Pentingnya Membatasi Interaksi

Koran Tempo

Enak dibaca dan perlu.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Masyarakat dan pemerintah seharusnya bergandengan tangan mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19. Tanpa peran masyarakat, termasuk tokoh agama dan pemuka adat, virus yang cukup berbahaya ini akan semakin merajalela.

    Hingga kemarin, 308 orang telah positif tertular Covid-19. Dari angka itu, kasus terbanyak terjadi di DKI Jakarta, yakni 210 orang positif terinfeksi. Diperkirakan kasus yang tidak dilaporkan jauh lebih besar. Diprediksi pula, jumlah orang yang terpapar bisa mencapai 8.000 pada April mendatang. Adapun jumlah korban meninggal karena virus tersebut kini telah mencapai 25 jiwa.

    Penyebaran yang cepat itu antara lain karena masih enggannya masyarakat membatasi interaksi sosial. Acara Ijtima Jamaah Tabligh Dunia 2020 di Gowa, Sulawesi Selatan, merupakan salah satu contohnya. Ribuan peserta telanjur datang ke Gowa, kendati acara ini akhirnya dibatalkan. Sejak awal, panitia seharusnya menunda kegiatan tersebut. Apalagi banyak peserta datang dari negara-negara yang terjangkit Covid-19, seperti Malaysia dan Singapura.

    Kegiatan lain yang melibatkan massa di antaranya adalah penobatan Uskup Ruteng, Nusa Tenggara Timur. Panitia tetap menggelar penahbisan Uskup Ruteng, Mgr Siprianus Hormat, walaupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana telah meminta penundaan. Alasan panitia, acara itu sudah lama dipersiapkan.

    Rendahnya kesadaran tokoh masyarakat dan agama dalam mencegah penyebaran virus corona amat memprihatinkan. Mereka seharusnya lebih mengutamakan keselamatan umat. Sesuai dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pembatasan interaksi sosial merupakan cara efektif untuk mencegah penyebaran virus ini, selain melakukan karantina wilayah.

    Orang yang berkumpul dalam jumlah besar dalam satu tempat akan berpotensi menyebarkan virus corona. Virus ini mudah menular lewat percikan air liur atau bersin. Itu sebabnya, WHO merekomendasikan agar orang menjaga jarak satu meter dengan orang lain guna mengurangi penularan.

    Kita bisa belajar kepada negara lain, seperti Arab Saudi, yang membatasi kegiatan salat Jumat dan menutup semua pintu masuk untuk jemaah ibadah umrah dari seluruh dunia. Iran bahkan melarang kegiatan keagamaan yang diikuti orang dalam jumlah besar, seperti salat Jumat. Vatikan pun menutup semua gereja Katolik di Roma.

    Sikap tegas pemerintah pusat dan daerah diperlukan untuk menjalankan pembatasan interaksi sosial. Langkah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan perlu ditiru daerah lain. Anies telah menyerukan untuk meniadakan kegiatan keagamaan, seperti salat Jumat, misa, dan kebaktian, di wilayah DKI selama dua pekan. Pemerintah DKI mengambil langkah tegas karena Ibu Kota telah menjadi pusat penyebaran Covid-19.

    Berkumpul dan menjalankan ibadah memang merupakan hak setiap orang. Hanya, dalam keadaan darurat seperti sekarang, kita seharusnya mengutamakan kepentingan kemanusiaan. Di tengah pandemi corona, aktivitas yang melibatkan banyak orang tak cuma membuat kita berisiko tertular Covid-19, tapi juga membuat kita berpotensi menularkan virus tersebut ke orang lain.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.