Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Gus Sholah dan Darurat Pengendalian Tembakau

image-profil

Ketua Pengurus Harian YLKI

image-gnews
Calon Presiden dari Partai PDIP, Jokowi Widodo bertemu dengan pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang, KH Salahudin Wahid (Gus Solah), di Jombang, Jawa Timur, (3/5) Malam. Tempo/ISHOMUDDIN
Calon Presiden dari Partai PDIP, Jokowi Widodo bertemu dengan pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang, KH Salahudin Wahid (Gus Solah), di Jombang, Jawa Timur, (3/5) Malam. Tempo/ISHOMUDDIN
Iklan

Tulus Abadi
Ketua Pengurus Harian YLKI

Solahudin Wahid alias Gus Sholah baru saja berpulang pada Ahad, 2 Februari lalu. Bukan hanya kalangan Nahdliyin, sebutan bagi anggota Nahdlatul Ulama (NU), dan umat Islam secara keseluruhan, tapi juga bangsa Indonesia kehilangan atas berpulangnya beliau. Gus Sholah adalah tokoh muslim yang multi-talenta. Bukan hanya tokoh agama, dia juga tokoh hak asasi manusia dan tokoh yang bisa diterima semua golongan dan lintas agama. Di Indonesia, tidak banyak tokoh agama dan bahkan tokoh publik yang bisa diterima oleh semua golongan.

Namun ada ketokohan beliau yang belum terdeteksi oleh masyarakat, yakni Gus Sholah sebagai tokoh dalam pengendalian tembakau. Dialah yang mencanangkan pesantrennya, Tebu Ireng, sebagai pesantren yang bebas asap rokok dan melarang para santri untuk merokok. Konon inilah pesantren pertama di Indonesia yang mencanangkan diri sebagai area bebas asap rokok.

Gus Sholah juga menyerukan agar remaja Indonesia tidak terjebak pada konsumsi rokok yang sangat adiktif. Adik Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini juga berkolaborasi dengan Komisi Nasional Pengendalian Tembakau untuk bersama-sama menolak Rancangan Undang-Undang Pertembakauan, yang sempat menguat di Dewan Perwakilan Rakyat. Kini rancangan itu tampak mati suri.

Apa yang dilakukan Gus Sholah sejatinya hal yang biasa. Namun, hal itu menjadi tidak biasa manakala melihat budaya yang melingkupinya, baik dalam konteks pesantren maupun elite NU. Merokok di kalangan pesantren dan kiai tampak menjadi hal yang lazim sehingga para kiai dan santri sering dijuluki sebagai "ahli hisap" alias ahli mengisap asap rokok. Budaya merokok di kalangan santri dan kiai sangatlah kuat dan bahkan banyak pesantren yang mendapat dukungan dari industri rokok. NU pun tampak sangat akomodatif dengan masalah tembakau dan kepentingan industri rokok. Sementara Muhammadiyah dengan gagah berani mengeluarkan fatwa haram terhadap rokok, NU hanya sebatas makruh.

Secara nasional, apa yang dilakukan Gus Sholah mempunyai nilai strategis. Saat ini konsumsi tembakau telah menjadi wabah bagi masyarakat. Tidak kurang dari 35 persen penduduk Indonesia adalah perokok aktif, yang menduduki peringkat ketiga tertinggi di dunia setelah Cina dan India. Dua dari tiga laki-laki dewasa di Indonesia adalah perokok aktif. Belum lagi masyarakat yang menjadi korban sebagai perokok pasif, yang jumlahnya tak kurang dari 70 persen, khususnya yang menjadi korban asap rokok di tempat-tempat umum. Tragisnya, yang menjadi korban utama adalah kalangan anak-anak dan remaja, yang memang menjadi target utama industri rokok.

Saat ini pertumbuhan dan prevalensi merokok di kalangan anak dan remaja Indonesia merupakan yang tercepat di dunia, yakni 19,4 persen. Maka jangan heran jika saat ini di Indonesia terjadi fenomena baby smoker-hal yang tidak terjadi di belahan dunia yang lain. Promosi dan iklan industri rokok semakin masif dan lokasinya pun dekat dengan sekolah dasar dan sekolah menengah. Dengan demikian, hal yang sangat urgen jika Gus Sholah menyerukan agar anak-anak dan remaja menjauhi rokok.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Berikutnya, terkait dengan Rancangan Undang-Undang Pertembakauan. Ini sebuah rancangan yang 100 persen diusung oleh industri rokok sejak lima tahun lalu. Karena diinisiasi oleh industri rokok, isinya pun sangat kental mengusung kepentingan ekonomi industri rokok. Bahkan substansi rancangan itu pun akan mengamputasi pasal-pasal pengendalian tembakau di bidang kesehatan. Ia bahkan akan merontokkan beberapa undang-undang yang dianggap berlawanan dengannya.

Rancangan Undang-Undang Pertembakauan menjadi antitesis terhadap regulasi pengendalian tembakau, baik pada skala nasional maupun internasional. Ini merupakan antitesis terhadap Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (FCTC) yang sudah diratifikasi oleh 195 negara. FCTC sudah menjadi hukum internasional sejak 2007 tapi Indonesia masih bergeming. Maka, sikap politik Gus Sholah yang menolak rancangan itu adalah sikap yang amat mulia.

Kepergian Gus Sholah meninggalkan pesan serius baik bagi masyarakat dan terutama pemerintah. Tingkat kecanduan tembakau masyarakat Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan dan bahkan darurat. Dampak konsumsi tembakau ini bukan saja menurunkan kualitas kesehatan masyarakat, tapi juga sosial-ekonominya, khususnya di rumah tangga miskin. Menurut Riset Kesehatan Dasar 2018, prevalensi penyakit tidak menular di Indonesia justru mengalami peningkatan signifikan dibanding hasil riset serupa pada 2013.

Konsumsi rokok menjadi faktor utama dalam melambungnya tingkat prevalensi penyakit tidak menular. Fenomena finansial bleeding pada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan akan terus langgeng jika tren ini tidak turun. Sebesar apa pun suntikan dana dan kenaikan iuran tak akan mampu menyelamatkan BPJS Kesehatan.

Karena itu, perlu intervensi yang sangat kuat dari pemerintah untuk mengendalikan konsumsi rokok, khususnya pada kelompok rentan, yakni anak-anak, remaja, dan rumah tangga miskin. Semoga semangat Gus Sholah dalam pengendalian tembakau menjadi warisan bagi generasi muda, masyarakat, tokoh agama, organisasi massa keagamaan, pemerintah, dan siapa pun.

 
Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

3 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

17 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

18 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

18 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

19 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

25 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

44 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

53 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024