Wabah Virus Corona dan Masalah Sosiologis

Syaifudin

Dosen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, UNJ

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga memakai masker saat melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, Senin, 2 Maret 2020. Usai Presiden Indonesia Joko Widodo mengumumkan dua orang WNI di Indonesia terdampak virus corona (Covid-19), warga dihimbau menggunakan masker di tempat keramaian maupun ketika menggunakan transportasi umum. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Warga memakai masker saat melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, Senin, 2 Maret 2020. Usai Presiden Indonesia Joko Widodo mengumumkan dua orang WNI di Indonesia terdampak virus corona (Covid-19), warga dihimbau menggunakan masker di tempat keramaian maupun ketika menggunakan transportasi umum. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Pada Januari 2020 lalu, dunia digemparkan dengan temuan kasus wabah virus corona yang diduga sumber asalnya dari Kota Wuhan, Cina. Tak hanya kehidupan sosial-ekonomi negara Cina yang berimbas atas wabah virus corona ini, negara-negara lain pun ikut terkena imbasnya. Indonesia, salah satunya.

    Berdasarkan data dari Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE tertanggal 3 Maret 2020, tercatat kasus wabah virus corona mencapai 89.254 kasus dan yang dinyatakan meninggal ada 3.048 kasus, serta 45.393 kasus yang dapat dipulihkan yang tersebar diberbagai dunia.

     

    Tabel Sebaran Kasus Virus Corona di Dunia

    No.

    Negara

    Jumlah Kasus

    Jumlah Kematian

    Jumlah Terpulihkan

    1

    China

    80.026 

    2.912

    44.789

    2

    South Korea

    4.335

    26

    30

    3

    Italy

    1.694 

    34

    83

    4

    Iran

    978

    54

    175

    5

    Other (Diamond Princess cruise ship)

