Bom Waktu di Musim Kemarau

Bambang Hero Saharjo

Guru Besar Perlindungan Hutan Fakultas Kehutanan IPB dan Pakar Forensik Kebakaran Hutan dan Lahan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seekor ular mati di area kebakaran lahan gambut di kawasan Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis 19 September 2019. Kota Banjarbaru kini berstatus darurat Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) karena paling terdampak Karhutla dan Satgas Karhutla bersama relawan pemadam kebakaran beserta warga terus berupaya memadamkan Karhutla yang terus meluas di sejumlah daerah Provinsi Kalsel. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S

    Seekor ular mati di area kebakaran lahan gambut di kawasan Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis 19 September 2019. Kota Banjarbaru kini berstatus darurat Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) karena paling terdampak Karhutla dan Satgas Karhutla bersama relawan pemadam kebakaran beserta warga terus berupaya memadamkan Karhutla yang terus meluas di sejumlah daerah Provinsi Kalsel. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S

    KEBAKARAN hutan dan lahan 2019 menimbulkan bencana asap yang cukup hebat. Menurut data Copernicus Atmosphere Monitoring Service, emisi gas rumah kaca pada kebakaran hutan dan lahan tahun 2019 di Indonesia hampir setara dengan kebakaran hutan dan lahan sepanjang 2015. Padahal angka tahun lalu tersebut hanya mencerminkan kebakaran selama satu bulan setengah, yakni Agustus hingga pertengahan September.

    Sama dengan 2015, sebagian besar kebakaran 2019 terjadi di tujuh provinsi, yang memiliki hutan dan lahan gambut.  Sebagian areal gambut di tujuh wilayah ini terbakar. Melihat kejadian kebakaran hutan dan lahan 2019, Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah merupakan dua provinsi yang kebakaran hutan dan lahan gambutnya ketika itu paling luas.

    Bencana asap tahun 2015 banyak menimbulkan kerugian. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 24 orang meninggal dunia, lebih dari 600 ribu jiwa terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), 60 juta orang terpapar asap, 2,6 juta hektare hutan dan lahan terbakar, dan kerugian material Rp 221 triliun. Adapun tahun 2019, menurut sumber yang sama, jumlah korban meninggal lima orang, jutaan jiwa terpapar Asap, lahan serta hutan terbakar seluas 1,6 juta hektare, dan kerugian ekonomi mencapai Rp 75 triliun.

    Menurut hasil penelitian Stockwell et al pada 2016 berdasarkan penelitian terhadap kebakaran khususnya di Kalimantan Tengah 2015, ada 90 gas yang terdeteksi selama bencana asap di wilayah tersebut. Sebagian merupakan gas beracun. Misalnya gas Furan (C4H4O) yang jika dihisap oleh ibu hamil maka bisa menyebabkan anaknya yang kelak lahir cacat. Ada juga gas hidrogen sianida (HCN) yang jika dihirup bisa berisiko menyebabkan kematian. Oleh karena itu, sangat berbahaya sebenarnya petugas yang turun ke lapangan untuk memadamkan api di lahan gambut tanpa menggunakan pakaian pelindung yang memadai.

    Kebakaran hutan dan lahan gambut di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah terjadi di areal usaha dan kawasan lain. Kawasan itu adalah areal hutan yang dirambah dan dijadikan lahan untuk komoditas tertentu serta para penjual lahan ilegal kawasan hutan dengan menggunakan api untuk pembukaan lahannya.  Misalnya, terjadi di lahan gambut yang baru dibuka untuk perkebunan sawit, lahan gambut yang sudah ditanami sawit, dan areal hutan konsesi izin usaha pemanfaatan hasil hutan kau (IUPHH) dan non kayu (IUPHHBK). Upaya penegakan hukum sudah dilakukan atas tindakan perusahaan berikut manajemennya yang secara sengaja melakukan pembakaran untuk kepentingan pembukaan lahan.

    Penyebab kebakaran di areal konsesi tidak tunggal. Bukan hanya karena pembukaan lahan. Penyebab lainnya karena pembiaran (omission) baik karena kelalaian maupun kesengajaan, mengabaikan kewajiban water management mempertahankan muka air tanah (GWL) sesuai batas toleransi, serta tidak bekerjanya early warning system, dan early detection system. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah adanya koflik atau sengketa lahan dengan masyarakat dan sumber daya manusia yang tidak memiliki kemampuan dalam mencegah serta mengendalikan kebakaran.

    Di areal gambut yang akan dibuka perkebunan sawit atau hutan tanaman industri, tata kelola pembukaan lahan (land clearing) sangat mempengaruhi kebakaran di kawasan tersebut. Pembersihan serampangan akan membuat sisa-sisa pohon atau semak belukar menumpuk di permukaan lahan. Ironisnya, ini masih berlangsung hingga saat ini. Dengan kondisi lahan gambut terbuka, sampah-sampah pembersihan itu akan menjadi bahan bakar. Ini bisa menjadi bom waktu kebakaran hutan ketika ada yang menyulut api di sana. Sehingga kawasan semacam ini sudah seharusnya dijaga 24 jam agar tidak ada api yang masukke kawasan tersebut.

