Pandemi, Kemanusiaan, dan Hari Depan Kita

Sudirman Said

Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) menyemprotkan cairan disinfektan di pemukiman warga di RW 08 Kampung Tengah, Kramat Jati, Jakarta, Ahad, 23 Agustus 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) menyemprotkan cairan disinfektan di pemukiman warga di RW 08 Kampung Tengah, Kramat Jati, Jakarta, Ahad, 23 Agustus 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Sebagai bangsa kita dalam prihatin yang teramat. Segala upaya telah dilakukan untuk menahan laju penyebaran Covid-19, namun hingga kini, kasus belum memperlihatkan tanda akan turun, malah sebaliknya. Beberapa hari terakhir angka cenderung berada di atas 4.000 kasus. Jika angka harian ini tidak dapat diperkecil, maka besar kemungkinan pada akhir tahun, jumlah angka positif Covid-19 mencapai lebih dari setengah juta kasus. Meskipun demikian, kita bersyukur, karena langkah pengobatan pada yang terpapar terus membaik, sehingga angka kesembuhan relatif tinggi.

    Sudah tentu kita tidak boleh menyerah. Rasa prihatin kita harus dibuat menjadi hal yang positif, sehingga dari pengalaman selama ini, segera dapat ditarik pelajaran-pelajaran penting, yang dapat kita pergunakan untuk melakukan perbaikan dan tentu diharapkan pada gilirannya dapat memutus mata rantai penyebaran virus. Kita ketahui bahwa dalam masa Pandemi, waktu demikian bernilai. Makin banyak waktu yang digunakan, berarti akan makin banyak korban yang jatuh. Oleh sebab itulah, setiap elemen bangsa, diharapkan kontribusinya untuk menjadi subyek mengatasi masalah ini.

     

    Dampak

    Kita tentu masih ingat, ketika kasus pertama (positif Covid-19) diumumkan, sekitar awal Maret 2020. Meskipun hanya beberapa orang yang dinyatakan terpapar, namun informasi tersebut terasa sangat mengejutkan dan langsung membawa pengaruh pada persepsi publik dan mobilitas penduduk. Kesadaran akan adanya bahaya virus, perlahan-lahan mulai pula menyebar, membawa pengaruh pada gestur sosial.

    Banyak pengamat yang mengatakan bahwa sikap publik terhadap protokol kesehatan masih beragam. Ada yang disiplin. Ada pula yang tidak. Pandangan tersebut membandingkan antara respon pada awal-awal munculnya virus dan respon hari-hari ini, dimana angka telah mencapai angka ratusan ribu. Ada anggapan bahwa jumlah kasus yang setiap hari diumumkan,  tidak membangkitkan kesadaran. Angka hanya sebagai angka belaka. Bukan dipahami sebagai peristiwa kehidupan manusia.

    Tentu kita punya pandangan yang berbeda. Masalah yang tengah berlangsung sangat kompleks, sehingga setiap usaha melihat masalah dari satu sudut akan berpeluang gagal menangkap keseluruhan, dan bahkan mungkin berpotensi kurang tepat ketika menarik kesimpulan. Bahwa kini, angka terus meningkat, perlu dilihat sebagai kenyataan yang menjadi tantangan bersama. Bukan waktunya kita menggunakan "jari telunjuk" untuk memeriksa masalah, karena hanya akan menambah besar bobot masalah.

    Harus diakui bahwa masalah yang kini terbaring di hadapan kita, tidak (lagi) hanya masalah kesehatan, akan tetapi juga masalah lain dan kait-mengkait masalah tersebut. Dalam situasi yang sudah demikian ini adanya, sesungguhnya akan sulit bagi kita untuk mengurainya, terlebih jika tujuannya hanya untuk memainkan telunjuk, atau mencari siapa yang salah. Namun demikian, kita juga tidak dapat mengelak, bahwa untuk menyelesaikan masalah dibutuhkan diagnosis yang tepat, dan proses tersebut hanya mungkin jika terdapat kejelasan historis. Pada titik inilah kita membutuhkan kebijaksanaan, yaitu suatu kemampuan untuk melihat persoalan secara komprehensif, adil dan berorientasi pada penyelesaian, serta sejauh mungkin menghindari kemungkinan hadirnya suatu penyelesaian yang justru menjadi masalah baru.

