Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Covid-19 dan Kegagapan Sosial

image-profil

Doktor Sosiologi tinggal di pinggiran Bogor

image-gnews
Pengendara motor melintas di depan mural tentang pandemi virus corona atau COVID-19 yang ada di Selapajang, Tangerang, Banten, Selasa, 31 Maret. Mural yang dibuat oleh warga setempat ditujukan sebagai bentuk keprihatinan atas merebaknya virus corona atau COVID-19 di Indonesia. ANTARA/Muhammad Iqbal
Pengendara motor melintas di depan mural tentang pandemi virus corona atau COVID-19 yang ada di Selapajang, Tangerang, Banten, Selasa, 31 Maret. Mural yang dibuat oleh warga setempat ditujukan sebagai bentuk keprihatinan atas merebaknya virus corona atau COVID-19 di Indonesia. ANTARA/Muhammad Iqbal
Iklan

DI TENGAH kian tak terbendungnya wabah Covid-19, sejumlah langkah, program dan agenda dipetakan. Terus terang, kita tergagap, tak pernah menyangka, eskalasi sebarannya akan sehebat dan sekuat ini. Rasa kaget dan ketergagapan lahir akibat abai dan bebalnya semua pihak, pemerintah dan rakyat, saat pertama mengidentifikasi virus yang berkembang dari Wuhan, China ini.

Pernahkah Anda membayangkan seorang anggota kabinet menyebut virus corona tak akan menyeberang ke Tanah Air ? Dengan alasan akan segera tewas begitu sampai di bibir pantai tropis ? Demikian lemahnya virus itu dalam pandangannya, sehingga cukup dihadang dengan doa dan jampi, maka pasukan makhluk “halus” itu akan langsung tewas sebelum sempat menginjak daratan.

Kalau saja pemerintah memiliki kepekaan dan visi yang baik tentang pola penyebaran dan pola penanggulangannya sejak pertama China terguncang, tentu kita tak akan senaif sekarang. Andai kata masyarakat sejak awal sudah terbiasa dengan pola hidup, pola pikir dan pola makan sehat, tentu tak akan sehoror saat ini, meski pemerintahnya panik.

Ironisnya, karena kepanikan terus tumbuh membesar, menyebut pihak tertentu sebagai biang kesalahan, dianggap tabu dan tidak produktif. Kita sering lupa, pada zamannya, orang merdeka supaya dapat memahami situasi, cukup diberi isyarat. Tapi bagi para hamba sahaya, mesti disiapkan alat untuk menghardiknya. Dalam situasi ketergagapan, bukankah semua kita adalah hamba sahaya?

Haruskah rakyat menjerit, agar pemerintah lekas pintar mengelola kepentingan bersama?  Mestikah pemerintah menggunakan tongkat untuk menghardik rakyat agar cepat beranjak dari kelalaiannya? Kalau saja pemerintah bertekad dan menyadari amanahnya sambil membatin, “Tuhan! Hamba mendengar firman-Mu, dan hamba taat.”

Kalau saja masyarakat memaknai ketaatan kepada pemerintah sebagai salah satu pesan sosial dari semua gerakan ritmis dalam ritual, tentu situasinya tak akan sekritis saat ini. Alangkah nestapa jika ajaran agama suka ditafsir sesuai maunya awak dan kepentingan. Amboi, andai sebagai rakyat, kita bisa berseru, “Daulat, Tuhanku! Kami mendegar semua seruan-Mu. Kami taat patuh.”

 

***

Sekarang, semua berbicara dan tak tak ada yang mau mendengarkan. Hanya mau didengarkan. Dalam rumah tangga, ketegangan kerap muncul karena semua pihak hanya mau bicara dan tidak mau mendengarkan. Dalam organisasi, bencana sering terjadi karena para eksekutif baru merasa eksis kalau tiada henti berbicara dan menolak mendengarkan suara orang selain suara dirinya. Ingin citra dirinya terjaga baik.

Sedih hati ini menyaksikan setiap hari kalangan profesional sektor kesehatan dan rakyat terus didera rasa takut bahkan bertumbangan karena merebaknya virus Covid-19 ini.

Idiom dalam frase “Saya Mendengar dan Saya Patuh”, bisa dijadikan pelecut untuk merenungi apa yang mungkin kita lakukan ketika banyak saudara sebangsa bertumbangan. Paling tidak, memikirkan di mana posisi kita dalam ikhtiar memutus rantai penyebaran virus corona. Agar efektifitas agenda berjalan baik, maka dibutuhkan daya kejut yang mampu menampar kesadaran bersama bahwa tak ada jaminan seseorang terbebas dari ancaman virus corona ini.

Simak dengan seksama, contoh terbaik dalam mengalahkan Covid-19 yang dilakukan dua negara, meski berbeda ideologi, China dan Korsel. Menggunakan pola komando sentral, China menerapkan konsep “menutup diri” dengan mekanisme  lockdown. Pola ini berjalan efektif, karena faktor kepemimpinan satu komando. Meski berbau otoriter, program tersebut terbukti memang ampuh.

Tetangganya, Korea Selatan juga menuai sukses meski dengan pendekatan berbeda. Minus komando sentral seperti China karena Korea Selatan menganut sistem demokrasi, negara ginseng mengambil manfaat dari mekanisme self isolation  dan social distancing. Karena sistem demokrasi prosedural dan substansial berjalan normal, rakyat teredukasi dengan baik. Virus dicegah sebelum memangsa korban lebih banyak.

Bagaimana dengan Indonesia ? Penulis teringat satire tokoh Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi (alm) kala menyebut Indonesia sebagai negara bukan-bukan. Negara otoritarian bukan, negara demokrasi bukan, negara kerajaan bukan. Tapi praktek otoritarianisme, demokrasi dan feodalisme, bisa hidup dalam satu kamar di negeri ini. Begitu ditimpa bencana seperti saat ini, kita semua menanggung akibatnya.

Mengacu pada Korea Selatan yang negara demokrasi, kita harusnya tak memerlukan konsep lockdown untuk membuat virus corona takluk. Tapi apa yang terjadi ? Wabah yang sudah pandemik, malah menjelma bursa perang gagasan. Di Korea Selatan, karena warganya sudah teredukasi, program penanggulangan pemerintah bertemu di muara harapan rakyat. Tanpa suara. Diam dan bekerja.

Oleh sebab itu, karena status darurat, demikian teman-teman di NU berdalil, maka menghindari kerusakan harus lebih dipentingkan dibanding harapan tercapainya kemaslahatan. Demi menghindari rusaknya kehidupan, rasanya sementara waktu, pendekatan koersif masih kita butuhkan. Mungkin kita masih butuh digedor untuk berucap, “Saya Mendengar, Saya Patuh.”

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

11 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

25 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

26 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

26 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

27 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

33 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

51 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

24 April 2024

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024