Ekonomi di Tengah Pandemi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan menunggu konsumen di sebuah kios telepon seluler yang masih buka di antara kios yang tutup saat merebaknya wabah COVID-19 di Terminal Blok M, Jakarta, 13 April 2020. Tak bisa mengelak, sektor UMKM adalah sektor yang paling pertama terdampak wabah COVID-19 karena ketiadaan kegiatan di luar rumah oleh sebagian besar masyarakat. Kondisi tersebut diperparah dengan kendala impor bahan baku dan barang modal dari China yang menjadi episentrum pandemi. ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA

    Karyawan menunggu konsumen di sebuah kios telepon seluler yang masih buka di antara kios yang tutup saat merebaknya wabah COVID-19 di Terminal Blok M, Jakarta, 13 April 2020. Tak bisa mengelak, sektor UMKM adalah sektor yang paling pertama terdampak wabah COVID-19 karena ketiadaan kegiatan di luar rumah oleh sebagian besar masyarakat. Kondisi tersebut diperparah dengan kendala impor bahan baku dan barang modal dari China yang menjadi episentrum pandemi. ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA

    Kiki Verico

    Tenaga Ahli Menteri Keuangan Bidang Industri & Perdagangan Internasional dan Dosen FEB UI (CISDI)

    Pandemi memaksa ekonomi kembali seperti sebelum abad ke-19, yaitu tanpa jaringan manufaktur dan transportasi global. Sektor ekonomi yang "seolah-olah hilang" adalah sektor yang selama ini menjadi pusat globalisasi, yaitu jaringan manufaktur global (global production network) serta jaringan jasa dan mobilisasi manusia (global services and transportation). Dari sisi produksi, penurunan kapasitas manufaktur berdampak pada turunnya permintaan atas energi, seperti minyak, gas, dan mineral. Pandemi juga membuat permintaan dunia atas produk manufaktur, seperti barang elektronik, kendaraan bermotor, pakaian, dan alas kaki, menurun tajam. Melemahnya jaringan produksi, permintaan global, dan mobilisasi manusia berdampak luas hingga ke sektor jasa lain, seperti akomodasi, restoran, dan perdagangan retail.

    Penurunan jaringan produksi dan jasa global tecermin pada penurunan perdagangan internasional dan investasi di semua negara, termasuk Indonesia. Turunnya arus investasi dan perdagangan internasional membuat ekonomi kehilangan sumber utama pertumbuhannya. Konsumsi juga ikut turun karena hubungan konsumsi dan pertumbuhan adalah sebab-akibat. Ketika konsumsi turun, sisi permintaan ekonomi makro turun sehingga harapan bagi sumber pertumbuhan ekonomi adalah pengeluaran pemerintah. Namun ada tantangannya. Pertama, penerimaan pemerintah ikut turun akibat menurunnya aktivitas ekonomi. Kedua, proporsi konsumsi total dalam ekonomi mencapai empat kali lebih besar dari proporsi konsumsi pemerintah. Artinya, pandemi tidak hanya menurunkan sisi penawaran, tapi juga permintaan. Sebagai antisipasi, dalam jangka waktu singkat, pengeluaran pemerintah diarahkan untuk membantu konsumsi kebutuhan pokok masyarakat yang terkena dampak dengan berfokus pada penanggulangan pandemi, penyediaan jaring pengaman sosial, serta dukungan pada sektor riil dan keuangan.

    Pada dasarnya, yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi adalah dunia usaha. Peran pemerintah bersifat menanggulangi dampak pandemi dan mendukung dunia usaha. Aktivitas ekonomi, baik di pabrik maupun di sektor konstruksi, transportasi, pusat belanja, restoran, hotel, dan tempat wisata, akan berbeda dengan sebelum pandemi. Protokol kesehatan, seperti menjaga jarak dan menggunakan masker, akan menjadi bagian dari keseharian sampai vaksin dan obat ditemukan. Artinya, kapasitas produksi dan jasa saat ini tidak akan sebesar saat sebelum pandemi terjadi. Sektor-sektor ekonomi mana yang berpotensi menjadi penggerak?

    Sektor pertanian, manufaktur makanan dan minuman, konstruksi, serta perdagangan dan jasa keuangan merupakan sektor yang berpotensi menjadi penggerak. Adapun sektor informasi dan komunikasi, jasa pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan kegiatan sosial merupakan sektor dominan selama pandemi. Dominan karena tingginya kebutuhan atas jasa kesehatan, pendidikan, kegiatan sosial, dan data, terutama sejak semua aktivitas, baik bekerja, belajar, maupun beribadah, harus dilakukan secara online dari rumah. Sektor penggerak dan dominan akan menjadi lokomotif bagi sektor lain, seperti transportasi, akomodasi, restoran, dan logistik.

    Ketika pandemi, sektor yang paling besar terkena dampak secara ekonomi adalah yang paling kuat hubungannya dengan sektor lain. Hubungan itu terlihat pada sektor yang memiliki daya dorong ke depan (forward linkage) dengan menjadi input bagi sektor lain dan memiliki daya tarik ke belakang (backward linkage) karena menjadi output bagi sektor lain. Perhitungan input-output Indonesia menunjukkan bahwa barang elektronik, komputer, mesin produksi, kendaraan bermotor, dan bahan baku tekstil adalah yang paling kuat hubungannya dengan sektor lain. Manufaktur ini justru menanggung dampak pandemi global karena industri pakaian jadi, alas kaki, tekstil, barang elektronik, dan kendaraan bermotor adalah deretan industri abad ke-19 hingga ke-21 yang paling terkena dampak dari pelemahan jaringan global. Sektor manufaktur ini membutuhkan waktu untuk bergerak karena menunggu jaringan produksi dan investasi global kembali normal.

    Di sisi lain, saat ekonomi global terpuruk, banyak negara terpaksa memproduksi semua kebutuhannya sendiri. Permintaan atas alat kesehatan, seperti ventilator oksigen, tempat tidur rumah sakit, alat pelindung diri, dan produk farmasi, meningkat, sementara suplai dunia terbatas sehingga produk-produk penting ini menjadi langka. Indonesia, yang unggul pada penjahitan dan perakitan tapi bahan baku dan mesinnya impor, harus melakukan lompatan besar dengan membuat bahan baku dan mesin sendiri. Beberapa produk, seperti ventilator oksigen, terbukti mampu dibuat Indonesia secara mandiri. Pandemi memberikan pelajaran bahwa Indonesia mampu melakukan transformasi ekonomi dari penghasil bahan mentah, perakit, dan penjahit menjadi penghasil bahan baku dan mesin. Sembari menunggu jaringan global hidup kembali, Indonesia dapat mempersiapkan diri untuk transformasi ekonomi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.