    Dalam menyelesaikan masalah yang menyerang keselamatan publik, dibutuhkan kejernihan. Hal ini mengingat bahwa di arena publik bekerja demikian ragam perspektif dan kepentingan, yang bukan tidak mungkin diantaranya justru tidak kompatibel dengan upaya yang sedang dikembangkan. Yang dimaksudkan di sini, adalah pandangan-pandangan yang justru menstimulasi berlangsungnya proses yang dapat menciptakan cuaca tidak saling percaya. Persis inilah dampak yang paling berbahaya, oleh karena tanpa sikap saling percaya, maka sulit dibangun kerjasama antar seluruh elemen masyarakat. Dan tanpa kerjasama, rasanya mustahil dapat ditemukan cara untuk keluar dari masalah yang kini telah bergerak menyebar meluas dan mengancam keselamatan publik.

     

    Kemanusiaan

    Ada hal yang sangat penting, dalam proses penanganan dampak Pandemi Global Covid-19, setidaknya berdasarkan praktek Palang Merah Indonesia (PMI), yakni adanya solidaritas kemanusiaan yang terus mengalir. Jika boleh dikatakan, bahwa kerja-kerja PMI sesungguhnya adalah ekspresi langsung solidaritas kemanusiaan – saling bantu antar sesama. Menyebut PMI, tentu hanya sekedar contoh. Banyak banyak prakarsa lain yang tumbuh di masyarakat. Ada bantuan berupa masker, alat pelindung diri, peralatan penyemprotan, dan lain-lain. Kesemuanya mengalir begitu saja, dengan kapasitas dan intensitas tersendiri. Bagi kita, yang terpenting, pertama-tama bukan kuantitas, melainkan pada apa yang disebutkan sebagai wujud nyata dari gerak rasa kemanusiaan.

    Dalam pengalaman PMI, gerak rasa kemanusiaan, tentu bukan hal yang ada hanya di masa Pandemi, tetapi sepanjang waktu. Artinya, sebagai bangsa, kita sesungguhnya mempunyai “modal besar” untuk tetap optimis. Tantangannya adalah bagaimana melipatgandakan modal tersebut. Hal yang mungkin dapat dilakukan: (1) memperluas keterlibatan publik untuk menjadi sumber gerak rasa kemanusiaan. Kita membayangkan, setiap kita, menjadi sumber dari gerak rasa kemanusiaan, yang perwujudannya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing; dan (2) apabila rasa kemanusiaan itu adalah suatu jenis kebaikan, maka mengalirnya kebaikan, akan membuka jalan bagi tumbuhnya kehendak untuk tidak melakukan “kejahatan”. Apa yang akan terjadi jika gerak rasa kemanusiaan merupakan gabungan keduanya?

    Pada titik inilah, kita merasa seperti sedang diberi kesempatan memeriksa kembali tata hidup; memeriksa kembali bagaimana hubungan manusia dengan lingkungannya. Dalam hal ini, dapat dipersoalkan: mengapa virus dapat berpindah “habitat” ke tubuh manusia? Apakah, kasus ini, seperti kasus pengrusakan pemukiman oleh gajah, atau hewan-hewan lain? Yakni reaksi akibat rusaknya habibat mereka. Apakah pandemi merupakan reaksi “perubahan lingkungan” yang diakibatkan manusia? Kita dapat periksa kembali, hubungan manusia dengan manusia lain; komunitas satu dengan komunitas lainnya; dan seterusnya. Pemeriksaan ini, tentu untuk melihat kembali, bagaimana pola hubungan yang berlangsung. Apakah pola tersebut disusun didasarkan pada relasi adil dan keutamaan kemanusiaan? Yakni kemanusiaan yang bersifat ke dalam dan ke luar (tanggungjawab pada lingkungan).

