Flores The Singing Island Festival: Beleng Lake, Kunst dan Sihir Ivan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kesenian Flores. Dok. Istimewa

    Kesenian Flores. Dok. Istimewa

    “I sat in the great hall at the Kvarner Hotel with all this beauty sweeping over me.
    I closes my eyes for an instalt and suddelny I felt back in the East Flores
    near remote ‘Beleng Lake’…”
    (Jaap Kunst)

    Kunst barangkali sedang melempar kenangannya pada suatu tempat di Tanjung Bunga, tempat yang pernah ia kunjungi pada tahun 1930. Kenangan itu ia tuliskan dalam secarik kertas di hotel Kvaner usai menikmati konser musik di Istria, pegunungan Dalmatian, Bosnia, Serbia dan Makedonia pada acara National Yugoslav Folk Dance Festival di Opatija, Kunst beranjak kembali ke hotel ia pun menulis apa yang dikutip di atas:

    “I sat in the great hall at the Kvarner Hotel with all this beauty sweeping over me. I closes my eyes for an instalt and suddelny I felt back in the East Flores near remote ‘Beleng Lake’…” (Saya duduk di aula besar di Hotel Kvarner dengan semua keindahan yang menyelimuti saya. Sejenak saya memejamkan mata dan tiba-tiba saya merasakan kembali suasana di Flores Timur dekat “Beleng Lake” yang terpencil….”

    “Belen(g) Lake” yang disebut Kunst membuat banyak orang mencari-cari di mana tempat yang dimaksudkan Kunst. Dari beberapa peneliti kemudian, dipastikan bahwa yang dimaksud Kunts adalah memang wilayah Tanjung Bunga. “Belen Lake” itu merupakan sebuah situs dari batu, jejak kaki seseorang yang dianggap bertubuh besar (Belen Lake: laki-laki bersosok besar) yang terletak di dalam wilayah “Newa” Nopin Jaga: (salah sebuah wilayah adat), juga Waibelen (nama sebuah danau) yang berada di Kampung Wai Bao (Lebao). Masih dalam wilayah (Newa) itu ada sebuah pelabuhan milik seseorang yang bernama Mada. Area itu disebut dengan nama: Ai Mada Ga’an. Letaknya 1 km dari Belen Lake.

    Jaap Kunst. Foto: Wikipedia

    Tampaknya Kunst tak hanya sekadar menyebut Belen Lake, yang kemudian membuat penasaran banyak pembaca yang ingin tahu perihal nama tempat atau daerah. Tentu saja selain merekam kekayaan musik, Kunst dipastikan mendengar banyak kisah yang sempat dia tulis. Belen Lake hanya menjadi bagian dari kenangan perjalanan risetnya. Ia tahu bahwa Belen Lake, yang oleh orang setempat disebut juga “woko girek” (bekas jalan/diukir oleh keong, siput). Dikisahkan dulu di sekitar tempat itu ditemukan tulang-belulang, kerangka manusia, dan pekuburan massal di tepi pantai Pain Haka dan Tanjung Mada yang diperkirakan sekitar 3000-5000 tahun Sebelum Masehi. Antara Belen Lake & Ai Mada Ga’an itu berasal kisah, bahwa jari kaki atau telapak kaki manusia besar, juga nama Mada pada Ai Mada Ga’an diduga Patih Gaja Mada pernah berada di daerah itu. Di daerah Wato (Batu) / Newa Nopin Jaga ada sebuah bukit yang mereka sebut Nawa Pole, di sana ditemukan bendera Belanda.