    705

    6

    10

    6

    Japan

    256

    6

    32

    7

    Germany

    150

    0

    16

    8

    France

    130

    2

    12

    9

    Spain

    120

    0

    2

    10

    Singapore

    106

    0

    72

    11

    Hongkong

    98

    2

    36

    12

    US

    86

    2

    7

    13

    Bahrain

    47

    0

    0

    14

    Kuwait

    45

    0

    0

    15

    Thailand

    43

    1

    31

    16

    Taiwan

    41

    1

    12

    17

    UK

    36

    0

    8

    18

    Australia

    29

    1

    11

    19

    Malaysia

    29

    0

    18

    20

    Switzerland

    27

    0

    0

    21

    Canada

    24

    0

    6

    22

    United Arab Emirates

    21

    0

    5

    23

    Norway

    19

    0

    0

    24

    Iraq

    19

    0

    0

    25

    Vietnam

    16

    0

    16

    26

    Sweden

    14

    0

    0

    27

    Austria

    14

    0

    0

    28

    Israel

    10

    0

    1

    29

    Lebanon

    10

    0

    0

    30

    Netherlands

    10

    0

    0

    31

    Macau

    10

    0

    8

    32

    San Marino

    8

    0

    0

    33

    Croatia

    7

    0

    0

    34

    Greece

    7

    0

    0

    35

    Ecuador

    6

    0

    0

    36

    Oman

    6

    0

    1

    37

    Finland

    6

    0

    1

    38

    Mexico

    5

    0

    0

    39

    Denmark

    4

    0

    0

    40

    Pakistan

    4

    0

    0

    41

    Qatar

    3

    0

    0

    42

    Czech Republic

    3

    0

    0

    43

    Georgia

    3

    0

    0

    44

    Iceland

    3

    0

    0

    45

    Philippines

    3

    1

    1

    46

    Romania

    3

    0

    0

    47

    Algeria

    3

    0

    0

    48

    India

    3

    0

    3

    49

    Azerbaijan

    3

    0

    0

    50

    Indonesia

    2

    0

    0

    51

    Belgium

    2

    0

    1

    52

    Russia

    2

    0

    2

    53

    Brazil

    2

    0

    0

    54

    Egypt

    2

    0

    1

    55

    Afghanistan

    1

    0

    0

    56

    Nepal

    1

    0

    1

    57

    Lithuania

    1

    0

    0

    58

    Cambodia

    1

    0

    1

    59

    Andorra

    1

    0

    0

    60

    Ireland

    1

    0

    0

    61

    Nigeria

    1

    0

    0

    62

    Armenia

    1

    0

    0

    63

    Dominican Republic

    1

    0

    0

    64

    Estonia

    1

    0

    0

    65

    North Macedonia

    1

    0

    0

    66

    Luxembourg

    1

    0

    0

    67

    Monaco

    1

    0

    0

    68

    Belarus

    1

    0

    0

    69

    New Zealand

    1

    0

    0

    70

    Sri Lanka

    1

    1

    1

    Total

    89.254

    3.048

    45.393

    Sumber: Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE tertanggal 3 Maret 2020.

     

    Saat awal ramai isu wabah virus corona, masyarakat Indonesia merespon fenomena global ini dengan berbagai reaksi. Ada yang merespon dengan tenang, serius, satire, sampai ada yang merespon dengan berbagai candaan. Hingga akhirnya pada 2 Maret 2020, Presiden Jokowi menyatakan bahwa ada dua warga Indonesia yang positif terjangkit virus corona. 

    Pernyataan Presiden Jokowi rupanya mempengaruhi situasi dan kondisi psikologis dan sosiologis masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat yang tinggal di wilayah korban yang positif terjangkit virus corona.  Anne Kerr dalam bukunya yang berjudul  Genetics and Society: A Sociology of Disease” menjelaskan bahwa fenomena wabah penyakit di masyarakat dapat membuat masyarakat mengalami kecemasan (anxiety) dan ketakutan (fear). Lalu manakah yang dominan, rasa cemas atau takut?

     

    Disorganisasi dan disfungsi sosial

    Pada awal sebelum Presiden Jokowi menyatakan ada warga Indonesia yang positif terjangkit virus corona, masyarakat Indonesia lebih dominan memiliki rasa cemas. Mengapa? Sebab rasa cemas ini sendiri merupakan suatu yang irasional dan objek ketakutan atas wabah virus corona di Indonesia belum terbukti dan nyata. Namun kondisi kecemasan itu kini berubah menjadi ketakutan. Sebab rasa takut merupakan suatu yang rasional, karena sudah memiliki objek ketakutan yang jelas dan nyata. Yaitu, wabah virus corona sudah terjadi di Indonesia.

    Sebenarnya rasa cemas dan ketakutan pada diri masyarakat atas wabah virus corona suatu yang manusiawi. Namun hal ini jika tidak diatasi, secara sosiologis akan menimbulkan disorganisasi dan disfungsi sosial di masyarakat. Mengapa?

    Perlu dipahami, ciri otentik dari masyarakat adalah kedinamisan dalam perubahan di tatanan sosialnya saat mendapat stimulus tertentu – dalam hal ini rasa takut atas wabah virus corona.  Kondisi perubahan ini bersifat interpenden. Artinya,  sulit untuk dapat membatasi perubahan – perubahan pada masyarakat karena masyarakat merupakan mata rantai yang saling terkait.  Oleh karena itulah, diorganisasi dan disfungsi sosial menjadi suatu keniscayaan.

    Disorganisasi pada masyarakat akan mengarah pada situasi sosial yang tidak menentu. Sehingga dapat berdampak pada tatanan sosial di masyarakat. Wujud nyatanya berupa prasangka dan diskriminasi.

    Hal ini bisa dilihat dari berbagai pemberitaan di media mengenai reaksi masyarakat saat ada warga Indonesia positif terjangkit virus corona. Misalnya, ada masyarakat yang mulai membatasi kontak sosialnya untuk tidak menggunakan angkutan umum, transportasi online, dan menghindari berinteraksi diruang sosial tertentu (seperti pasar dan mall) karena kuatir tertular virus corona.

