhatikan pentingnya pengutamaan Islam sebagai agama kemanusiaan dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Literasi media di tingkat sekolah, baik oleh guru maupun siswa, harus diperkuat. Pemerintah juga harus mendorong dan memfasilitasi situs-situs Islam moderat dalam memproduksi konten-konten moderat dengan memberi dana hibah maupun pelatihan jurnalistik. Dengan begitu, dakwah-dakwah Islam di Internet maupun media sosial akan lebih menyejukkan.

Berita terkait

Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

6 hari lalu

Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.

Baca Selengkapnya

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

27 hari lalu

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.

Baca Selengkapnya

Hibah untuk Keberlanjutan Media yang Melayani Kepentingan Publik

35 hari lalu

Hibah untuk Keberlanjutan Media yang Melayani Kepentingan Publik

Tanggung jawab negara dalam memastikan jurnalisme yang berkualitas di Tanah Air perlu ditagih.

Baca Selengkapnya

AFPI Sebut Mahasiswa Jadi Salah Satu Peminjam Dana Fintech Lending, untuk Bayar UKT hingga Penelitian

39 hari lalu

AFPI Sebut Mahasiswa Jadi Salah Satu Peminjam Dana Fintech Lending, untuk Bayar UKT hingga Penelitian

Mahasiswa disebut menjadi salah satu peminjam di fintech lending.

Baca Selengkapnya

DPRD DKI Jakarta Gelontorkan Rp 3 M untuk Seragam Dinas, Sekwan: Ada Pin Emas

54 hari lalu

DPRD DKI Jakarta Gelontorkan Rp 3 M untuk Seragam Dinas, Sekwan: Ada Pin Emas

DPRD DKI Jakarta kembali menggelontorkan anggaran miliaran untuk pengadaan baju dinas dan atributnya. Tahun 2024 bahkan anggarannya naik menembus Rp 3 miliar.

Baca Selengkapnya

Pastikan Dukung Hak Angket, NasDem: Menunggu Penghitungan Suara Selesai

55 hari lalu

Pastikan Dukung Hak Angket, NasDem: Menunggu Penghitungan Suara Selesai

NasDem memastikan bakal mendukung digulirkannya hak angket kecurangan pemilu di DPR. Menunggu momen perhitungan suara rampung.

Baca Selengkapnya

H+1 Pemilu, Bulog Salurkan Lagi Bansos Beras

15 Februari 2024

H+1 Pemilu, Bulog Salurkan Lagi Bansos Beras

Bayu Krisnamurthi memantau langsung penyaluran bansos beras di Kantor Pos Sukasari, Kota Bogor, Jawa Barat pada Kamis, 15 Februari 2024.

Baca Selengkapnya

Penjabat Bupati Banyuasin Sidak Pusat Pelayanan Terpadu Citra Grand City

12 Februari 2024

Penjabat Bupati Banyuasin Sidak Pusat Pelayanan Terpadu Citra Grand City

Hani Syopiar mengapresiasi tenaga kesehatan yang bertugas selama libur panjang.

Baca Selengkapnya

Urgensi Kontranarasi dari Film Dokumenter "Sexy Killer" dan "Dirty Vote"

12 Februari 2024

Urgensi Kontranarasi dari Film Dokumenter "Sexy Killer" dan "Dirty Vote"

Layaknya "Sexy Killer", "Dirty Vote" layak diacungi jempol. Substansi yang dihadirkan membuka mata kita tentang kecurangan dan potensi-potensi kecurangan elektoral secara spesifik, yang boleh jadi terlewat oleh kesadaran umum kita.

Baca Selengkapnya