    Dari hotel Kvarner, Kunst membawa pulang kenangannya ke Tanjung Bunga akan Liang/Li’e (nyanyian adat) Banuleko (nyanyian adat yang khusus dinyanyikan pada subuh, menjelang masyarakatnya beranjak ke kebun), juga senandung syair laut: Opak, Nukun tahik, watan, Lewa. Nyanyian itu mereka senandungkan perlahan secara polifonik sembari gwekol (dalam bahasa lokal artinya, mengeluarkan suara vibra dari tenggorokan, yang juga secara bersambung, sahut-menyahut dengan nada yang bervariasi).
    Cara bernyanyi inilah yang konon dipengaruhi (atau saling mempengaruhi) oleh greko, para budak Portugis yang berasal dari daerah Yugoslavia, di daerah Balkan ketika bersama para saudargar Portugis berada di Tana Rera Matan (Tanah Asal Matahari Memancar), begitu salah satu nama lokal yang diberikan untuk Tanjung Bunga.
    Kunst memang sangat berjasa, bukan saja bagi penelitian musik di Flores, tapi seluruh Nusantara. Penelitian yang intens dan masif membawa Kunst pada penemuan sebuah istilah etnomusikologi yang hingga saat ini dikenal sebagai cabang ilmu baru, semacam fusi antara musikologi dan etnologi (antropologi).

    Dalam bukunya yang berjudul Musicologica: A Study of the Nature of Ethnomusicology, its Problem. Methods and Representative Personalities (Amsterdam, 1950) misalnya, Kunst menjelaskan terminologi (etnomusikologi) yang ditemuinya itu sebagai sesuatu yang berhubungan dengan musik-musik yang masih hidup, termasuk di dalamnya instrumen-instrumen musikal dan tari pada suku-suku maupun negara yang mempunyai tradisi musik. Pencapaian Kunst ini memang luar biasa, kendati dari awal dia tidak pernah berniat untuk membuat sebuah studi yang mendalam.

    Kesenian Flores. Dok. Istimewa

    Sebuah Pencarian dan Kenangan

    Dari catatan sejarah, Kunst meninggalkan Belanda menuju Indonesia bersama dua rekan sesama musisi, yakni Kitty Roelants-de Vogel (penyanyi) dan pianis Jan Wagernaar pada musim semi tahun 1919.

    Sejak tiba di bumi Nusantara Agustus 1919, ketiga musisi ini melakukan tur musik selama delapan bulan dan tampil tak kurang dari 95 kali di berbagai komunitas, di Jawa maupun Kalimantan, Sumatra dan Sulawesi.

    Ketika kedua temannya Kembali ke Belanda pada Mei 1920, Kunst memutuskan untuk tetap tinggal. Dia makin tertarik pada musik suku-suku di Nusantara, terutama saat tersentuh untuk pertama kali mendengar suara gamelan pada Desember 1919 di keraton Paku Alaman, Yogyakarta.

    Tak hanya mempelajari gamelan Jawa, Jaap Kunst juga membuat dokumentasi foto dan rekaman suara gamelan dalam bentuk wax cylinder (silinder lilin) untuk pertama kalinya di tahun 1922.

    Sepanjang tahun 1930, Kunst mengelilingi Indonesia untuk melakukan penelitian, membuat rekaman dan dokumentasi kegiatan seni di wilayah tersebut, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Kepulauan Kei (Maluku), Nusa Tenggara Timur dan Papua. Tentu saja termasuk Flores.

    Lalu pada 1932, dia tinggal di Batavia dan menjadi kurator tidak resmi di Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (kini Museum Nasional).
    Di rumahnya yang beralamat di Jalan Kebon Sirih No. 14, juga ia jadikan sebagai tempat menyimpan ribuan koleksi alat musik yang dikumpulkannya selama perjalanan ke daerah-daerah serta rekaman, foto dan film yang dijadikan bahan risetnya. Untuk menunjang risetnya, Kunst juga berkorespondensi dengan banyak pihak, di antaranya Mangkunegoro VII, C.C.F.M le Roux, Heinz Noah, Van der Hoop, Hoesein Djadjadiningrat, Karl Halusa, Claire Holt dan F.D. K. Bosch. Surat korespondesi Jaap Kunst ini masih tersimpan apik di Perpustakaan Universitas Amsterdam.