    Prasangka masyarakat ini tentu memiliki alasan logis. Sebab dalam perspektif epidemiologi, terjadinya suatu penyakit dan atau masalah kesehatan tertentu disebabkan karena adanya keterhubungan antara pejamu (host) – dalam hal ini manusia atau makhluk hidup lainnya, penyebab (agent) – dalam hal ini suatu unsur, organisme hidup, atau kuman infektif yang dapat menyebabkan terjadinya suatu penyakit, dan lingkungan (environment) – dalam hal ini faktor luar dari individu yang dapat berupa lingkungan fisik, biologis, dan sosial.  Kenneth J. Rothman dkk. (2008) dalam buku “Modern Epidemiology” menjelaskan bahwa kondisi keterhubungan antara pejamu, agen dan lingkungan adalah suatu kesatuan yang dinamis yang jika terjadi gangguan terhadap keseimbangan hubungan diantaranya, inilah yang akan menimbulkan kondisi sakit.

    Berawal dari prasangka, akhirnya dapat muncul sikap diskriminasi. Sikap diskriminasi yang paling nyata terjadi berupa kekerasan simbolik. Misal, saat individu X berada di ruang sosial tertentu tiba – tiba melihat ada individu Y yang berada di dekatnya bersin-bersin dan batuk, individu X tiba – tiba segera menjauh karena merasa kuatir individu Y terjangkit virus corona. Padahal individu Y hanya mengalami flu biasa.  Sikap diskriminasi lainnya lagi, seperti tidak mau menolong orang lain secara kontak fisik dengan orang yang diduga terjangkit virus corona.

    Selain disorganisasi sosial, disfungsi sosial juga terjadi akibat rasa takut atas wabah virus corona. Disfungsi sosial membuat seseorang atau kelompok masyarakat tertentu tidak mampu menjalankan fungsi sosialnya sesuai dengan status sosialnya. Hal yang paling nyata bisa kita lihat dibeberapa pemberitaan media atas reaksi para tenaga kesehatan (perawat dan dokter) yang mulai mengalami rasa takut akan terjangkit virus corona saat mereka memberikan pelayanan perawatan (caring) maupun pengobatan (curing) pada pasien yang diduga bahkan terjangkit virus corona. Rasa takut ini membuat para tenaga kesehatan tidak maksimal menjalankan fungsi sosialnya. Contoh lainnya lagi, individu sebagai makhluk sosial mulai membatasi kontak sosialnya dengan tidak mau menolong orang yang belum tentu positif terjangkit virus corona.

    Disfungsi sosial membuat individu justru mengalami gangguan pada kesehatannya. Dalam perspektif sosiologi kesehatan, kondisi sehat jika secara fisik, mental, spritual maupun sosial dapat membuat individu menjalankan fungsi sosialnya. Jika kondisi sehat ini terganggu – dalam kasus ini terganggu sosialnya. Tentu individu ini dinyatakan sakit.

    Kondisi sakit di sini sebagaimana yang dikemukakan Talcott Parsons (1951) dalam bukunya “The Social System”, bahwa ia tidak setuju dengan dominasi model kesehatan medis dalam menentukan dan mendiagnosa individu itu sakit. Bagi Parsons, sakit bukan hanya kondisi biologis semata, tetapi juga peran sosial yang tidak berfungsi dengan baik. Parsons melihat sakit sebagai bentuk perilaku menyimpang dalam masyarakat. Alasannya karena orang yang sakit tidak dapat memenuhi peran sosialnya secara normal dan karenanya menyimpang dari norma merupakan suatu yang konsensual. Lalu apa wujud kondisi sakit secara sosial ini? Diorganisasi dan disfungsi sosial.

     

    Snowball effect

    Terjadinya diorganisasi dan disfungsi sosial akan memicu efek bola salju (snowball effect) pada sektor kehidupan lainnya. Efek paling nyata adalah bidang ekonomi. Dampak dari diorganisasi dan disfungsi sosial karena wabah virus corona, membuat individu atau kelompok masyarakat mengalami penurunan produktivitas kegiatan ekonominya. Mulai dari kegiatan produksi, hingga kegiatan konsumtif.

    Penurunan produktivitas kegiatan ekonomi warga negara akan berdampak pada tingkat pertumbuhan ekonomi negara. Contoh paling nyata bisa kita lihat pada pertumbuhan ekonomi di Cina. Managing Director IMF, Kristalina Georgieva pada pertemuan pemimpin keuangan 20 negara ekonomi terbesar dunia (G20) pada Februari 2020 lalu, menyatakan bahwa ekonomi Cina diramalkan hanya akan tumbuh perekonomiannya sebesar 5.6% dari yang sebelumnya 6%. Artinya, mengalami penurunan.

