Budaya Bersepeda dan Lahirnya Para Jawara Tour de France

Gilang Rahadian

Pegiat Bersepeda

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembalap sepeda asal Kolombia, Egan Bernal, juara Tour de France 2019. (dw.com)

    Pembalap sepeda asal Kolombia, Egan Bernal, juara Tour de France 2019. (dw.com)

    Pesta balap sepeda Tour de France (TDF) 2021 sudah dimulai pada Sabtu, 26 Juni 2021. Perhelatan sepeda tahunan ini berlangsung selama 23 hari hingga 18 Juli 2021. Fakta yang menarik untuk diamati adalah kehadiran para pembalap asal Kolombia di ajang balap sepeda jarak jauh paling bergengsi di jagat raya ini.

    Tercatat enam pesepeda Kolombia yang tersebar di lima tim internasional, antara lain Nairo Quintana (Arkea-Samsic), Rigoberto Urán dan Sergio Higuita (EF Education Nippo), Miguel Ángel López (Movistar Team), Esteban Chaves (Team BikeExchange), dan Sergio Henao (Qhubeka Assos).

    Jika tak ada kendala seharusnya ada dua jagoan lagi yang turun di Tour de France 2021, yaitu Egan Bernal dan Dani Martinez. Bernal dan Martinez sebenarnya sosok paling dinanti penonton karena bulan lalu baru saja menjuarai Giro d' Italia sebagai juara 1 dan 5. Sayang, Bernal absen karena cedera punggung yang menderanya sejak mengikuti even Giro. Dengan berat hati timnya, Ineos Grenadiers asal Inggris, harus menarik dia dari line up di Tour de France 2021. Sementara Martinez dikabarkan keluar dari tim EF Education Nippo yang menaunginya.

    Lalu bagaimana bisa para pembalap Kolombia malang melintang di kejuaraan balap sepeda Eropa selama satu dekade ini? Semenjak Nairo Quintana meraih podium sebagai raja tanjakan di Tour de France 2013, disusul oleh Winner Anacona, Fernando Gaviria dan kawan-kawan berlaga di Tour de France, mata dunia mulai melirik Kolombia. Di luar Tour de France masih ada 17 pembalap Kolombia lain yang mengaspal di berbagai kejuaran balap sepeda terkemuka di seluruh dunia.

    ADVERTISEMENT

    Sebenarnya catatan prestasi Kolombia bisa ditelusuri hingga tahun 2003, saat Víctor Hugo Peña sempat merebut Kaos Kuning dari tangan ‘legenda’ Amerika Serikat Lance Amstrong yang saat itu begitu digdaya. Puncaknya adalah ketika pemuda ajaib Egan Bernal menjadi juara Tour de France 2019 yang membuat Kolombia disejajarkan dengan negara-negara maju pencetak para juara balap sepeda.

    Nairo Quintana merayakan di podium setelah memenangkan tahap ke-19 dari Giro d'Italia, Tour of Itay balap sepeda, di Bassano del Grappa (30/5). Banyak peserta dan penonton menganggap Quintana hanya mencari sensasi dengan kostumnya yang ia kenakan, namun ia membuktikan kalau itu bukan untuk sensasi. (AP/Marco Alpozzi)

    Melihat fenomena ini banyak analisis yang menyorot bagaimana Kolombia—sebuah negara yang dikoyak oleh kekerasan—bisa melejit menjadi pemasok jago-jago sepeda kelas dunia. ‘Tudingan’ awal karena Bogota, ibu kota negara itu, berada di ketinggian 2600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kontur pegunungan dan udara tipis membentuk manusia Bogota menjadi sosok kuat dengan kapasitas paru-paru di atas rata-rata manusia normal.

    Memang benar hal itu berpengaruh. Sebuah studi baru yang diterbitkan jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, Amerika Serikat menjelaskan faktor yang berkontribusi terhadap kapasitas aerobik komunitas dataran tinggi yaitu adaptasi genetik. Tom Brutsaert, ahli biologi evolusi dan profesor di Universitas Syracuse, mendukung teori itu. Dia lebih awal sudah melakukan penelitian pada tahun 90-an bahwa komunitas di dataran tinggi secara genetik pandai menyesuaikan kebutuhan oksigen di ketinggian. Dia teringat risetnya ketika menyaksikan cara balapan Egan Bernal menaklukan rute-rute pendakian.

    Dari sisi pembalap, Dani Martinez mengungkapkan bahwa lingkungan rumahnya di Soacha, pinggiran kota Bogota, sudah menempa dirinya. “Pada usia 13 tahun ayah memberi saya sepeda, lalu saya mulai bersepeda di pegunungan sekitar rumah, dan sayapun langsung menyukainya”, ujar Martinez.

    Namun kota di dataran tinggi tak cuma Bogota. Mexico City, La Paz, Bolivia dan Quito di Ecuador adalah kota-kota pegunungan di benua Amerika yang berada di atas 2200 mdpl. Keadaan itu tak otomatis bisa melahirkan atlit-atlit balap sepeda yang mengandalkan otot dan pernapasan super ini. Tom Brutsaert juga menyatakan bahwa faktor adaptasi genetik hanyalah salah satu keuntungan saja bagi atlet yang berasal dari dataran tinggi.

