Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Etika Bumi dan Krisis Lingkungan

image-profil

image-gnews
Foto udara banjir yang menggenangi rumah warga akibat tanggul penahan sungai yang jebol di Desa Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat, Kamis 27 Februari 2020. Menurut Data BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Bekasi, tanggul yang jebol akibat luapan sungai Citarum berjumlah 8 tanggul dan menutup akses jalan menuju 4 desa di Muara Gembong. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah
Foto udara banjir yang menggenangi rumah warga akibat tanggul penahan sungai yang jebol di Desa Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat, Kamis 27 Februari 2020. Menurut Data BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Bekasi, tanggul yang jebol akibat luapan sungai Citarum berjumlah 8 tanggul dan menutup akses jalan menuju 4 desa di Muara Gembong. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah
Iklan

Satrio Wahono
Magister Filsafat UI

Sudah sebulan lebih memasuki 2020, dunia kian menghadapi ancaman eksistensial besar bernama krisis lingkungan. Di Indonesia, kita sudah melihat bencana banjir yang menghantam berbagai penjuru negeri pada awal tahun. Di Amerika Serikat, badai salju datang silih berganti menebar kerusakan di sejumlah negara bagian. Paling terbaru, Australia justru mengalami bencana kebakaran hutan paling dahsyat sepanjang sejarah dan menewaskan hampir satu miliar tanaman dan satwa.

Jelas isu pemanasan global bukan lagi isapan jempol. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya es di kutub utara dan selatan hingga menaikkan permukaan laut sekaligus menimbulkan perubahan iklim plus perubahan badai. Suhu bumi yang panas secara ekstrem bisa menimbulkan kekeringan luar biasa yang berujung pada kebakaran hutan parah sebagaimana terjadi di Australia.

Sesungguhnya, inilah buah yang dituai umat manusia karena abai menerapkan prinsip-prinsip etis dalam relasinya dengan lingkungan. Lebih konkretnya, umat manusia sudah lama mencampakkan etika bumi (land ethics) sehingga bumi pun membalas dengan menunjukkan murkanya lewat berbagai fenomena anomali iklim dan bencana-bencana alam.

Digagas oleh Aldo Leopold (1991), etika bumi mengajarkan bahwa etika secara ekologis merupakan pembatasan tindakan manusia demi alasan keberlangsungan hidup. Etika ini bertumpu pada asumsi bahwa individu adalah anggota dari satu komunitas yang terdiri atas bagian-bagian atau komponen-komponen yang saling tergantung. Di satu sisi, insting manusia menuntut dia untuk berkompetisi demi meraih posisi dalam komunitas, tapi di sisi lain etikanya mendesak dia untuk juga bekerja sama supaya ada tempat bagi dia untuk berkompetisi. Singkatnya, etika bumi mengajari kita untuk memperluas batasan komunitas, tidak hanya berlaku pada sesama manusia, tapi juga mencakup tanah, air, flora, fauna, dan juga bumi itu sendiri.

Artinya, etika bumi mendedahkan perubahan peran Homo sapiens, dari penakluk bumi menjadi sekadar salah satu anggota bumi bersama komponen-komponen lingkungan lainnya. Homo sapiens atau umat manusia harus menghargai komponen-komponen lingkungan itu sama seperti mereka menghormati dan bertoleransi kepada sesama manusia (Leopold, 1991).

Ajaran etika bumi membuka wawasan etis kita bahwa, jika kita tidak bertoleransi kepada sesama warga negara bumi, misalnya dengan melakukan eksploitasi berlebihan terhadap tanah atau menggusur habitat satwa secara berlebihan, kerukunan antar-warga bumi akan terkoyak seraya melahirkan konflik antar-warga berupa krisis lingkungan dan gelombang bertubi-tubi kerusuhan (baca: bencana) alam.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sebagai contoh, fenomena menjamurnya ular-ular di sejumlah daerah di Indonesia sejatinya dampak dari tergusurnya habitat ular-ular liar tersebut oleh proyek-proyek permukiman manusia. Kemunculan lebah super yang menewaskan sejumlah orang di beberapa daerah di Jawa juga disebabkan oleh hilangnya habitat lebah tersebut, sehingga mereka merangsek masuk ke area permukiman manusia yang telah menggusur mereka.

Celakanya, terkadang proyek-proyek semacam itu dibuat bukan dalam rangka subsistensi atau memenuhi kebutuhan dasar manusia, melainkan sekadar menjadi aksi spekulatif pemupukan kapital dan laba para pengusaha real estate dengan embel-embel investasi. Inilah yang disebut budaya hidup-lebih dalam kapitalisme global. Budaya ini merupakan satu cara memandang dan melakoni hidup dengan sebuah nilai-dasar saat kita merasa wajib mendapat lebih dari apa yang telah kita miliki (Dahana, 2015).

Budaya hidup-lebih menjadi budaya menimbun dan tidak terpuaskan untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup. Penganut budaya ini adalah orang-orang serakah yang rakus mengkonsumsi penanda-penanda yang seakan membuat mereka keren. Padahal kepuasan mengkonsumsi penanda itu laksana seseorang yang kehausan dan meminum air laut: dahaga itu tak akan kunjung selesai.

Jadi, sebab mendasar dari krisis lingkungan adalah pencampakan etika bumi. Karena itu, solusinya juga harus mendasar: pengadopsian etika bumi lewat metode ekoliterasi. Menurut Fritjof Capra (2004), ekoliterasi adalah strategi untuk menggerakkan masyarakat luas agar bisa memeluk secepatnya pola pandang baru atas realitas kehidupan bersama mereka di bumi dan melakukan pembaruan-pembaruan yang diperlukan.

Dalam konteks sekarang, strategi itu harus diisi dengan konten berupa etika bumi. Sekolah di berbagai tingkatan akan menjadi sarana efektif untuk menanamkan etika bumi sejak dini sekaligus membekali anak didik dengan cara-cara praktis merawat lingkungan, seperti mengurangi pemakaian kantong plastik, tidak lagi membeli minuman ringan berkemasan plastik, menanam bibit-bibit pohon, dan menggunakan kertas bekas sebagai coret-coretan atau kertas gambar.

Dengan pengadopsian etika bumi secara bertahap, generasi kita sejatinya berupaya untuk mewariskan kondisi lingkungan yang tetap layak ditinggali bagi generasi berikutnya.

 
Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

7 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

21 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

22 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

22 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

23 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

29 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

48 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

57 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024