Kenangan 21 Juni, 52 Tahun Silam

Peminat sejarah nasional Indonesia

Soekarno Presiden pertama Indonesia di Jakarta, saat para fotografer meminta waktu untuk memfotonya Presiden Sukarno tersenyum, dengan mengenakan seragam dan topi, sepatu juga kacamata hitam yang menjadi ciri khasnya. Sejarah mencatat sedikitnya Tujuh Kali Soekarno luput, Lolos, Dan terhindar dari kematian akibat ancaman fisik secara langsung, hal yang paling menggemparkan adalah ketika Soekarno melakukan sholat Idhul Adha bersama, tiba tiba seseorang mengeluarkan pistol untuk menembaknya dari jarak dekat, beruntung hal ini gagal. (Getty Images/Jack Garofalo)

Tanggal 21 Juni 1970, Bangsa Indonesia berduka mendalam. Hari itu, kita kehilangan salah seorang Pendiri Bangsa, Proklamator negeri, Presiden pertama Republik ini. Hari Minggu pagi itu sekitar pukul 07.00 WIB, Bung Karno berpulang ke Rahmatullah, setelah sakit beberapa lama, dua minggu sesudah ulang tahun beliau yang ke-69. 

Kendati telah lebih setengah abad berlalu, hari yang menyedihkan itu masih melekat dalam ingatan saya. Ketika itu saya berusia 17 tahun, duduk di kelas 2 SMA.  

Hari itu, menjelang sore, saya melintas dari jembatan Semanggi ke arah Monumen Dirgantara, Pancoran, jadi di jalur jalan seberang Wisma Yaso, Jalan Jenderal Gatot Subroto, tempat jenazah Bung Karno disemayamkan.

Rumah itu kediaman Ratnasari Dewi Sukarno, isteri Bung Karno. Di sanalah  kemudian presiden pertama kita itu “diasingkan” sebagai dampak Peristiwa 1965.  Sekarang rumah tersebut menjadi    Museum Satria Mandala. 

Juga masih saya ingat, pelayat baik pejabat negara, petinggi negeri, orang penting, tokoh, sampai “wong cilik” memadati  rumah duka, melimpah di depan, hingga di luar pagar dan sekitarnya. Lalu lintas merayap, jalan dipenuhi kendaraan dan disesaki manusia.  

Sebetulnya, ada juga keinginan saya untuk bergabung  dengan massa  di seberang Wisma Yaso. Namun karena tengah mendampingi nenek pulang dari suatu keperluan di Kebayoran Baru, saya urungkan niat ikut berkerumun di sana.    

Malam muda-mudi

Saya pun belum lupa bahwa esok harinya, 22 Juni adalah Hari Ulang Tahun kota DKI Jakarta. Sejak 1968, di era Gubernur Ali Sadikin, tanggal 21Juni malam  diadakan acara "Malam Muda- Mudi", yang dimeriahkan aneka hiburan. 

Berbagai panggung pertunjukan berderet di jalan Thamrin, mulai dari setelah Jembatan Dukuh Atas, lalu di sekitar Hotel Indonesia, berlanjut di muka  Department Store Sarinah, hingga seputar air mancur di dekat Gedung Bank Indonesia,  menjelang Jalan Merdeka Barat.  Pentas hiburan juga ada di depan balai kota dan jalan silang  Monumen Nasional. 

Diawali tahun 1968,  perayaan hari ulang tahun kota Jakarta diramaikan pula dengan berlangsungnya Djakarta Fair (kemudian sempat disebut Pekan Raya Jakarta) di sisi selatan Lapangan Monumen Nasional. Di hari duka itu, agenda perayaan hari ulang tahun Jakarta 1970  tetap berlangsung.  Namun, suasananya terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.   

Final Piala Dunia

Ingatan saya pada 21 Juni 1970 juga ditandai sebuah acara yang pasti ditunggu-tunggu  penggemar sepakbola sejagat: final Piala Dunia Sepakbola 1970 di Meksiko. Untuk pertama kalinya final Piala Dunia,  memperebutkan Jules Rimet Cup, lambang juara dunia, akan disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi kita satu-satunya ketika itu, TVRI.  

Dua tim terkuat akan bertanding di stadion utama Estadio Azteca, Mexico City yang megah berkapasitas  lebih dari 100 ribu penonton. Pertandingan berlangsung 21 Juni, siang hari waktu Mexico City, artinya sekitar tengah malam sampai menjelang pagi 22 Juni 1970 waktu Indonesia bagian Barat. 

Final ketika itu,  diharapkan menjadi pertandingan yang hebat,  Brasil versus Italia. Brasil menjadi favorit juara karena memiliki sederet bintang kelas dunia di era itu: Si “Mutiara Hitam” Pele, Rivelino, Gerson, Tostao, Jairzinho. Tapi Italia tidak kalah pamor, ada Sandro Mazzola, Luigi Riva, Gianni Rivera, Giacinto Facchetti, dan Roberto Boninsegna.

Walaupun masih diselimuti duka mendalam karena wafatnya Bapak Bangsa  hari itu, sebagian masyarakat tetap pergi melihat keramaian di sepanjang jalan Thamrin dan Monumen Nasional. Lepas magrib, saya dan dua saudara sepupu, juga berangkat ke sana. 

