Legasi dari Wabah Corona

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pejalan kaki menggunakan masker di tengah pandemi virus corona melintas di trotoar kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu, 18 Maret 2020. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Pejalan kaki menggunakan masker di tengah pandemi virus corona melintas di trotoar kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu, 18 Maret 2020. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Andi Irawan
    Lektor Kepala Ilmu Ekonomi Dosen Universitas Bengkulu

    Wabah corona telah menjadi sesuatu yang harus diwaspadai karena dua alasan penting. Pertama, ia menyebar secara eksponensial. Awalnya, jumlah kasus hanya puluhan, tapi dalam waktu yang cepat berubah drastis menjadi ribuan orang. Kedua, keterbatasan pemahaman mengenai daya antisipasi terhadap virus telah menimbulkan gejolak sosial, ekonomi, dan politik di negara yang menjadi sumber awal penyebaran dan negara-negara lainnya.

    Dampak ekonomi langsung adalah turunnya pertumbuhan ekonomi Cina pada kuartal pertama sebesar 2 persen, dari 6 persen sebelum terjadinya wabah (The Economist, 2020). Batuknya ekonomi Cina, sebagai penyumbang hampir seperlima output global, sudah cukup untuk menjadi penyebab penurunan pertumbuhan nyata output dunia. Apalagi wabah ini kemudian juga menghajar semua kekuatan ekonomi dunia. Jadi, resesi ekonomi adalah suatu keniscayaan.

    Indonesia juga mengalami kondisi yang sama. Walaupun secara kuantitatif belum ada informasi tentang kerugian karena corona, gambaran kualitatifnya dapat diprediksi dari penjelasan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti. Menurut pemimpin BI itu, ada tiga sektor riil Indonesia yang terkena dampak kejutan langsung, yakni pariwisata, perdagangan, dan investasi.

    Wisatawan mancanegara yang paling banyak berlibur ke Indonesia adalah wisatawan dari Cina. Bahkan wisatawan tersebut berkontribusi dalam penambahan devisa negara dengan nilai yang cukup besar, mencapai US$ 1,2-1,5 miliar. Dengan adanya wabah corona, penerbangan dari dan ke Cina terhambat dan sektor wisata pun terkena dampaknya. Apalagi ternyata ratusan negara lain juga terjangkit wabah ini dan membuat kunjungan wisatawan mancanegara semakin anjlok.

    Sektor kedua adalah perdagangan. Kegiatan impor dari Cina dan negara-negara mitra dagang lainnya menjadi terganggu. Hal ini yang menyebabkan saat ini harga sejumlah bahan pangan, seperti bawang putih, gula pasir, dan komoditas penting lainnya, naik tajam.

    Sektor ketiga, investasi. Cina merupakan negara nomor dua terbesar dalam penanaman modal ke Indonesia. Bahkan baru-baru ini Cina masuk ke industri penghiliran nikel. Wabah corona akan menekan penanaman modal asing masuk ke negeri ini.

    Setidaknya, menurut Szlezak (2020), ada tiga saluran transmisi bagaimana wabah bisa menghasilkan resesi ekonomi. Pertama, transmisi secara tidak langsung (wealth effect). Ini adalah bentuk transmisi klasik ketika wabah berdampak pada anjloknya harga-harga saham dan jatuhnya pasar finansial. Dampak ikutannya adalah kesejahteraan rumah tangga mengalami kontraksi dan tingkat konsumsi anjlok.

    Kedua, memukul langsung kepercayaan konsumen. Konsumen terpaksa tidak melakukan aktivitas ekonomi dan sosial serta menetap di rumah, mengalami kelelahan karena pengeluaran diskresioner (kesehatan, pangan, pencegahan, obat-obatan) yang tidak terduga, juga ada rasa euforia pesimistis yang menimbulkan stres dan tekanan.

    Ketiga, menimbulkan guncangan dari sisi suplai. Wabah bisa menghentikan aktivitas produksi dan menjadikan komponen penting dari rantai suplai barang dan jasa tidak berfungsi. Hal ini berdampak pada penghentian sementara pekerja dan pemutusan hubungan kerja mudah terjadi.

    Bagaimanapun, berdasarkan pengalaman empiris serangan wabah, seperti sindrom saluran pernapasan akut (SARS) pada 2003, ternyata wabah tersebut memberikan legasi (legacy) atau warisan kebaikan bagi peradaban manusia. Ada beberapa legasi yang bisa dicatat.

    Pertama, legasi ekonomi. Wabah telah memacu model bisnis dan teknologi baru. Wabah SARS pada 2003 telah memberi berkah dengan semakin berkembangnya online shopping di kalangan konsumen Cina yang mengakselerasi keberadaan Alibaba. Saat ini, dipaksa tutupnya sekolah-sekolah dan kantor akibat wabah telah mengakselerasi penerapan e-learning dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Di Amerika Serikat, sejumlah universitas telah menerapkan 100 persen e-learning, yang tidak memerlukan tatap muka di ruang-ruang kelas di kampus. Begitu juga sejumlah perusahaan besar dunia yang meningkatkan penggunaan working from home, yakni aktivitas kerja para pegawai di rumah.

    Kedua, legasi politik. Wabah corona ternyata menjadi batu uji terhadap kemampuan sistem politik suatu negara dalam melindungi warganya. Sistem politik Cina ternyata tidak efektif mencegah terjadinya wabah dan melindungi warganya yang terinfeksi dengan baik dibanding negara-negara dengan sistem demokrasi, yang memiliki kontrol sosial berimbang terhadap kinerja lembaga negara. Ini akan berimbas pada menurunnya reputasi Partai Komunis Cina dan kepemimpinan Xi Jinping. Kedodorannya Cina dalam merespons serangan corona dan turunnya kinerja pertumbuhan ekonomi mereka menjadi penampakan atas gagalnya sistem totaliter negara dibanding demokrasi ketika berhadapan dengan kejutan serangan bencana.

    Ketiga, wabah ini juga menghadirkan kesadaran kolektif global untuk saling mendukung dan kerja sama antarnegara dalam menghadapi serangan-serangan wabah pada masa mendatang.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.