Dark dan Logika Nihilis Tentang Kebebasan

Robertus Robet

Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Film Dark. Foto: Netflix

    Film Dark. Foto: Netflix

    Tahun 2041, Charlotte dilahirkan oleh pasangan Noah dan Elizabeth di sebuah hutan dekat Kota Winden. Sesaat setelah kelahirannya, Charlotte diculik oleh versi tua dirinya, dan versi tua dari Ibunya. Melalui perjalanan melintas waktu, di tahun 1971, Charlotte versi tua, meletakkan Charlotte versi bayi di depan rumah seorang pembuat jam bernama H.G. Tannhaus.

    Bayi Charlotte dibesarkan Tannhaus, hingga dewasa, menikah, dan memiliki dua anak, Franziska dan yang bungsu bernama Elizabeth, yang tak lain adalah ibunya sendiri. Demikianlah, Charlotte melahirkan Elizabeth di tahun 2011, tapi Elizabeth melahirkan Charlotte di tahun 2041. Anakmu sekaligus ibumu, dan kamu adalah ibu sekaligus anak dari anakmu sendiri.

    Bagaimana keruwetan silsilah ini bisa terjadi? Semua ini mungkin dengan syarat: pertama, ada kehidupan paralel di mana tiap orang memiliki versi-versi diri di waktu dan kehidupan yang lain. Kedua, terdapat pintu yang memungkinkan tiap versi orang keluar masuk dari satu waktu ke waktu yang lain, yang bisa membuat mereka berjumpa dengan versi dirinya yang lain. Dark, menceritakan secara intens kegilaan karut marut pelbagai versi diri para penduduk di sebuah kota bernama Winden. Winden mendadak diinterupsi oleh hidup paralel dan lalu lalang perjalanan antar waktu.

    Dikisahkan, warga Kota Winden itu dihidupi sekaligus diteror oleh sebuah reaktor nuklir. Kota itu secara psikologis dibekuk oleh ketakutan yang tertimbun mengendap di bawah sadar bahwa kiamat demikian lekat. Kiamat menggantung di atas kepala kita, kata Ulrich di awal-awal episode. Kota yang kelabu, sebagian anak mudanya bersiap meninggalkan kota diam-diam.

    Film Dark. Foto: Netflix

    Di suatu hari, timbunan ketakutan itu pecah dipicu oleh hilangnya seorang anak berumur 11 tahun bernama Michael, anak dari Ulrich dan Katharina Nielsen. Hilangnya Michael menyeret Ulrich ke dalam kenangan hitam dari tahun 1986, saat adiknya Mads Nielsen juga hilang tanpa pernah ditemukan. Hilangnya Michael mendorong Ulrich dan Charlotte (bosnya di kepolisian) memeriksa keganjilan-keganjilan di sekitar reaktor nuklir Winden.

    Penyelidikan pada akhirnya menyingkap komplikasi percobaan mesin waktu dan medan energi yang terbentuk dari sebuah partikel di sekitar reaktor nuklir. Eksperimen-eksperimen itu sedemikian rupa memicu terbukanya gerbang waktu dan kehidupan paralel. Di dalam Dark, gerbang paralel itu dilambangkan oleh sebuah gua dengan lorong yang bisa membawa orang melintas waktu, ke masa lalu atau ke masa depan.

    Kegelisahan dan kegilaan di Film Dark dimulai dari misteri dan kehilangan. Namun ini semua berubah: perlahan-lahan dan secara simultan orang menemukan bahwa mereka yang hilang ternyata melintasi waktu dan terlempar ke masa lalu atau masa depan. Di waktu dan kehidupan paralel, orang bukan hanya menemukan saudara dan sahabat mereka dalam versi yang lain, melainkan diri mereka sendiri dalam versi yang berbeda. Kegilaan akibat kehilangan, berubah menjadi kegilaan akibat pertemuan demi pertemuan dengan diri yang termultiplikasi.

    Demikianlah dunia di mana waktu dan kehidupan terbelah-belah, maka tiap orang punya kemunginan berhadapan dengan beberapa versi dirinya. Versi-versi orang bertumpuk dalam satu waktu. Ada Jonas yang mencintai Martha, tapi versi tua Jonas justru membunuh Martha versi muda. Orang berjumpa dengan dirinya di masa lalu dan dirinya di masa depan: diri termultiplikasi pada waktu yang tercacah. Multiplikasi diri menuntun orang ke dalam pertanyaan mengenai otentisitas: yang mana versi diri dan dunia serta sejarah yang sejati? Orang berlalu lalang melintasi sejarah namun secara paradoksal ia malah terjebak dalam lingkaran kemewaktuan yang getir, membingungkan, dan tanpa arti.

    Film Dark. Foto: Netflix

    Dark penuh dengan pelbagai dialog teoritis dan filsafat: Einstein-Rosen Bridges, Big Bang, Wormhole, partikel tuhan, Nietzsche, Goethe, mitologi Yunani, tapi Dark bukan sebuah fiksi tentang sains, juga bukan film yang sedang mengadvokasi bahaya nuklir apalagi tentang dunia pasca-apokaliptik. Salah satu kehebatan film ini (selain kehebatan sinematik, naskah, musik, dan castingnya) adalah kemampuan mengerahkan seluruh narasi saintifik tanpa mengganggu intensitas dan kedalaman persoalan dasar psikologis manusiawi dari tiap tokohnya.

