Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Wacana Pancasila, Agama, dan Kitab Suci

image-profil

image-gnews
Wacana Pancasila, Agama, dan Kitab Suci
Wacana Pancasila, Agama, dan Kitab Suci
Iklan

Al Makin
GURU BESAR UIN SUNAN KALIJAGA DAN ANGGOTA AKADEMI ILMUWAN MUDA INDONESIA

Pernyataan Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi tentang relasi Pancasila dan "sentimen" agama serta kitab suci dan konstitusi memancing bermacam-macam tanggapan. Kondisi ini sebetulnya memberi sedikit gambaran dinamisnya pandangan masyarakat pasca-reformasi tentang wacana politik dan agama.

Secara normatif dan legal, perbincangan seputar relasi negara dan agama sudah usai dengan kesepakatan-kesepakatan para bapak pendiri bangsa yang bijak memposisikan nilai-nilai agama dalam bingkai ideologi Pancasila sebagai pedoman kehidupan berbangsa. Tapi penerimaan dan interpretasi struktur dan fungsi Pancasila dalam kehidupan masyarakat yang agamis secara sosial dan politik masih dinamis. Ini terlihat dalam kontroversi setelah keluarnya pernyataan Ketua BPIP.

Berbagai tanggapan dan opini masyarakat memberi sedikit kilasan peta warna dan ideologi yang berkembang di masa kini. Hal ini sekaligus menegaskan hasil penelitian dari berbagai lembaga swadaya masyarakat dan universitas: meningkatnya konservatisme yang berupaya menyeret peran sentimen agama dalam kehidupan berpolitik.

Ungkapan-ungkapan yang berkelit dari pemahaman utuh terhadap rangkaian kata-kata Ketua BPIP menunjukkan kehidupan berpolitik kita yang masih jauh dari serba rasional. Sejumlah kalangan dan kelompok tertentu tampaknya memanfaatkan pernyataan itu untuk menyulut sentimen keagamaan dan emosi massa. Namun mereka tampaknya tidak terlalu berhasil.

Dalam melihat perdebatan ini, teori komunikasi sehat dari filsuf Jerman, Juergen Habermas, tidak lagi berlaku. Menurut nasihat sang filsuf, hukum komunikasi di antara pihak yang terlibat hendaknya saling memahami dan saling mendengarkan aspirasi. Ranah publik kita terlalu bising dan ingar-bingar untuk lebih rasional. Ini sepertinya menunjukkan ketidakdewasaan massa dan irasionalitas olah pikir.

Ada dua generasi awal pemikir Pancasila yang sudah mengantisipasi jumbuhnya relasi politik dan agama dalam masyarakat religius, terutama mayoritas warga Indonesia yang memeluk Islam aliran teologi Sunni dan berfikih Syafi’i. Generasi pertama angkatan 1945 adalah peletak dasar kehidupan bernegara yang dimotori Sukarno, Yamin, Hatta, Maramis, Syahrir, dan kawan-kawan. Mereka jelas-jelas menjaga netralitas Pancasila agar tidak mencampuri dan mendominasi iman warga negara, tapi tetap menampung nilai-nilai keagamaan itu. Pancasila bukan agama, tapi keduanya tidak dipertentangkan. Kitab suci bukan konstitusi, tapi moral dan semangat kitab suci diadopsi konstitusi.

Generasi kedua para penafsir Pancasila diwarnai gagasan dalam konteks tindakan politik pragmatis. Di satu sisi, Orde Baru berusaha menciptakan dogma dan menjaga stabilitas politik. Di sisi lain, banyak pemikir yang berusaha berkompromi dan mencari jalan tengah tentang bagaimana bernegara dalam masyarakat majemuk ini.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Driyarkara, misalnya, sudah sejak jauh hari menekankan bahwa Pancasila harus netral dalam urusan agama dan iman karena warga Indonesia memeluk banyak agama. Sebetulnya, generasi pertama perumus Pancasila juga sudah mengantisipasi dengan tidak berlakunya Piagam Jakarta, yang menandai pengakuan kebinekaan iman masyarakat. Driyarkara menegaskan semangat gotong-royong dalam esensi Pancasila. Gotong-royong itu mencakup banyak aspek: bekerja sama, toleransi, dan saling memahami, terutama di antara golongan dan iman yang berbeda.

Mukti Ali, pemikir dan menteri agama di era Orde Baru, mencoba mengembangkan gagasan Pancasila dalam wacana dialog antar-iman. Seperti Driyarkara, Mukti Ali menekankan pentingnya saling memahami antar umat beragama, dan Pancasila bisa menjadi wadah karena nilai-nilainya mencerminkan banyak agama.

Baik Driyarkara maupun Mukti Ali menyaksikan ancaman disintegrasi bangsa karena sentimen keagamaan. Sejarah negeri ini mencatat berbagai pemberontakan terhadap Sukarno dan beberapa upaya delegitimasi kekuasaan Soeharto dengan dalil suci. Wajar jika kedua cendekiawan itu menetralkan agama dalam politik. Era reformasi pun tak sepi dari sentimen benturan (baca: mempermusuhkan) agama dan Pancasila. Dan, sebagaimana diungkap Kepala BPIP, itu dilakukan hanya oleh minoritas tapi mengatasnamakan mayoritas.

Mungkin atas dasar kiprah pahit partai politik dengan sentimen keislaman, Nurcholish Madjid atau Cak Nur tercatat sebagai pendobrak zamannya: Islam yes, partai Islam no. Banyak harapan dari eranya yang pupus. Cak Nur digadang-gadang bakal menjadi Natsir muda, yang akan mempertahankan peran golongan religius dalam berpolitik. Tapi yang terjadi sebaliknya. Cak Nur melepaskan jubah itu dan memotori pentingnya agama agar netral dalam kancah politik.

Di era Orde Baru dan reformasi, Gus Dur berupaya mengembalikan keberagaman Pancasilais dalam teori dan praktik. Dalam banyak kesempatan, beliau menekankan pentingnya menjaga privasi agama dalam berbangsa. Gus Dur-lah yang paling kritis ketika penguasa Orde Baru mulai melirik godaan agama dalam panggung politik dengan mendirikan Forum Demokrasi bersama banyak tokoh.

Wacana Pancasila dan agama, konstitusi dan kitab suci, sudah lama dipikirkan oleh para cerdik cendekia Indonesia. Kita hendaknya mengkaji ulang tafsir warisan itu dan sudah saatnya menghidupkan lagi buah pikir mereka.

 
Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

7 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

21 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

22 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

22 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

23 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

29 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

48 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

57 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024