     

    Hari Depan

    Pembicaraan hari depan tidak mungkin tanpa menyelesaikan persoalan hari ini? Kita berpandangan bahwa masalah hari ini, akan dapat diselesaikan dengan menata gerak rasa kemanusiaan. Penataan yang dimaksud adalah upaya memberikan ruang bagi rasa kemanusiaan untuk memandu setiap langkah yang diambil, pada tiga arena berikut. Pertama, arena pengambilan kebijakan publik. Hal pokok yang diharapkan adalah agar setiap kebijakan didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan dan menjamin tidak memberi ruang pada kepentingan di luar kepentingan kemanusiaan. Ada harapan besar, agar apa yang kini telah berjalan, khususnya 3T (Testing, Tracing, dan Treatment), dapat ditingkatkan, baik kuantitas maupun kualitasnya.

    Kedua, arena ekonomi. Kita percaya bahwa dunia usaha sangat concern dengan nilai-nilai kemanusiaan, dan karena itu, selalu berupa sekuat mungkin, untuk menjalankan usaha dengan protokol kesehatan yang ketat. Oleh sebab itulah, dunia usaha sangat perlu mendapatkan dukungan, agar upayanya dapat menjadi bagian dari upaya bersama. Dukungan sangat dibutuhkan, agar bagaimana pun dunia usaha menjadi pihak yang sangat terpukul dengan keadaan yang mengubah pola mobilitas dan konsumsi publik. Soalnya, bukan pertama-tama mengenai keberlanjutan usaha, melainkan pada dampak publik yang luas, seperti angka pengangguran dan menyempitnya akses publik pada barang kebutuhan. Penyelamatan ekonomi adalah suatu keharusan, dan para pelaku usaha menyadari penuh, bahwa upaya tersebut hanya mungkin jika masalah kesehatan dapat diatasi dengan baik.

    Ketiga, arena komunitas. Kesanggupan utama untuk mengendalikan penyebaran virus, sesungguhnya ada pada komunitas (warga). Kita tentu percaya bahwa setiap warga pada dirinya ada kekuatan kemanusiaan yang tinggi, dan karena itu, tantangannya adalah bagaimana menghidupkan kekuatan tersebut. Gerakan menghindari virus, atau gerakan 3M, yakni: (1) menjaga jarak fisik; (2) mencuci tangan; dan (3) memakai masker, tentu akan lebih masif dan penuh disiplin, manakala didorong oleh rasa kemanusiaan dan pengetahuan yang cukup. Pada titik inilah edukasi sistematis dibutuhkan. Gerakan 3 S (semprot semua sarana) juga diupayakan semaksimal mungkin oleh para relawan PMI dengan dukungan masyarakat.  Semua kekuatan edukasi dapat dikerahkan, seperti dunia pendidikan, kelompok keagamaan, birokrasi (sipil dan militer), dunia usaha, maupun kelompok relawan dan komunitas basis. Proses ini, tidak saja meratakan pengetahuan, tetapi sekaligus “memperkuat nilai-nilai kemanusiaan” dan solidaritas.

    Dengan ketiga hal itulah, kita akan dapat lebih segera mengatasi masalah kesehatan, yang berarti putusnya mata rantai penyebaran, sehingga beban pada tenaga kesehatan berkurang drastis, dan keadaan kembali seperti biasa. Pulihnya kesehatan publik, akan dapat menjadi modal mengatasi masalah lain, yang muncul sebagai akibat krisis kesehatan. Namun demikian, hal yang amat perlu disadari bahwa terdapat peluang yang besar, akan terjadinya perubahan yang bersifat paradigmatic, setidak-tidaknya dalam kaitannya dengan relasi manusia dan lingkungan. Hal ini berarti, dibutuhkan tata hidup masa depan, yang tidak bersifat mengulang kesalahan-kesalahan di masa lalu, yang telah membawa umat manusia dalam kesulitan global. Kita berharap Indonesia menjadi negeri yang ikut menyumbang perubahan global tersebut. Bukankah hal ini yang merupakan cita-cita kemerdekaan, sebagaimana yang termuat dalam Pembukaan UUD’45?

    (Sudirman Said merupakan Ketua Institut Harkat Negeri)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19

    Jaga kesehatan mental saat pandemi Covid-19 dengan panduan langsung dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).