Wabah dan Borok Kepanikan Sosial

PanaJournal.com

Staf medis menangani pasien di ambulans di RS St Thomas's, saat wabah virus corona Covid-19 di London, Inggris, 26 Maret 2020. REUTERS/Hannah McKay

Seno Gumira Ajidarma
PanaJournal.com

Jelek-jelek saya pernah "meramalkan" situasi wabah Covid-19 ini dalam sebuah kolom berjudul"Flu Ikan! Flu Sayur! Flu Udara!", yang ditulis 14 tahun lalu. Mohon maaf, dalam kolom itu saya memang rada-rada sinis akan ketakutan manusia untuk mati. Konteksnya waktu itu antraks, yang bagi saya terdengar seperti institusi sepur Amerika, Amtrak, tapi dalam bahasa Indonesia artinya sungguh "sastrawi": penyakit sapi gila.

Ringkasnya, saya mengatakan kalau gara-gara antraks manusia menghindari daging sapi, gara-gara flu burung menghindari daging ayam, terus bagaimana kalau berlanjut dan dikepung oleh "flu ikan" (jangan makan semua ikan, pindah makan sayur), "flu sayur" (jangan makan semua sayur, pindah "makan" pernapasan tenaga prana), dan "flu udara" (jangan menghirup udara, tamatlah Homo sapiens)?

Tentu ini hanya imajinasi jail. Sekadar menggoda manusia yang "terlalu sayang" kepada hidup, dalam arti tidak mempunyai ruang pengorbanan secuil pun dalam dirinya. Jadi, kalau ada wabah, bahkan baru mendengar beritanya saja, sudah diterima bagaikan "kiamat". Sikap yang membuat saya menuliskannya sebagai "ke-merèngèk-an yang mengundang penindasan selanjutnya". Saya memang hanya menggoda, setengah menakut-nakuti, tapi serius dengan tesisnya: betapa rapuh kehidupan manusia dalam ketergantungan. Apalagi jika hanya "ketergantungan sekunder": harus makan daging sapi, ayam, dan seterusnya.

Sebetulnya ini hanya cara untuk mengingatkan bahwa ketika ketergantungan itu menjadi absolut, seperti kode "udara" untuk lingkungan hidup, bahwa abainya manusia mempelajari lingkungan hidupnya, apalagi setelah berumah dengan nyaman dalam semesta virtual, merupakan pengingkaran fatal.

Saya tulis sebagai penutup: "Penyakit sapi gila dan flu burung itu ada, bukan hanya cerita di koran dan televisi. Begitu pula berbagai penyakit baru tapi lama, maupun penyakit baru yang betul-betul baru. Semuanya ancaman bagi kelanjutan spesies manusia. Anda memilih untuk panik dan menghindar ke balik dinding ataukah menghadapinya? Karena flu burung sungguh tak bisa dilawan dengan dukun." (Djakarta!, 21 Maret 2006).

Tak dinyana, yang bagi saya permainan imajinasi hari ini menjadi kehadiran konkret: Covid-19 menyebabkan orang-orang bermasker di mana-mana, tak kurang-kurangnya yang terindikasi positif, sebagian meninggal, dalam kecepatan yang merupakan "rekor wabah", berlangsung praktis secara global, terutama di wilayah urban. Belum pernah dalam sejarah wabah berlangsung mobilisasi, efektif maupun tidak, secara massal di seluruh dunia seperti kasus ini.

Untuk pertama kalinya tema yang hanya terdapat dalam science fiction, baik buku maupun film, menjadi fakta: umat manusia versus apa pun itu yang jelas masih asing tapi berpotensi memusnahkan, setidaknya sebagian. Bedanya, yang disebut science di sini tidaklah canggih futuristik. Selain virusnya barang baru, obatnya belum ada. Cara mengatasi yang paling efektif sungguh purba: masuk gua. Tentu, maksud saya rumah, tapi apalah bedanya? Jadi, rupa-rupanya ada yang lebih penting selain "kemajuan", yang selama ini seolah-olah menjadi tujuan hidup manusia, dan ternyata bukan.

Segala sesuatu yang semula merupakan prioritas tanpa pernah dipertanyakan lagi telah menjadi tidak lebih penting-kegiatan politik, ekonomi, agama, olahraga, kesenian, pendidikan, keamanan. Nyaris semuanya kini dikalahkan oleh satu bidang terpenting, yang meskipun memang resminya kebutuhan primer, tidak selalu mendapat prioritas yang mengutamakan antisipasi situasi seperti ini: kesehatan.

Virus merujuk pada kesehatan raga, tapi yang lebih mewabah dan memakan korban lebih parah dari kematian adalah kepanikan dalam segala pengertian, dari kepanikan moral hingga sosial. Jika kematian memupus penderitaan, kepanikan yang tidak perlu membunuh lebih menyiksa daripada kematian. Apabila kepanikan moral melahirkan keputusan tanpa penalaran, kepanikan sosial yang diakibatkannya memperlihatkan borok kehidupan bersama.