    Tahun 1934 Jaap Kunst kembali ke Belanda dan menjadi kurator di Royal Tropical Institute (Tropenmuseum) tahun 1936. Pada tahun 1942 Kunst menjadi dosen khusus di Universitas Amsterdam yang mengajar mata kuliah Sejarah dan Teori Musik Jawa. hingga berakhir hayatnya tahun 1960 akibat kanker.

    Sayangnya dari sekitar 2500 koleksi alat musik yang ada di Museum Nasional, belum dapat diidentifikasi secara tepat. Dan dari sekitar 1000 piringan hitam tersebut tidak ada tanda atau label yang menunjukkan identitas hasil rekaman Kunst. Lagi pula, puluhan keping piringan hitam yang saat ditemukan sudah rusak dan tanpa label, sehingga menyulitkan dalam membuat identifikasi.

    Selain rekaman dan koleksi berbagai alat musik, kita beruntung masih bisa membaca karya tulisnya. Salah satunya tentang Flores berjudul. Music in Flores - A Study of the Vocal and Instrumental Music among the Tribes Living in Flores (1942).

    Sesudah Kunst

    Pencarian nama Belen Lake pada awal tulisan di atas dan kenangan lain Kunst bisa ditemukan dalam tulisan Gerald Florian Messner yang menulis, Jaap Kunst Revisited. Multipart Singing in Three East Florinese Villages Fitfy Years Later: A Preliminary Investigation, dan Dana Rappoport yang menulis tentang musik dan mitos asal mula padi di Tanjung Bunga. Beberapa tempat seperti Keka, Waiklibang, Lamanabi dan Lewo Bao (Lebao) disebut-sebut, termasuk Tengadei, Riang Puho, Patisirawalang, semuanya dari wilayah Tanjung Bunga.

    Tentang Flores, masih ada satu karya lagi ketika 14 tahun kemudian dia menulis sebuah buku kecil dengan judul: Cultural Relations Between the Balkans and Indonesia (1954).
    Gerald Flrorian Messner, seorang etnomusikolog generasi sesudah Kunst, yang mencuat namanya ketika meneliti musik di Bulgaria, di wilayah Balkan, dan membaca dua buku Kunst tersebut.

    Messner berusaha mendengar rekaman musik Kunst, namun tidak mudah karena usia rekamannya sudah terlalu tua. Karena itu dia memutuskan untuk pergi sendiri ke pulau ini. Maka pada November 1988, dia menjejak kakinya di Pulau Bunga. Di ujung timur Pulau Bunga, Messner terheran-heran karena tradisi musik di wilayah ini masih hidup, tentu dengan sedikit perubahan dari yang direkam dan diamati Kunst tahun 1930-an.

    Menurut Messner, kendati di beberapa wilayah kehidupan orang-orang Flores tampak sangat berat, namun kekekayaan dan keragaman musiknya mengagumkan. Karena itu tulisnya: “Flores seems to be the island of multi-part-singing. With many difffrent polyphonic structures and forms still in practice” (Flores tampaknya menjadi pulau dengan keragaman bernyanyi dengan banyak struktur dan polifonik yang berbeda, dan masih dipraktikan hingga saat ini).

    Bagi Messner, adalah suatu keberuntungan karena dirinya bisa berpartisipasi dalam lagu dan tarian tradisonal. “Saat itulah, saya tidak bisa menghindari untuk mengenang Kunst ketika dia pertama kali menyaksikan musik dari Istria, pegunungan Dalmatian, Bosnia, Serbia dan Makedonia pada acara National Yugoslav Folk Dance Festival di Opatija.”

    Etnomusikolog lain namanya perlu di catat adalah Rappoport. Selama 12 bulan (2006-2007) Rappoport meneliti wilayah itu dan berhasil memetakan lanskap musik di kalangan orang Lamaholot. Dia membedakan cara bernyanyi duet yang sangat kuat di wilayah Lamaholot Barat, yakni di Flores Timur dan Solor Barat hingga tetangga dekat mereka yang berbahasa Sikka, yakni Tana’Ai.

