Jangan Terserah Pemerintah

Koran Tempo

Enak dibaca dan perlu.

Jokowi Targetkan Kurva Kasus COVID-19 Rendah di Bulan Juli

PEMERINTAH seharusnya konsekuen dengan kebijakannya menghentikan penularan Covid-19. Saat ini wabah virus corona belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Melonggarkan aktivitas masyarakat untuk menggerakkan kembali perekonomian justru bisa membuat keadaan makin buruk.

Di DKI Jakarta memang ada perkembangan bagus. Kurva kasus Covid-19 melandai sejak pekan ketiga April lalu. Tapi Ibu Kota masih jauh dari aman. Kurva hanya melandai sedikit di bawah puncak, dengan kasus baru Covid-19 masih sekitar 100 orang per hari. Di sejumlah provinsi lain, kurvanya bahkan terus menanjak.

Dengan penularan yang masih tinggi, pemerintah semestinya makin ketat menerapkan aturan guna menekan wabah. Faktanya, pemerintah malah mengizinkan orang berusia 45 tahun ke bawah kembali bekerja. Pemerintah pun melonggarkan aturan transportasi publik dengan dalih untuk perjalanan dinas. Masalahnya, seperti temuan Ombudsman, pengecekan oleh petugas di lapangan masih longgar. Syarat bepergian pun bisa diakali.

Aturan yang tidak konsisten tersebut merupakan buah dari pertimbangan pejabat yang tidak kompeten. Sering kali pula para pejabat memberikan keterangan yang berbantahan. Ada juga “bermain” kata-kata untuk menganulir kebijakan sebelumnya. Wajar jika masyarakat menjadi apatis, bahkan sinis. Kekesalan mereka terhadap kebijakan yang mencla-mencle sampai melahirkan ungkapan “Indonesia terserah”, yang viral di media sosial.

Keliru besar jika pemerintah latah melihat pengenduran pembatasan sosial, seperti di Selandia Baru, Jerman, Thailand, ataupun Vietnam. Mereka membuka lagi aktivitas ekonominya setelah menerapkan restriksi sosial yang ketat. Di negara-negara itu, wabah pun telah mereda. Selandia Baru, contohnya, memberlakukan keadaan “normal baru” setelah menerapkan karantina wilayah total selama dua bulan serta tak ada lagi kasus baru Covid-19 sejak akhir April lalu.

Di negara-negara yang telah melewati puncak pagebluk, data dan otoritas medis menjadi panglima. Kebijakan pemerintah mengacu pada pertimbangan tersebut. Protokol ketat pun dijalankan agar penularan virus terputus. Masyarakat patuh karena pemerintahnya tidak plinplan.

Sedangkan di Indonesia, pemerintah belum optimal meredakan pandemi. Apalagi ancaman wabah gelombang kedua masih mengintai. Di negara semaju Prancis, contohnya, setidaknya 70 anak terinfeksi virus corona hanya dalam sepekan sejak sekolah dibuka lagi. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi di negeri ini jika gelombang kedua wabah itu datang.

Bahkan jika kurva penularan corona sudah melandai, sejumlah syarat untuk memberlakukan keadaan “normal baru” harus terpenuhi. Pemerintah seharusnya memastikan sistem kesehatan benar-benar siap untuk mengantisipasi lonjakan angka kasus baru. Pemerintah juga perlu menyiapkan panduan beraktivitas dalam situasi “normal baru” tersebut. Pelonggaran pun seharusnya tak berlaku nasional, melainkan berbasis kondisi epidemiologis suatu daerah.

Karena belum memenuhi syarat pelonggaran, pemerintah jangan tergesa-gesa mengendurkan pembatasan sosial. Membenturkan kepentingan ekonomi dan kesehatan terlalu menyederhanakan persoalan. Bagaimanapun, kesehatan masyarakat harus didahulukan. Jika pandemi berhasil ditekan, pulihnya perekonomian akan mengikuti. Sebaliknya, pelonggaran ketika wabah masih merajalela tidak menjamin perekonomian akan sembuh.*






Tragedi Kemanusiaan Kanjuruhan

1 hari lalu

Tragedi Kemanusiaan Kanjuruhan

Penembakan gas air mata oleh polisi yang menyebabkan tragedi Kanjuruhan harus diusut.


Kolom The Outlaw Ocean Project: Profesi Ini Paling Maut Sekaligus Paling Kejam?

4 hari lalu

Kolom The Outlaw Ocean Project: Profesi Ini Paling Maut Sekaligus Paling Kejam?

Kejahatan, kekerasan, dan perbudakan di kapal penangkap ikan terus terjadi. Bagaimana cara mencegahnya?


Ribuan Peserta BPJS Ketenagakerjaan di Ternate Terima BSU Tahun 2022 Dari Presiden

6 hari lalu

Ribuan Peserta BPJS Ketenagakerjaan di Ternate Terima BSU Tahun 2022 Dari Presiden

Program BSU ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mempertahankan daya beli pekerja dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari


Dosa Jakarta di Kasus Korupsi Lukas Enembe

9 hari lalu

Dosa Jakarta di Kasus Korupsi Lukas Enembe

Kasus korupsi Lukas Enembe menyingkap kesalahan pemerintah pusat dan daerah. Salah urus, dana otonomi khusus gagal menyejahterakan warga Papua.


Agar Anak Terlindung dari Kejahatan Seksual

15 hari lalu

Agar Anak Terlindung dari Kejahatan Seksual

Kasus kejahatan seksual terhadap anak merajalela. Selain menegakkan aturan, kampanye dan edukasi perlu digencarkan untuk membangun kesadaran masyarakat.


Bjorka: Antara Dendam dan Ketahanan Keamanan Siber Indonesia

19 hari lalu

Bjorka: Antara Dendam dan Ketahanan Keamanan Siber Indonesia

Aksi Bjorka tentu membuat lalu lintas perbincangan publik menjadi riuh, dari ruang istana, universitas, hingga warung kopi. Bjorka berhasil memecah ombak berbagai isu kejahatan yang sedang terjadi di negara ini.


Nasehat Sederhana untuk Pemerintah, Jangan Pernah Menyusahkan Hidup Rakyat

22 hari lalu

Nasehat Sederhana untuk Pemerintah, Jangan Pernah Menyusahkan Hidup Rakyat

Cerita Revolusi Perancis, Revolusi Amerika, Revolusi Kemerdekaan, dan Revolusi lainnya, berawal dari rasa bosan dan jijik rakyat kepada kekuasaan yang sudah mulai melupakan akarnya.


Peretasan Bjorka: Kalang Kabut Atasi Kebocoran Data

22 hari lalu

Peretasan Bjorka: Kalang Kabut Atasi Kebocoran Data

Aksi peretasan Bjorka memberi pesan kelemahan sistem teknologi dan informasi pemerintah Indonesia. Darurat perlindungan data pribadi.


Di Balik "Amplop Kiai"

27 hari lalu

Di Balik "Amplop Kiai"

Sudah bukan rahasia, konflik terbuka itu merupakan buntut dari pernyataan tentang "amplop kiai" yang disampaikan Sumo saat acara Pembekalan Politik Cerdas Berintegritas di KPK beberapa waktu lalu. Protes keras terhadap Ketua Umum yang juga Meneg PPN dan Kepala Bappenas itu sudah bergulir dalam beberapa pekan terakhir.


Sebuah Hari Esok untuk Nana

28 hari lalu

Sebuah Hari Esok untuk Nana

Film terbaru karya Kamila Andini yang diangkat dari satu bab biografi ibunda Jais Darga. Sebuah puisi yang tampil dengan lirih sekaligus menyala.