Mulan dan Serangkaian Keributannya

Oleh

Seorang perempuan berjalan melewati iklan yang mempromosikan film Disney "Mulan" di halte bus di Beijing, Cina 9 September 2020. [REUTERS / Carlos Garcia Rawlins]

MULAN

Sutradara: Niki Caro
Skenario: Rick Jaffa, Amanda Silver, Lauren Hynek, dan Elizabeth Martin, berdasarkan film animasi Disney, Mulan, yang ditulis Tony Bancroft dan Barry Cook
Pemain: Liu Yifei, Donnie Yen, Gong Li, Jet Li, Tzi Ma, Jason Scott Lee, Yoson An, Ron Yuan
Produksi: Walt Disney Pictures

Ada Mulan dan ada “Mulan”.
Lalu ada juga Mulan yang kita kenal dengan si naga Mushu yang berisik dan lucu.

Film Mulan yang pertama dan kedua adalah film live action. Yang pertama berjudul Mulan: Rise of a Warrior (2009) arahan sutradara Jingle Ma dan produksi Tiongkok, sedangkan film Mulan (Niki Caro, 2020) adalah produksi Walt Disney Pictures yang sudah menimbulkan kehebohan jauh sebelum beredar.

Kisah Mulan sebetulnya diambil dari sebuah puisi panjang berjudul “The Ballad of Mulan” yang ditulis sekitar abad keenam. Tapi dunia (baca: Barat) mengenal cerita Mulan berdasarkan film animasi Mulan (1998), sebuah produk ramuan musikal, komedi, dan drama dari Disney.

Melalui film animasi itu, penonton dunia Barat mengetahui cerita dasar Mulan sebagai seorang gadis keluarga Hua yang berupaya menggantikan ayahnya untuk ikut wajib militer. Di masa Kekaisaran Han, setiap lelaki dalam keluarga diwajibkan ikut berperang untuk melawan serangan kaum Hun pimpinan Shan Yu. Mulan mengalami berbagai tantangan agar identitasnya tak terungkap. Tapi, dengan kemahirannya bertempur, dalam versi Beijing, akhirnya dia berhasil mencapai tingkat teratas pasukan imperial.

Pada 1990-an, Disney menyadari bahwa “Disney Princess” yang cantik dan ringkih sudah harus berubah wajah. Konsep tokoh perempuan yang menanti pangeran menjemput atau menunggu pangeran mencium dan menyelamatkannya dari penderitaan sudah kedaluwarsa. Dan mereka mulai memperkenalkan sosok mandiri dan berani mempertahankan prinsip sebagai keputusan bisnis. Disney tahu penonton pada tahun-tahun itu menyukai yang tegak merasakan “warna angin” seperti Pocahontas (1995) atau yang berani mengacungkan pedang seperti Mulan (1998).

Maka, begitu Disney memasuki era mengulang sukses dengan menggunakan aktor-aktris serta membuang segala sifat luwes dan jenaka animasi, problem itu muncul bertubi-tubi. Bagaimanapun, karakterisasi animasi yang bebas dan hiperbolis harus ditafsir ulang. Penafsiran ulang itu kadang menjadi lebih “santun” ketika menggunakan aktor atau aktris. Problem lain dari membuat live action adalah jika para tokoh utama merupakan binatang yang terpaksa dibuat dengan teknologi photorealistic computer-animated seperti The Lion King.

Film Mulan (2020) sebetulnya sudah dipersoalkan jauh sebelum film itu ditayangkan. Mengetahui bahwa film ini akan dibuat sebagai film drama tanpa musikal saja sudah membuat penggemar animasi Mulan geger. Situasi kian parah ketika tahun lalu aktris pemeran Mulan, Liu Yifei, menyatakan dukungannya kepada polisi yang menghajar demonstran prodemokrasi di Hong Kong. Tak aneh, saat film ini akan beredar, terjadi gerakan boikot. Problem di luar film berikutnya lantas muncul: sebagian lokasi syuting film ini dilakukan di area Xinjiang, yang hingga saat ini menjadi sorotan dunia karena pelanggaran hak asasi manusia.

