Bermain Api Pelonggaran Pembatasan Sosial

Oleh

Petugas gabungan menindak pengendara motor yang tidak memakai masker di titik pemeriksaan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Cibinong, Bogor, Jumat, 1 Mei 2020, Pemerintah melakukan berbagai upaya guna mencegah penyebaran COVID-19 salah satunya menggunakan masker, namun imbauan tersebut masih saja diabaikan karena rendahnya kesadaran masyarakat. ANTARA/Yulius Satria Wijaya

TERLALU dini bagi pemerintah untuk melonggarkan pembatasan sosial berskalabesar (PSBB), terutama di pusat-pusat ekonomi. Pemerintah akan menghidupkan kembali sentra-sentra bisnis yang masih bisa beroperasi di tengah pandemi Covid-19. Niat pemerintah ini dikemukakan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan KeamananMahfud Md. pekan lalu.

Pemerintah tampaknya melihat kondisi ekonomi, terutama di level menengah ke bawah yang benar-benar menderita, perlu segera dibantu. Belum lagi penderitaan puluhan ribu pekerja yang dirumahkan atau terkena pemutusan hubungan kerja, termasuk para pengemudi angkutan online yang kehilangan konsumen. Bantuan langsung tunai jelas tak akan banyak menolong karena angkanya yang masif. Pelonggaran pembatasan mungkin lebih bisa membantu mereka bangkit.

Tidak ada yang salah dengan pertimbangan tersebut. Namun tetap harus diingat bahwa penerapan pembatasan sosial berskala besar tidaklah didasarkan pada pertimbangan ekonomi atau bisnis, melainkan kesehatan. Parameternya jelas: penambahan jumlah pasien dalam pengawasan, jumlah penderita positif corona, jumlah kematian, dan jumlah yang sembuh, serta pola sebaran dan penularannya. Jika trennya menurun, pelonggaran bisa dipertimbangkan.

Itulah sebabnya, data yang menyeluruh dan konsisten menjadi sangat penting. Apa yang terjadi di Jakarta bisa dijadikan contoh. Sampai 21 April 2020, muncul optimisme yang luar biasa karena penambahan jumlah kasus positif corona menurun dan kurvanya cenderung melandai. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sudah mulai berbicara tentang pengakhiran PSBB. Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19Doni Monardo bahkan mengatakan bahwa wabah Covid-19 akan berakhir pada Juni.

Pernyataan Doni dan optimisme para pejabat pemerintah bisa sangat menyesatkan. Salah satu buktinya adalah Jakarta. Dalam sepekan terakhir, jumlah penambahan kasus positif corona kembali melonjak ke angka di atas 100 orang per hari. Dalam sepekan terakhir dibandingkan dengan pekan sebelumnya, data nasional juga menunjukkan peningkatan kasus positif corona meskipun tipis, yakni 334 kasus berbanding 327 kasus. Artinya, peluang untuk melonggarkan, apalagi mengakhiri pembatasan sosial, sangat kecil.

Terlebih PSBB di Jabodetabek, kawasan episentrum Covid-19, ternyata tidak dijalankan dengan optimal. Hasil kajian Centre for Strategic and International Studies bersama Facebook dengan memanfaatkan Facebook Disease Prevention Map menunjukkan bahwa mobilitas orang masih cukup tinggi sejak PSBB diberlakukan pada 10 April lalu. Peta itu menyediakan data pergerakan pengguna Facebook yang mengaktifkan Facebook dan fitur Sistem Pemosisi Global (GPS) di gawainya. Salah satu yang mobilitasnya cukup tinggi adalah jalur Bekasi Barat-Jakarta.

Melihat data tersebut, pemerintah harus membuang jauh pikiran untuk pelonggaran atau pengakhiran pembatasan sosial. Apalagi validitas data menyangkut Covid-19 masih diragukan. Misalnya, apakah jumlah kasus positif corona yang kecil di Indonesia karena jumlahnya memang kecil atau jumlah tes yang sedikit menghasilkan angka yang rendah. Kesimpulan bisa sangat melenceng jika data tidak valid.