    Sudah bisa dipastikan, kebakaran yang muncul di lahan gambut adalah faktor kesalahan manusia. Hanya ada dua penyebab kebakaran karena faktor alam. Pertama adalah karena petir. Biasanya tidak berlangsung lama karena setelah muncul petir kerap diikuti turunnya hujan. Penyebab alam kedua adalah lava gunung berapi. Sejauh ini tidak ada gunung berapi di sekitar lahan dan hutan gambut yang terbakar. Biang keladinya tentu saja adalah faktor manusia, entah itu karena kelalaian mapun kesengajaan.

    Banyak kejadian kebakaran di lahan dan hutan gambut sulit dipadamkan. Selain karena water management system-nya buruk, terdapat sejumlah faktor lain yang turut menentukan. Misalnya pernah ada areal gambut yang terbakar hingga mencapai 20 ribu hektare di Sumatera Selatan. Ini terjadi salah satunya karena upaya pemadaman kebakarannya tidak tepat. Upaya water bombing dengan helikopter dan pesawat yang nilai sewanya mencapai miliaran relatif tak bisa memadamkan kebakaran di aeral gambut.  Belum sampai ke permukaan lahan yang terbakar, air itu sudah menguap karena tingginya suhu di lahan gambut yang mencapai lebih dari 1000 derajat celsius.

    Memahami karekteristik kebakaran di lahan dan hutan gambut menjadi kunci pengendalian kebakaran di kawasan terdampak. Ada jenis kebakaran di areal ini, yakni kebakaran permukaan dan kebakaran gambut. Dua karakteristik kebakaran ini menuntut cara penanganan yang berbeda. Kebakaran permukaan memiliki beberapa ciri, yakni biasanya masih ditemukan nyala api, permukaan masih dipenuhi bahan bakar, kebakaran dengan suhu tinggi hingga 1000 derajat celsius, sulit dikendalikan karena dipengaruhi faktor cuaca terutama angin, dan penjalaran api dapat diperkirakan.

    Adapun untuk kebakaran gambut memiliki karakteristik kebakaran berada di bawah permukaan, asap banyak dengan emisi rumah kaca yang tinggi, tidak diketahui kepala apinya, laju penjalaran api lambat dan bertahan lama, sulit dikendalikan, relatif berbahaya karena api bisa memakan akar pohon sehingga bisa tumbang menimpa petugas yang tengah memadamkan kebakaran, dan pemadaman melalui water bombing tidak berguna.  Upaya menghetikan laju api di lahan dan hutan gambut merupakan pemadaman semu.

    Kebakaran di lahan dan hutan gambut ini tidak tidur. Sehingga jika pengendaliannya tidak benar, api akan terus menjalar ke mana-mana. Upaya yang bisa dilakukan adalah menggunakan metode pembasahan lahan gambut atau menggunakan lumpur. Tapi, ini juga sangat tergantung dengan sarana dan prasarana yang tersedia serta jumlah personil yang besar. Banyak kasus kebakaran di lahan dan hutan gambut sulit dikendalikan, dan berhenti saat seluruh areal terbakar habis atau turun hujan.

    Oleh karena itu sangat penting melakukan upaya pencegahan di areal gambut. Sejumlah langkah bisa dilakukan adalah mengaktifkan fungsi canal blocking dalam meningkatkan tinggi muka air tanah, memastikan adanya sumur bor dan embung yang benar-benar berfungsi sebagai sumber air ketika terjadi kebakaran nanti, memastikan early warning system bekerja, begitu juga dengan keberadaan menara pengawas.

    Dalam urusan pencegahan dalam pengendalian kebakaran di areal gambut, Indonesia sesungguhnya sudah memiliki teknologi dan pengetahuan tentang hal ini. Undang-undang dan aturan turunannya yang mengatur hal tersebut juga sudah tersedia. Bahkan, titik kebakarannya mudah terdeteksi, terjadi di wilayah yang sama, termasuk di Kutai Kertanegara, yang dekat dengan calon ibu kota baru.

    Permasalahan kenapa kebakaran hutan dan lahan ini terus berulang terletak pada perilaku manusianya. Ada yang motifnya menghemat biaya sehingga melakukan pembukaan lahan serampangan bahkan dengan pembakaran. ada juga segelintir perusahaan yang ingin mendapatkan keuntungan dari pihak asuransi jika lahannya hangus terbakar. Pembenahan bisa dimulai dengan menginvetarisir lahan-lahan gambut yang saat ini terbuka dan di atasnya berserakan bahan bakar. Tindakan pencegahan harus segera dilakukan di areal-areal seperti ini sehingga tak menjadi bom waktu saat musim kemarau tahun ini tiba, yang puncaknya diperkirakan pada Agustus nanti.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.