    “Saya menemukan bahwa penutur Lamaholot dapat dibagi menjadi dua kelompok yang memainkan musik dengan cara yang kontras; kelompok pertama bernyanyi hampir secara eksklusif dalam duet polifonik bergantian, dan kelompok kedua bernyanyi dalam paduan suara responsorial monofonik. Kelompok pertama tinggal di bagian barat wilayah penutur Lamaholot (Flores Timur & Solor Barat, termasuk beberapa penutur bahasa Sikka dialek Tana’Ai), dan kelompok kedua tinggal di bagian timur (Adonara, Lembata & Solor Timur)”, begitu Rappoport menyimpulkan.

    Semakin lebih jelas ketika Smithsonia Folksways mengoleksi lagu dan musik tradisional Indonesia dengan bantuan Philip Yampolsky, mereka banyak mengambil lagu-lagu dari wilayah Tanjung Bunga. Beberapa keterangan bisa dijelaskan sebagai berikut:
    Kumpulan lagu-lagu dari Flores itu termuat dalam volume 8 dan 9. Pada bagian volume 8 ada lagu-lagu dari Flores Timur hingga Tengah, sedangkan khusus untuk beberapa lagu dari Nage, Ngada dan Manggarai masuk dalam volume 9.

    Pada volume 8, dari 14 lagu, di bagi dalam tiga bagian: Pertama adalah jenis koor dari Sikka, yakni Jalae, Lero, Sora, Gong Bladung dan Oambele. Sedangkan pada bagian kedua dalam bentuk duet dari Tanjung Bunga dan Tana’Ai seperti Bau Leo, Berasi Kremet, Lelu Lia, Lalu Gokok & Belasi. Lalu pada bagian ketiga ada nyanyian sejenis koor saat orang bekerja di kebun dari wilayah Toto (Ende-Nagekeo) yang disebut Gore.

    Pada bagian ini, produser memberi sebuah catatan yang menarik tentang rekaman lagu-lagu yang sangat beragam dan belum banyak diketahui orang yang dilakukan tahun 1993-1994.

    Tentu saja masih banyak yang perlu dijelaskan dari uraian Rappoport ini. Ia masih menyisakan catatan, “Among the wonderful tradition include here are polyphonic singing styels strikingly similar to some Balkan music.” (Diantara tradisi indah yang termasuk di sini adalah gaya menyanyi polifonik yang sangat mirip dengan beberapa musik Balkan).

    Flores The Singing Island

    Flores The Singing Island Festival yang digelar bertepatan dengan perayaan Kemerdekaan RI 17 Agustus lalu, tak bisa disangkal kita merujuk pada Jaap Kunst, seorang etnomusikolog dari negeri Kincir Angin. Inisiator festival, Ivan Nestorman, menyandarkan inspirasi penelitian Kunst yang menyatakan bahwa masyarakat flores sebagai ‘masyarakat menyanyi”. Ivan Nestorman tentu saja tidak memilih alasan itu semata-mata sebagai sebuah pembenaran ilmiah. Ivan sendiri sebenarnya tahu bahwa cukup banyak kekayaan musik dan bernyanyi khususnya di daerah Flores Timur (Lamaholot: Solor, Adonara, Lembata dan Alor, juga daerah Tana’Ai) yang mesti dieksplorasi karena memiliki keunikan serupa sebagaimana di Tanjung Bunga, juga seluruh daratan Flores; Sikka, Ende, Ngada, Nagekeo hingga Manggarai.

    Tentang musik dan seni pada umumnya, kenangan kita melompat menuju Mochtar Lubis. Pada pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki pada 6 April 1977, pada empat dekade silam yang kemudian dibukukan sebagai buku dengan judul Manusia Indonesia (2001 dan 2019) oleh Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia (YOI), juga pernah merujuk pada Jaap Kunst.

    Penggagas Flores The Singing Island Festival, Ivan Nestorman. Dok. Istimewa

    Dalam pidato tentang manusia Indonesia itu, Mochtar Lubis ketika menyebut Flores, yang dijelaskan bahwa orang-orangnya bernyanyi mirip orang Balkan, di Eropa Timur. Kesamaan orang-orang yang mendiami gunung yang tinggi dan lembah yang curam membawa mereka pada kesamaan dalam bermusik.