Setelah berkeliling menonton berbagai pertunjukan musik di sepanjang Jalan MH Thamrin, menjelang tengah malam, saya teringat bahwa final Piala Dunia akan segera dimulai.

Nonton Bareng

Akhirnya kami bertiga sepakat  masuk ke arena Djakarta Fair, dengan pertimbangan pastilah ada stan peserta Djakarta Fair yang memasang televisi untuk nonton bareng.

Kami kemudian duduk di sebuah stan bank nasional (tapi saya lupa nama bank tersebut). Di sebuah meja yang agak tinggi sudah terpasang sebuah pesawat televisi, seingat saya ukuran layarnya kira-kira 21 inci (bandingkan dengan rata-rata ukuran layar televisi di rumah-rumah sekarang ini), dan tentu saja: hitam putih gambarnya.

Tidak  pernah saya lupakan jalannya pertandingan yang kemudian disebut-sebut sebagai salah satu final terbaik Piala Dunia.  Brasil unggul lebih dulu melalui sundulan  Pele. Sebelum jeda setengah main, pemain depan Italia, Roberto Boninsegna menyamakan kedudukan. Di babak kedua Brasil tak tertahankan. Pele dan kawan-kawan menang telak 4-1, dengan tambahan gol Gerson, Jairzinho, dan Carlos Alberto. Piala Jules Rimet menjadi milik Brasil, karena tiga kali juara dunia. Pagi buta kami meninggalkan arena Djakarta Fair.

Senin, 22 Juni 1970,  jenazah Bung Karno diterbangkan  dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma menuju Malang, lalu melalui jalan darat ke Blitar untuk dimakamkan di samping  Ibundanya. 

Minggu 21 Juni 1970, sampai Senin 22 Juni, selalu saya ingat sebagai hari yang panjang, melelahkan. Ada kesenangan melihat keramaian ulang tahun kota Jakarta dan menonton final Piala Dunia, namun juga dibalut kesedihan wafatnya Bung Karno, salah seorang Bapak Bangsa. Kenangan dua hari itu masih terekam kuat dalam memori saya hingga hari ini, 52 tahun kemudian.






Training of Trainers (ToT) Segmen Kelompok Masyarakat di Kota Banda Aceh

2 hari lalu

Training of Trainers (ToT) Segmen Kelompok Masyarakat di Kota Banda Aceh

Mempersiapkan para calon trainers yang diharapkan dapat mengedukasi serta mengajak masyarakat mengenal dan memahami literasi digital


Mengapa Penggunaan MyPertamina untuk Menekan Subsidi BBM Diragukan

3 hari lalu

Mengapa Penggunaan MyPertamina untuk Menekan Subsidi BBM Diragukan

Efektivitas aplikasi MyPertamina dalam menekan subsidi masih diragukan. Penggunaan MyPertamina menimbulkan pertanyaan karena Pertamina sebelumnya sudah mengembangkan teknologi digital untuk mendeteksi kendaraan layak subsidi.


Gandeng Bawaslu Kota, MAFINDO dan KOMINFO Gelar Kelas Kebal Hoaks di Yogyakarta

3 hari lalu

Gandeng Bawaslu Kota, MAFINDO dan KOMINFO Gelar Kelas Kebal Hoaks di Yogyakarta

Kelas Kebal Hoaks yang diadakan MAFINDO berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama SiberKreasi dalam gerakan Makin Cakap Digital.


Ulang Tahun ke-53, Sandiaga Justru Mengaku Merasa Tak Bahagia

8 hari lalu

Ulang Tahun ke-53, Sandiaga Justru Mengaku Merasa Tak Bahagia

Kemarin, Sandiaga Uno merayakan ulang tahunnya ke-53 disertai sebuah pertanyaan yang tersaji di video, kapan ia merasa berbahagia.


8 hari lalu

Jadwal Malaysia Open 2022 akan berlanjut Rabu, 29 Juni, dengan menghadirkan partai sisa babak pertama. Ada enam wakil Indonesia yang akan berlaga.


Hadapi Perubaan Iklim, Indonesia Siapkan Karbon Biru

8 hari lalu

Hadapi Perubaan Iklim, Indonesia Siapkan Karbon Biru

KKP jabarkan tiga strategi dalam menerapkan karbon biru.


Obi-Wan Kenobi, Munguak Kisah Sang Guru

9 hari lalu

Obi-Wan Kenobi, Munguak Kisah Sang Guru

Kisah Jedi terkemuka Obi-Wan Kenobi diangkat menjadi mini-seri. Mengungkap apa yang terjadi selama di persembunyian saat diburu pasukan Darth Vader.


Reaksi Kebablasan Promosi Holywings

10 hari lalu

Reaksi Kebablasan Promosi Holywings

Ketika protes itu diwujudkan dengan cara menggeruduk kafe Holywings, bahkan melakukan penyegelan, ini adalah tindakan yang tidak patut dan melanggar hak asasi.


10 hari lalu

Tak ada perubahan dalam posisi tiga besar klasemen MotoGP setelah balapan di Belanda. Quartararo yang gagal finis tetap ada di puncak.


Samudra Hartanto, Mantan Desainer Louis Vuitton Populerkan Batik di Paris

12 hari lalu

Samudra Hartanto, Mantan Desainer Louis Vuitton Populerkan Batik di Paris

Ia bertujuan agar batik menjadi lebih dekat dengan masyarakat Paris dan dapat digunakan sehari-hari.