    Mungkin jawaban dari Nestor Rodríguez, mantan pesepeda profesional Kolombia, bisa jadi pegangan. Rodriguez mengungkapkan pangkal utamanya adalah budaya bersepeda yang sudah tertanam selama hampir 50 tahun, yang kemudian membentuk generasi cinta sepeda pada rakyat Kolombia. “Anda harus memahami apa yang terjadi memang luar biasa, bahwa sepeda sudah menyatu dalam budaya Kolombia”, kata Nestor yang juga pelatih pembalap Winner Anacona itu. Balap sepeda menjelma menjadi ‘agama’ kedua setelah sepak bola di Kolombia.

    Apa sesungguhnya yang terjadi di Kolombia? Sejarah balap sepeda di negeri itu bisa saja ditarik mundur hingga tahun 1960-an, ketika lomba-lomba tingkat lokal kerap diadakan. Namun sebuah ‘revolusi bersepeda’ justru berlangsung di jalanan Bogota pada tahun 1974, yang dinamakan Ciclovía (jalan sepeda). Ini disebut-sebut sebagai tonggak pembentukkan budaya sepeda masyarakat Kolombia khususnya kota Bogota.

    Sejumlah warga mengendarai sepeda saat Hari Tanpa Kendaraan di jalur sepeda di Bogota, Kolombia, 4 Februari 2016. REUTERS/John Vizcaino

    Ciclovía adalah penutupan jalan di tengah kota yang diperuntukkan terutama bagi pesepeda, dan aktivitas lain seperti jalan kaki, joging dan kegiatan sosial warga pada umumnya. Rute sepanjang 12 kilometer (setara panjang jalan Sudirman-Thamrin hingga Kota Tua, Jakarta) didedikasikan untuk Ciclovía.

    Pada 1990-an pemerintah kota semakin menyadari kekuatan Ciclovía dalam menghubungkan berbagai komunitas di seluruh kota. Panjang Ciclovía cepat bertambah setiap tahunnya dan diperluas jangkauannya ke banyak bagian kota.

    Saat ini di 2021, panjang Ciclovía mencapai 120 km, memungkinkan seluruh kota untuk berbaur dalam suasana yang sangat menyenangkan. Lebih dari 1,7 juta orang, atau sekitar seperempat dari populasi kota tumpah ruah di jalanan setiap hari minggu. “Every Sunday the Streets of Bogotá Belong to Bicycles”, tulis Welovecycling.com, media online milik brand otomotif Skoda, salah satu sponsor utama Tour de France. Dan keamanan cukup terjamin karena hampir semua polisi Bogotá membantu penyelenggara.

    Bogota meyakini bahwa Ciclovía bisa menyelamatkan kota dari polusi dan kemacetan yang kian parah. Sekaligus menghidupkan kota dengan aktivitas bersepeda dan olah raga lainnya yang menyehatkan warga kota. Kesuksesan Ciclovía mendorong pemerintah kota membangun jalur sepeda permanen yang dimulai sejak akhir 90-an. Dikutip dari Reuters, pada tahun ini 2021, Bogota sudah memiliki jaringan jalur sepeda hingga 550 km, terpanjang se-Amerika Latin.

    Ada dua nama yang bisa dicatat untuk revolusi ini, yaitu: Luis Prieto Ocampo, wali kota saat itu dan Jaime Ortiz Mariño, arsitek-penggagas Ciclovías. Gagasan besar mereka secara progresif dilanjutkan Enrique Peñalosa, Wali Kota Bogota 1998-2000. Dalam waktu singkat dia membangun hampir 300 km jalur sepeda.

    Selama 30 tahun lebih Ciclovías menyebar dan menulari banyak kota di seluruh dunia: dari New York dan Los Angeles di Amerika Serikat, Aukcland, Selandia Baru, Paris, London, Lisabon di Eropa, Addis Ababa di Ethiopia, hingga Chengdu di China, dan tak ketinggalan Jakarta dengan istilah populer Car-Free Day. Atas gagasannya itu pada tahun 2007 organisasi perancang kota The American Planning Association mendedikasikan judul pidato utamanya: ‘The Miracle of Bogotá’.

    Ciclovía memang fenomenal. BBC menuliskan: “....dari Plaza de Bolivar, Ciclovía menyusuri pinggiran selatan Bogota yang lebih miskin. Tepat di sebelah selatan alun-alun adalah distrik La Cruces, yang memiliki semua keindahan La Candelaria. Pada hari Minggu saat Ciclovia menjinakkan kota, La Cruces penuh sesak dengan keluarga, pejalan kaki, dan pengendara sepeda (dari orang dewasa hingga anak-anak). Lihatlah ke sekeliling, dan Anda akan menyaksikan begitu banyak Nairo Quintana masa depan sedang berputar-putar di jalanan...”


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Terlalu Cepat Makan, Bisa Berbahaya

    PPKM level4 mulai diberlakukan. Pemerintah memberikan kelonggaran untuk Makan di tempat selama 20 menit.