    Dark menegaskan bahwa kiamat dan kutukan sejati perama-tama bukanlah soal yang ada di dalam teknologi, melainkan apabila orang ada di dalam siklus kehidupan yang tidak pernah putus. Dimensi paradoksal ini dikatakan oleh seorang tokohnya (Claudia) di pembuka episode terakhir: Setiap perjalanan memiliki awal. Tapi perjalananmu tak akan ada habisnya. Engkau ingin mengubah simpul tapi setiap langkah yang kau ambil malah memperpanjangnya.

    Dark menunjukkan justru karena dirimu banyak, maka fondasi sejarah hidupmu rontok, hidup seperti pohon tak berakar. Setiap orang melayang-layang gelisah dalam waktu. Engkau banyak, tapi keseluruhanmu tanpa basis eksistensial. Perjumpaan antara engkau dan dirimu bukan kejadian simbolik yang mendorong keheranan, melainkan konfrontasi ganjil antara pelbagai bentuk kehidupan yang banal.

    Di dalam kehidupan dan waktu paralel, tiap versi diri terasa bagai undakan anak tangga yang menjorok ke dalam sumur tanpa dasar. Perjumpaan dengan diri sendiri malah melempar kita ke dalam pekat-gelapnya realitas. Hidup sepenuhnya adalah kegelisihan total. Orang bisa mengintervensi masa lalu dan masa depannya, tapi tidak pernah bisa membuat diri lebih bahagia.

    Adalah Jonas dan kemudian Martha, dua figur dalam Dark, yang pada akhirnya menyadari bahwa satu-satunya jalan untuk memulihkan kehidupan yang singular dan memupus kehampaan dan kegelapan dari hidup paralel adalah dengan gigih menemukan simpul yang menjadi awal mula dari keterpecahan waktu. Kegigihan, kehendak hidup, dan cinta dilambangkan melalui jaket berwarna kuning yang dikenakan Jonas atau Martha, yang terasa kontrasnya di tengah nuansa pekat dunia sehati di Winden. Akhirnya, simpul itu mereka temukan dengan melintas ke ‘dunia awal’ yakni tempat dan waktu di mana ‘kesalahan pertama’ yang mengakibatkan keterbelahan itu dimulai.

    Perjalanan ini mengantarkan Jonas dan Martha berhadapan dengan situasi eksistensial: dengan mengubah masa lalu di ‘dunia awal’, memutus simpul, maka ia men-setting ulang seluruh eksistensi semua orang di Winden termasuk eksistensi diri mereka sendiri. Akibatnya, terdapat kemungkinan bahwa dunia kehidupan sesudahnya adalah dunia tanpa mereka berdua.

    Risiko ini dengan puitis/filosofis diungkapkan Martha di detik-detik terakhir perjalanan mereka dalam pertanyaan, "Apakah di sana, sedikit sisa diri kita akan masih ada? Apakah kita sungguh-sungguh ada?" Jonas menggenggam tangan Martha, keraguan terpancar dari matanya yang redup, murung dan lelah. Dia meyakinkan Martha dengan mengulang kalimat yang pernah ia ucapkan dulu, "kita adalah pasangan yang sejati…" Perlahan tubuhnya larut ke dalam dunia antah berantah. Dengan itu, Martha dan Jonas menggenapi sendiri mitos labirin Ariadne dan Theseus:

    Roda nasib yang berputar-putar. Satu takdir terikat pada takdir berikutnya
    Benang, merah seperti darah, menyatukan semua perbuatan kita
    Simpulnya tak dapat dibuka. Tapi bisa diputuskan
    Seseorang memutuskan simpul milik kita, dengan pedang paling tajam
    Namun ada yang tertinggal di belakang, yang tidak bisa dilepaskan atau terputus

    Pulihnya dunia kehidupan pertama-pertama bukan terjadi karena orang mampu mengubah 'kesalahan awal' dari masa lalu, melainkan karena keberanian untuk menghancurkan dan meleburkan diri simbolik kita. Eksistensi dan otentisitas hanya muncul secara paradoksal justru ketika orang punya keberanian untuk meletakkan dirinya dalam konfrontasi besar di dalam negativitas dengan risiko kehilangan total.

    Dark juga mengisahkan tergelincirnya orang yang berupaya meratapi dan menutup kehilangan dengan mencari-cari objek hasrat yang sama, padahal kehilangan justru hanya bisa diatasi apabila orang berani membatalkan dirinya sendiri. Dengan menghancurkan diri simbolik, orang punya peluang untuk memutus siklus dan labirin kegilaan serta keluar dari gelapnya sumur tanpa dasar kehidupan. Dark menutup seluruh film dengan orang-orang yang makan malam di dunia yang sudah terpulihkan, namun di pojok ruangan teronggok sehelai jaket kuning tua. Jaket kuning Jonas dan Martha.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hati-hati, Ada 5 Tempat Rawan Penularan Virus Corona di Kantor

    Penelitian mengumpulkan daftar lima titik risiko penyebaran Covid-19 di kantor. Sejumlah titik penularan virus corona sering kita abaikan.