Pemerintah tak ubahnya seperti bermain api jika merealisasi niat melonggarkan pembatasan sosial. Langkah yang lebih tepat saat ini adalah menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai. Selain itu, pemerintah sebaiknya memperbaiki data penerima bantuan. Selama sebulan pertama ini, banyak bantuan yang salah sasaran. Jika kondisi ini terus berlanjut, tujuan pemberian bantuan tidak akan terpenuhi. Indonesia akan makin jauh dari pengakhiran dampak pandemi Covid-19.






Tragedi Kemanusiaan Kanjuruhan

10 jam lalu

Tragedi Kemanusiaan Kanjuruhan

Penembakan gas air mata oleh polisi yang menyebabkan tragedi Kanjuruhan harus diusut.


Kolom The Outlaw Ocean Project: Profesi Ini Paling Maut Sekaligus Paling Kejam?

3 hari lalu

Kolom The Outlaw Ocean Project: Profesi Ini Paling Maut Sekaligus Paling Kejam?

Kejahatan, kekerasan, dan perbudakan di kapal penangkap ikan terus terjadi. Bagaimana cara mencegahnya?


Ribuan Peserta BPJS Ketenagakerjaan di Ternate Terima BSU Tahun 2022 Dari Presiden

5 hari lalu

Ribuan Peserta BPJS Ketenagakerjaan di Ternate Terima BSU Tahun 2022 Dari Presiden

Program BSU ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mempertahankan daya beli pekerja dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari


Dosa Jakarta di Kasus Korupsi Lukas Enembe

7 hari lalu

Dosa Jakarta di Kasus Korupsi Lukas Enembe

Kasus korupsi Lukas Enembe menyingkap kesalahan pemerintah pusat dan daerah. Salah urus, dana otonomi khusus gagal menyejahterakan warga Papua.


Agar Anak Terlindung dari Kejahatan Seksual

14 hari lalu

Agar Anak Terlindung dari Kejahatan Seksual

Kasus kejahatan seksual terhadap anak merajalela. Selain menegakkan aturan, kampanye dan edukasi perlu digencarkan untuk membangun kesadaran masyarakat.


Bjorka: Antara Dendam dan Ketahanan Keamanan Siber Indonesia

18 hari lalu

Bjorka: Antara Dendam dan Ketahanan Keamanan Siber Indonesia

Aksi Bjorka tentu membuat lalu lintas perbincangan publik menjadi riuh, dari ruang istana, universitas, hingga warung kopi. Bjorka berhasil memecah ombak berbagai isu kejahatan yang sedang terjadi di negara ini.


Nasehat Sederhana untuk Pemerintah, Jangan Pernah Menyusahkan Hidup Rakyat

21 hari lalu

Nasehat Sederhana untuk Pemerintah, Jangan Pernah Menyusahkan Hidup Rakyat

Cerita Revolusi Perancis, Revolusi Amerika, Revolusi Kemerdekaan, dan Revolusi lainnya, berawal dari rasa bosan dan jijik rakyat kepada kekuasaan yang sudah mulai melupakan akarnya.


Peretasan Bjorka: Kalang Kabut Atasi Kebocoran Data

21 hari lalu

Peretasan Bjorka: Kalang Kabut Atasi Kebocoran Data

Aksi peretasan Bjorka memberi pesan kelemahan sistem teknologi dan informasi pemerintah Indonesia. Darurat perlindungan data pribadi.


Di Balik "Amplop Kiai"

26 hari lalu

Di Balik "Amplop Kiai"

Sudah bukan rahasia, konflik terbuka itu merupakan buntut dari pernyataan tentang "amplop kiai" yang disampaikan Sumo saat acara Pembekalan Politik Cerdas Berintegritas di KPK beberapa waktu lalu. Protes keras terhadap Ketua Umum yang juga Meneg PPN dan Kepala Bappenas itu sudah bergulir dalam beberapa pekan terakhir.


Sebuah Hari Esok untuk Nana

27 hari lalu

Sebuah Hari Esok untuk Nana

Film terbaru karya Kamila Andini yang diangkat dari satu bab biografi ibunda Jais Darga. Sebuah puisi yang tampil dengan lirih sekaligus menyala.