Mulan arahan Niki Caro—di luar persoalan pandangan politik pemainnya—sebetulnya sudah menemukan nasib buruk karena sejak awal dibuat berdasarkan persepsi Hollywood terhadap legenda Tiongkok. Penonton dipaksa dan dijejali sebuah film yang sejak awal dibingkai dengan selera dan paradigma Hollywood. Dari hal yang ringan seperti bagaimana Hollywood ingin memanjakan penonton Amerika yang malas membaca subtitle, sehingga seluruh film menggunakan bahasa Inggris, sampai persoalan-persoalan yang prinsipiel, seperti pemilihan lokasi yang mengejutkan.

Dari sisi cerita, Niki Caro dan tim penulis skenario jelas mengadakan banyak perubahan dibanding film animasi versi 1998. Tapi sebetulnya perubahan itu mirip dengan Mulan: Rise of a Warrior (2009). Sutradara Jingle Ma dan Niki Caro sama-sama memperkenalkan Mulan yang sejak kecil sudah menguasai martial art dan kelakuannya yang kelelakian tidak memudahkan kehidupan sosial orang tuanya.

Saat Mulan di masa gadis, orang tuanya sudah sibuk mencarikannya jodoh, tapi dia justru merasa harus menggantikan bapaknya menjadi bagian dari tentara imperial. Caranya? Sementara dalam versi animasi dia memotong rambutnya sendiri, di film versi produksi Beijing dan Hollywood ini Mulan yang cantik itu membebat dadanya dengan setagen dan mengikat rambut panjangnya, lazimnya para lelaki di zaman itu.

Karena versi Beijing dan Hollywood sama-sama live action, kita tak akan menemukan si naga cerewet Mushu atau si jangkrik Cricket sebagai comedic relief. Hollywood malah menambahkan tokoh penyihir perempuan Xianniang (Gong Li) yang sedemikian saktinya hingga bisa berubah-ubah bentuk dan penampilan (lazim disebut shapeshifter).

Xianniang sebetulnya tokoh yang bisa menjadi kompleks dan menarik karena bersekutu dengan Bori Khan, musuh yang berniat menjungkalkan Kaisar. Tapi persekutuan itu rapuh dan Xianniang digambarkan sebagai perempuan marginal yang tak pernah diakui. Sayangnya kedahsyatan Gong Li, seperti halnya Jet Li, tidak terlalu digali dan dimanfaatkan sedalam-dalamnya.

Tambahan subplot dalam Mulan baru versi Hollywood yang lain adalah tokoh adik perempuan Mulan sebagai wakil “perempuan ideal” di masanya: tak merepotkan orang tua dan patuh ketika harus berdandan agar bisa memperoleh jodoh.

Sinematografi yang panoramik, terutama dalam adegan perang kolosal dan warna-warni terang-benderang: merah, kuning, hijau yang menabrak layar, mencoba mencapai kemegahan, tapi gagal membuat film ini sebagai sebuah film penting, apalagi film bagus.

Di bawah arahan Niki Caro, muncul konsep ch’i , kira-kira semacam kekuatan energi, di dalam diri Mulan (sesuatu yang tak ada dalam animasi). Ch’i inilah yang terus-menerus digaungkan sebagai energi Mulan yang hanya akan muncul jika dia jujur kepada dirinya dan orang lain tentang dirinya. Setidaknya itulah yang dikatakan penyihir Xianniang di antara sepak terjang perseteruan fisiknya melawan Mulan. Hanya dialah yang tahu betul identitas Mulan.

Dalam animasi dan versi Beijing (2009), Mulan cukup lama menyamar menjadi lelaki, sedangkan dalam versi terbaru, setelah kedoknya terbuka, Mulan muncul dengan dramatik, berbaju merah dengan rambut licin berombak seperti baru keluar dari salon.

Problemnya juga tak berhenti pada persoalan gambar yang serba mengkilap, tapi lebih lagi pada bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahasa komunikasi, sementara dialog adalah bagian dari seni peran. Tentu saja Gong Li dan Donnie Yen (berperan sebagai Komandan Tung) tidak tampil buruk. Tapi, sebagai aktor veteran, mereka jauh lebih sempurna ketika tampil dalam bahasa ibu.

Bahwa film ini memilih menjadi film drama, dan bukan musikal, bukanlah sesuatu yang mengherankan. Versi sutradara Jingle Ma yang menampilkan Zhao Wei sebagai Mulan bahkan mengabdikan satu bagian panjang saat Mulan berlama-lama galau ketika peperangan memakan korban. Adegan perang dan kegelapan masa depan menjadi bagian utama babak kedua hingga akhir.