    Dengan momentum festival itu oleh Ivan hendak dijadikan sebagai salah satu tonggak untuk memastikan identitas kebudayaan manusia kepulauan Flores. Dari festival itu, Ivan hendak menjawab apa yang pernah dipesankan Mochtar Lubis dalam pidato tentang ciri Manusia Indonesia, terutama dalam ciri kelima, sebagai manusia artistik. Katanya, “….Musik, seni tari, folklore, menunjukkan daya imajinasi yang sangat kaya dan subur, daya cipta yang amat besar. Bagi saya ciri artistik manusia Indonesia yang paling menarik dan mempesonakan, dan merupakan sumber dan tumpuan harapan bagi hari depan manusia Indonesia”.

    Apa yang digagas Ivan Nestorman dengan Flores The Singing Island Festival ini menjadi jawaban untuk memenuhi pesan dan harapan Mochtar Lubis di akhir pidatonya: “…janganlah kita terus-menerus membelakangi sumber-sumber pengucapan artistik manusia Indonesia di masa lampau itu. Dia masih mengandung kekayaan besar sebagai sumber inspirasi dan dapat mendorong dan mengembangkan daya imanjinasi dan kreatif artistik manusia Indonesia kini…Saya yakin bahwa bakat-bakat seni yang besar ini masih terpendam dalam diri manusia. Kita harus membuat budaya dan seni jadi alat pembebas bangsa kita dari cengkeraman dan belenggu tata nilai yang selama ini menjadi penghambat dan membuat manusia Indonesia jadi mengkerut kecil dan kerdil dalam daya inspirasi dan ciptanya.”

    Bertahan Lama dalam Kenangan

    Sejak Kunst hingga Yomposlky, Tanjung Bunga tak hanya menarik perhatian, tapi sangat membekaskan kenangan yang tak pernah lenyap. Selama setahun berdiam di ujung pulau Nusa Bunga, Dana Rappoport, mencatat banyak hal. Ia menulis tentang nyanyian mitos padi, nyanyian yang mengungkapkan kesedihan, kesepian perpisahan, kekerasan dan kerja keras di tengah alam yang tidak ramah. Nyanyian dengan syair-syairnya sebagai ungkapan rasa, bernarasi tentang peristiwa kehidupan mereka. Dalam pandangan Rappoport, mereka menyanyi melalui nada dan syair-syairnya itu merupakan strategi untuk bertahan dan bersemangat dalam hidup yang keras dan tidak ramah di Ile Lusi Taga Hera Liwu (Gunung tempat Elang menaruh/menyimpan telurnya), begitu nama lain Tanjung Bunga yang dulu pernah disebut-disebut leluhur mereka di ujung timur Nusa Bunga.

    Rappoport kini sudah kembali ke tanah airnya di Perancis. Pada tahun 2011, ketika sudah beberapa hari tiba di kampung halamannya, dia menerima pesan dari Bapak Yakobus, penyanyi yang ditemuinya di Tanjung Bunga: “Doan one’ kodi hukut, lela matik sama peten”: Meski jauh, hati hanya bisa mengenang // selama apapun, takkan pernah kulupa.

    Pesan puitik dari Yakobus sahabatnya itu, ia terjemahkan demikian: Far within interiority recollection lingers, for along time in the depths remains the memory. (Ingatan yang jauh mengendap ke dalam, bertahan sekian lama dalam kenangan).

    Kini Kunst, Rappoport dan Mochtar Lubis kini melabuhkan kenangan mereka melintasi waktu, mengarungi luasnya jarak impian mereka ke Nusa Bunga. Ivan Nestorman menambatkan kerinduan mereka dalam senandung: Flores The Singingin Island.

    Belen Lake & hotel Kavner, Tanjung Bunga & Menara Eifel begitu dekat. Meski terpencil, tapi takkan pernah terlupakan!

    * * * 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.