Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Solusi Tanggung Subsidi Energi

image-profil

Tempo.co

Editorial

image-gnews
Rice Cooker, alat yang dirancang untuk menanak ataupun menghangatkan nasi. (Shutterstock)
Rice Cooker, alat yang dirancang untuk menanak ataupun menghangatkan nasi. (Shutterstock)
Iklan

Editorial Tempo.co

---

Dalam urusan subsidi energi, pemerintah sudah menyerupai kancil. Banyak betul akalnya dalam membuat kebijakan. Hanya saja, tidak seperti kancil yang cerdik, langkah pemerintah serba tanggung dan tidak jelas arahnya.

Lihat saja program terbaru soal bagi-bagi penanak nasi listrik untuk masyarakat miskin. Pemerintah berencana membagikan 680 ribu unit penanak nasi listrik atau rice cooker tahun depan. Program ini diklaim mendukung pemanfaatan energi bersih, meningkatkan konsumsi listrik per kapita, hingga menghemat ongkos memasak bagi masyarakat.

Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, yang menggagas program ini, menanak nasi dengan rice cooker lebih hemat ketimbang menggunakan kompor liquefied petroleum gas (LPG) 3 kilogram. Dalam paparannya, program rice cooker gratis ini disebut bisa mengurangi volume pemakaian LPG 3 kg hingga 19.600 ton atau menghemat subsidi energi Rp 52,2 miliar per bulan.

Untuk lebih meyakinkan publik, kementerian yang dipimpin Arifin Tasrif ini bahkan sampai membuat hitungannya. Menanak nasi dengan kompor gas disebutkan membutuhkan konsumsi energi sebanyak 2,4 kilogram per bulan. Total biayanya Rp 16.800. Sedangkan biaya menanak nasi dengan rice cooker hanya Rp 10.396 per bulan. Konsumsi energinya 5,25 kilowatt-jam (kWh). Walhasil, ada penghematan sebesar Rp 6.404 per bulan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Niat pemerintah ini sesungguhnya baik. Subsidi LPG 3 kg terus melonjak tanpa terbendung—tahun ini dianggarkan mencapai Rp134 triliun. Hampir semua rumah tangga, sekitar 80 persen, menggunakan LPG 3 kg. Padahal, gas subsidi tersebut seharusnya hanya untuk rumah tangga tidak mampu.

Rencana mengalihkan sumber energi untuk dapur rumah tangga miskin dari gas ke listrik sudah tepat. Dibandingkan subsidi LPG 3 kg yang tidak terkendali, subsidi listrik bisa tepat sasaran karena langsung diberikan kepada keluarga miskin yang berhak dalam bentuk tarif khusus untuk pelanggan Perusahaan Listrik Negara 450 VA dan 900 VA.

Tapi untuk itu, pemerintah semestinya membuat program yang masuk akal untuk mendorong rumah tangga penerima subsidi beralih menggunakan listrik untuk memasak. Sambil, di sisi lain, subsidi LPG 3 kg dihentikan.

Sebenarnya pemerintah sudah punya program yang bagus yakni konversi kompor gas ke kompor induksi bagi keluarga pengguna listrik 450 VA yang diluncurkan pemerintah beberapa waktu lalu. Untuk program tersebut, melalui Perusahaan Listrik Negara pemerintah membagikan kompor induksi dan alat masak secara gratis dan menaikkan daya listrik keluarga penerima subsidi tanpa biaya. Sembari itu, subsidi LGP 3 kg akan dikurangi secara bertahap. Uji coba di beberapa kota berhasil baik. Mayoritas rumah tangga miskin yang menjadi target dengan senang hati beralih karena pengeluaran bulanan mereka untuk energi menjadi lebih murah. Anehnya, pemerintah menghentikan program bagus tersebut dan sekarang malah mencanangkan program bagi-bagi penanak nasi elektrik yang tidak jelas arahnya.

Pemerintah berencana membagi dua jenis rice cooker yakni yang berdaya listrik 200 watt dan 300 watt. Rencana ini membuat dahi berkernyit. Sebab, pelanggan listrik 450 VA yang masuk kategori masyarakat miskin tentu harus menambah daya listriknya agar tidak jeglek saban kali dipakai untuk menanak nasi. Artinya, masyarakat kecil lagi yang dibebani dan dibikin repot.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

6 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

20 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

21 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

21 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

22 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

28 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

47 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

56 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024