Adapun Mulan versi Hollywood lebih menekankan Mulan—yang sudah berjaya sebagai pemenang dan ikon imperium—toh kepingin pulang mengabdi kepada keluarga. Soal pacar-pacaran dalam Mulan terbaru ini dihapus hingga terasa samar-samar. Tokoh Kapten Li Shang dalam animasi yang berupa tumpukan otot yang saling tertarik dengan Mulan dalam samaran lelaki itu dihapus dan dibelah dua menjadi tokoh Chen Honghui (Yoson An), sesama tentara, dan atasan mereka, Komandan Tung.

Ketiga versi Mulan ini sesungguhnya mempunyai catatan masing-masing. Tapi film Mulan terbaru adalah versi yang paling problematik dan penuh skandal sehingga isi filmnya sendiri, yang sebetulnya buruk, tak sempat dipersoalkan lagi.

Leila S. Chudori






Bagaimana Kontestasi Politik Membentuk Kebijakan Seragam dan Aturan Pemakaian Jilbab di Sekolah Indonesia

1 hari lalu

Bagaimana Kontestasi Politik Membentuk Kebijakan Seragam dan Aturan Pemakaian Jilbab di Sekolah Indonesia

Dua dekade pasca reformasi hingga sekarang, interpretasi jilbab di lembaga pendidikan masih diwarnai kontestasi. Dunia pendidikan harus mampu membuka akses dan kesempatan untuk mengekspresikan pilihan dan kepentingan berbagai kelompok dan kelas dalam masyarakat.


Pahami Keberagaman dan Toleransi di Ruang Digital

2 hari lalu

Pahami Keberagaman dan Toleransi di Ruang Digital

Literasi digital yang baik akan mendorong pemanfaatan teknologi digital ke arah positif.


Literasi Digital Dapat Mengurangi Tindakan Cyber Bullying

2 hari lalu

Literasi Digital Dapat Mengurangi Tindakan Cyber Bullying

Cyber bullying merupakan kejadian seorang anak atau remaja diejek, dihina, diintimidasi, atau dipermalukan oleh anak atau remaja lain melalui media internet.


The Mauritanian: Buku Harian Berdarah dari Guantanamo

3 hari lalu

The Mauritanian: Buku Harian Berdarah dari Guantanamo

Sebuah pengakuan dari seseorang yang ditahan di Guantanamo selama 14 tahun tanpa tuduhan resmi. Jodie Foster memperoleh penghargaan Golden Globe untuk perannya sebagai pengacara.


Bahaya Tentara Merambah Jabatan Sipil

3 hari lalu

Bahaya Tentara Merambah Jabatan Sipil

Negeri ini memiliki pengalaman getir ketika pemerintahan dikendalikan oleh militer. Di era Orde Baru, atas nama dwifungsi, tentara tak hanya bertugas di bidang pertahanan, tapi juga merambah ke urusan sipil dan politik.


Indonesia Fasilitasi Lokakarya Identifikasi Arus Data Lintas Batas untuk Multistakeholder

8 hari lalu

Indonesia Fasilitasi Lokakarya Identifikasi Arus Data Lintas Batas untuk Multistakeholder

Indonesia Fasilitasi Lokakarya Identifikasi Langkah-langkah Penyeimbangan Kepentingan bagi Multistakeholder pada Arus Data Lintas Batas


Literasi Digital Sektor Pemerintahan di Lingkungan ASN Provinsi Jawa Tengah

8 hari lalu

Literasi Digital Sektor Pemerintahan di Lingkungan ASN Provinsi Jawa Tengah

literasi digital sektor pemerintahan untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) di Provinsi Jawa Tengah


Mengapa Permenkominfo tentang PSE Lingkup Privat Memblokir Kebebasan Sipil

9 hari lalu

Mengapa Permenkominfo tentang PSE Lingkup Privat Memblokir Kebebasan Sipil

Permenkominfo tentang PSE Lingkup Privat tak hanya mengancam kebebasan berpendapat dan berekspresi. Apa saja kekeliruan Permenkominfo tersebut?


"Slowbalisation" Perekonomian Dunia, Apa yang Harus Kita Lakukan?

13 hari lalu

"Slowbalisation" Perekonomian Dunia, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Apa itu "slowbalisation"? Bagi Anda yang sedang merencanakan investasi, pastikan untuk mengetahui profil risiko Anda sebelum berinvestasi.


15 hari lalu