    Indonesia sendiri pun sudah diramalkan oleh para ekonom akan mengalami gangguan pada pertumbuhan ekonominya karena wabah virus corona. Sekretaris Kementerian Koordinator Perekonomian (Sesmenko) Susiwidjono pada Februari 2020 lalu menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia memiliki potensi tergerus antara 0,11% hingga 0,30%.

    Maka untuk itu, perlu upaya yang terintegrasi dalam pendekatan penanganan wabah virus corona di Indonesia. Mampukah negara melakukannya?

     

    Penanganan lintas sektoral

    Wabah virus corona kini menjadi realitas sosial yang harus dihadapi masyarakat dunia, khususnya Indonesia. Dampak wabah virus corona ini menciptakan kematian (death), penyakit (disease), kekurangnyamanan (discomfort), kekurang-puasan (dissatisfication), dan kemelaratan (destitusion). Oleh karena itulah untuk menanggulangi wabah virus corona tidak hanya dilakukan dengan intervensi dibidang kesehatan saja, tetapi harus dilakukan secara terpadu (lintas sektoral).

    Tentu hal yang kini sudah dilakukan oleh para peneliti diberbagai dunia, yaitu melakukan etiologi atau penelitian untuk mengetahui sebab dan muasal secara pasti virus corona. Selain etiologi, tindakan pengobatan (curing) dan perawatan (caring) pada pasien yang diduga dan terjangkit virus corona dilakukan dengan serius. Namun tidak hanya etiologi, curing, dan caring saja yang harus dilakukan. Proses intervensi sosial juga perlu dilakukan. Hal ini sebagai upaya penanganan secara lintas sektoral.

    Intervensi sosial dilakukan sebagai upaya mengantisipasi kondisi masyarakat yang disorganisasi dan disfungsi sosial. Dengan adanya intervensi sosial, diharapkan dapat memperbaiki fungsi sosial atau mencegah individu atau kelompok masyarakat tertentu mengalami disfungsi akibat fenomena wabah virus corona.

    Intervensi sosial yang dapat dilakukan oleh negara, antara lain: memberikan pelayanan sosial, pelayanan fisik, pelayanan psikososial, pelayanan ketrampilan dalam mencegah agar tidak terjangkit virus corona atau ketrampilan hidup sehat, pelayanan spiritual, pelayanan pendampingan, pelayanan advokasi, dan pelayanan edukasi atas informasi seputar virus corona. Intervensi sosial ini juga harus dilakukan oleh tenaga yang ahli dibidangnya, jangan hanya sebatas memenuhi proyek kemudian menggunakan tenaga yang bukan ahli dibidangnya. Intervensi sosial ini juga dapat dilakukan dengan level sasaran berupa individu, keluarga, kelompok sosial tertentu, atau komunitas.

    Selain intervensi sosial, sekiranya pemerintah juga dapat membuat sistem manajemen informasi berbasis digital. Sistem manajemen informasi digital ini dapat menjadi sumber utama masyarakat mengetahui berita seputar virus corona. Sehingga masyarakat tidak menjadi korban hoax pada berbagai oknum media online tertentu. Sistem manajemen informasi digital ini juga menjadi akses masyarakat untuk berpartisipasi memberikan informasi dilingkungan tempat tinggalnya terkait kasus masyarakat yang diduga terjangkit virus corona. Sehingga tenaga kesehatan dapat segera datang untuk menanganinya.

    Tentu, berbagai upaya harus dilakukan oleh negara untuk melindungi warga negaranya. Jangan sampai kepentingan politik melampaui kepentingan warga negara yang kini sedang dihadapkan wabah penyakit global yang serius. Juga jangan sampai wabah penyakit global ini menjadi bancakan proyek bisnis bagi oknum tertentu hingga lupa bawa virus corona juga akan menjadi ancaman bagi dirinya dan keluarganya. Jika ini terjadi, bersiaplah bencana besar wabah virus corona di Cina akan terjadi juga di Indonesia. Semoga pemerintah dan DPR/MPR memiliki komitmen dan integritas untuk menangani wabah virus corona ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.