Itulah borok yang berkembang sama cepatnya: (1) kepentingan diri sendiri di atas kepentingan bersama yang terlihat dari permainan harga; (2) arogansi yang meskipun lahir dari kurangnya pengetahuan mengungkap ketidakpedulian dan ketidakpekaan sosial yang merupakan borok rawan, bagi hari ini maupun masa depan; (3) terlacaknya manuver-manuver politis demi kepentingan golongan dalam berbagai aksi viral menyesatkan, termasuk yang tidak melakukan manuver apa pun tapi menanti peluang terbaik dalam disorganisasi otoritas pemerintahan.

Bagaimanapun, dalam suramnya hari demi hari, keindahan manusia masih memperlihatkan kerlip cahaya, dalam pengorbanan tanpa pamrih para pejuang di garis terdepan, maupun bangkitnya gerakan relawan, yang maknanya menyembuhkan pesimisme atas kualitas kebangsaan.






Tragedi Kemanusiaan Kanjuruhan

8 jam lalu

Tragedi Kemanusiaan Kanjuruhan

Penembakan gas air mata oleh polisi yang menyebabkan tragedi Kanjuruhan harus diusut.


Kolom The Outlaw Ocean Project: Profesi Ini Paling Maut Sekaligus Paling Kejam?

3 hari lalu

Kolom The Outlaw Ocean Project: Profesi Ini Paling Maut Sekaligus Paling Kejam?

Kejahatan, kekerasan, dan perbudakan di kapal penangkap ikan terus terjadi. Bagaimana cara mencegahnya?


Ribuan Peserta BPJS Ketenagakerjaan di Ternate Terima BSU Tahun 2022 Dari Presiden

4 hari lalu

Ribuan Peserta BPJS Ketenagakerjaan di Ternate Terima BSU Tahun 2022 Dari Presiden

Program BSU ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mempertahankan daya beli pekerja dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari


Dosa Jakarta di Kasus Korupsi Lukas Enembe

7 hari lalu

Dosa Jakarta di Kasus Korupsi Lukas Enembe

Kasus korupsi Lukas Enembe menyingkap kesalahan pemerintah pusat dan daerah. Salah urus, dana otonomi khusus gagal menyejahterakan warga Papua.


Agar Anak Terlindung dari Kejahatan Seksual

14 hari lalu

Agar Anak Terlindung dari Kejahatan Seksual

Kasus kejahatan seksual terhadap anak merajalela. Selain menegakkan aturan, kampanye dan edukasi perlu digencarkan untuk membangun kesadaran masyarakat.


Bjorka: Antara Dendam dan Ketahanan Keamanan Siber Indonesia

18 hari lalu

Bjorka: Antara Dendam dan Ketahanan Keamanan Siber Indonesia

Aksi Bjorka tentu membuat lalu lintas perbincangan publik menjadi riuh, dari ruang istana, universitas, hingga warung kopi. Bjorka berhasil memecah ombak berbagai isu kejahatan yang sedang terjadi di negara ini.


Nasehat Sederhana untuk Pemerintah, Jangan Pernah Menyusahkan Hidup Rakyat

21 hari lalu

Nasehat Sederhana untuk Pemerintah, Jangan Pernah Menyusahkan Hidup Rakyat

Cerita Revolusi Perancis, Revolusi Amerika, Revolusi Kemerdekaan, dan Revolusi lainnya, berawal dari rasa bosan dan jijik rakyat kepada kekuasaan yang sudah mulai melupakan akarnya.


Peretasan Bjorka: Kalang Kabut Atasi Kebocoran Data

21 hari lalu

Peretasan Bjorka: Kalang Kabut Atasi Kebocoran Data

Aksi peretasan Bjorka memberi pesan kelemahan sistem teknologi dan informasi pemerintah Indonesia. Darurat perlindungan data pribadi.


Di Balik "Amplop Kiai"

26 hari lalu

Di Balik "Amplop Kiai"

Sudah bukan rahasia, konflik terbuka itu merupakan buntut dari pernyataan tentang "amplop kiai" yang disampaikan Sumo saat acara Pembekalan Politik Cerdas Berintegritas di KPK beberapa waktu lalu. Protes keras terhadap Ketua Umum yang juga Meneg PPN dan Kepala Bappenas itu sudah bergulir dalam beberapa pekan terakhir.


Sebuah Hari Esok untuk Nana

27 hari lalu

Sebuah Hari Esok untuk Nana

Film terbaru karya Kamila Andini yang diangkat dari satu bab biografi ibunda Jais Darga. Sebuah puisi yang tampil dengan lirih sekaligus menyala.