Ujian Nasional Berbasis Komputer

Penulis

Selasa, 14 April 2015 03:41 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Darmaningtyas, pengamat pendidikan

Setidaknya, ada dua hal mendasar yang membedakan ujian nasional (UN) 2015 dengan UN tahun-tahun sebelumnya. Pertama, mulai 2015, hasil UN tidak menjadi penentu kelulusan, melainkan sebagai sarana pemetaaan kualitas pendidikan saja, sedangkan kelulusan diserahkan sepenuhnya kepada sekolah, karena sekolahlah yang lebih paham akan perkembangan murid. Kedua, diperkenalkannya UN berbasis komputer atau disebut computer-based test (CBT), sehingga tidak semua UN dikerjakan dalam lembar kertas.

Banyak orang—awalnya termasuk penulis sendiri—mengira CBT ini sama dengan UN daring (online), sehingga muncul kekhawatiran banyak pihak soal gangguan dari para hacker (peretas). Tapi ternyata CBT ini bukan UN online, hanya berbasis komputer saja. Pengertian online itu selalu terkoneksi dengan jaringan Internet yang luas, sehingga dapat diakses oleh banyak pihak dari mana saja. Sedangkan CBT hanya terkoneksi dengan server di sekolah itu, tidak dengan jaringan Internet secara luas sehingga tidak perlu dikhawatirkan akan diganggu oleh peretas.

CBT sebetulnya sudah dilaksanakan sejak 2014. Hanya, saat itu baru khusus untuk sekolah-sekolah Indonesia yang di luar negeri. Namun pada 2015 UN komputer dicoba diterapkan pada 585 sekolah sebagai rintisan dari total 79.429 SMP/SMA/SMK yang ada.

Secara konseptual, CBT bermanfaat meningkatkan mutu, fleksibilitas, dan untuk keandalan UN karena meminimalkan praktek menyontek. Dari segi waktu, pelaksanaan ujian dapat dilakukan secara bergiliran; memperlancar proses pengadaan UN karena tidak perlu mencetak dan mendistribusikan soal yang memerlukan waktu dan biaya besar; serta memberikan hasil yang lebih cepat dan detail kepada siswa, orang tua, dan sekolah.

UN berbasis komputer ini sesungguhnya hanya mengakomodasi perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang ada di masyarakat. Anak-anak sejak usia SD telah banyak yang mengenal smartphone. Hanya, selama ini produk teknologi tersebut lebih banyak berfungsi rekreatif, lalu oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dimanfaatkan untuk lebih produktif, yaitu untuk mengerjakan soal UN.

Memang diperlukan persyaratan tertentu untuk dapat melaksanakan CBT ini, antara lain jaringan listrik yang andal, rasio jumlah komputer dengan siswa 1:3, serta memiliki guru IT. Tapi yang tidak kalah penting adalah kesiapan mental guru maupun murid. Infrastruktur fisik lengkap namun kalau mental guru dan murid tidak siap, juga tidak bisa dilaksanakan.

Sebagai rintisan, tidak terelakkan bahwa ada masalah dalam pelaksanaan CBT, terutama menyangkut soal keandalan jaringan listrik dan komputer. Kasus tertundanya uji coba CBT di Kota Tangerang (6 April 2015) lalu adalah contohnya. Tapi hambatan tersebut tidak boleh mengendurkan semangat memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai sarana tes akhir.

Namun UN berbasis komputer tak harus dipaksakan. Di perkotaan Jawa yang listriknya jarang mati, UN berbasis komputer mungkin dapat dilaksanakan di banyak sekolah, tapi di daerah-daerah luar Jawa yang listriknya sering biarpet, tentu CBT tidak bisa dilaksanakan. Dengan kata lain, kunci sukses CBT bergantung pada sinergi Kemendikbud serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.


UN

Berita terkait

Mengenal ANBK, Apa Bedanya dengan Ujian Nasional?

24 Agustus 2022

Mengenal ANBK, Apa Bedanya dengan Ujian Nasional?

Kemendikbudristek menginisiasi Asesmen Nasional Berbasis Komputer atau ANBK untuk SD, SMP, dan SMA sederajat sebagai pengganti Ujian Nasional (UN).

Baca Selengkapnya

KPAI Usulkan Soal UN untuk Sekolah Darurat Dibedakan

9 Januari 2019

KPAI Usulkan Soal UN untuk Sekolah Darurat Dibedakan

KPAI juga meminta kebijakan pembedaan soal UN diberlakukan untuk para siswa yang pindah sekolah akibat bencana di wilayahnya.

Baca Selengkapnya

Hasil Analisis UN Diharapkan Bisa Mendongkrak Mutu Pendidikan

18 April 2018

Hasil Analisis UN Diharapkan Bisa Mendongkrak Mutu Pendidikan

Hasil telaah akan digunakan untuk mendiagnosa topik-topik yang harus diperbaiki di setiap sekolah untuk setiap mata pelajaran.

Baca Selengkapnya

Mendikbud Tanggapi Soal UN Matematika yang Dianggap Sulit

18 April 2018

Mendikbud Tanggapi Soal UN Matematika yang Dianggap Sulit

Soal UN SMA mata pelajaran matematika membuat gaduh para siswa karena dinilai terlalu sulit dan tak pernah diajarkan.

Baca Selengkapnya

Soal HOTS yang Bikin Gaduh Peserta UN SMA

14 April 2018

Soal HOTS yang Bikin Gaduh Peserta UN SMA

Peserta Ujian Nasional atau UN tingkat SMA mengeluhkan soal yang tak sama dengan kisi-kisi. Soal UN yang dikeluhkan kebanyakan adalah matematika.

Baca Selengkapnya

UN SMP 2018, Kementerian Pendidikan: Soal Berbentuk Esai

15 Juni 2017

UN SMP 2018, Kementerian Pendidikan: Soal Berbentuk Esai

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan soal ujian nasional (UN) tingkat sekolah menengah pertama pada 2018 tidak lagi berbentuk pilihan ganda, melainkan esai.

Baca Selengkapnya

USBN SD, Menteri Pendidikan: Ujian Itu Penting, tapi Utamakan Kejujuran

16 Mei 2017

USBN SD, Menteri Pendidikan: Ujian Itu Penting, tapi Utamakan Kejujuran

Menteri Muhadjir meminta guru terus menanamkan semangat integritas kepada anak-anak sebagai penerus bangsa untuk memperkuat rasa nasionalisme.

Baca Selengkapnya

UNBK SMP, Ombudsman Temukan 16 Indikasi Kesalahan

5 Mei 2017

UNBK SMP, Ombudsman Temukan 16 Indikasi Kesalahan

Ombudsman Bidang Penyelesaian Laporan Ahmad Suaedy menerima laporan sejumlah maladministrasi selama UNBK.

Baca Selengkapnya

Konvoi Hasil UN SMA di Klaten Brutal, Polisi Dalami Dugaan Klitih  

2 Mei 2017

Konvoi Hasil UN SMA di Klaten Brutal, Polisi Dalami Dugaan Klitih  

Kepolisian Resor Klaten mendalami dugaan adanya keterlibatan kelompok klitih dalam konvoi pelajar yang melakukan aksi brutal di sejumlah wilayah, hari ini.

Baca Selengkapnya

Depok Klaim Kota Pertama UNBK 100 Persen di Jawa Barat

2 Mei 2017

Depok Klaim Kota Pertama UNBK 100 Persen di Jawa Barat

Akibat keterbatasan ruangan, beberapa SMP menumpang di sekolah lain.

Baca Selengkapnya