Gus Sholah dan Darurat Pengendalian Tembakau

Ketua Pengurus Harian YLKI

Calon Presiden dari Partai PDIP, Jokowi Widodo bertemu dengan pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang, KH Salahudin Wahid (Gus Solah), di Jombang, Jawa Timur, (3/5) Malam. Tempo/ISHOMUDDIN

Tulus Abadi
Ketua Pengurus Harian YLKI

Solahudin Wahid alias Gus Sholah baru saja berpulang pada Ahad, 2 Februari lalu. Bukan hanya kalangan Nahdliyin, sebutan bagi anggota Nahdlatul Ulama (NU), dan umat Islam secara keseluruhan, tapi juga bangsa Indonesia kehilangan atas berpulangnya beliau. Gus Sholah adalah tokoh muslim yang multi-talenta. Bukan hanya tokoh agama, dia juga tokoh hak asasi manusia dan tokoh yang bisa diterima semua golongan dan lintas agama. Di Indonesia, tidak banyak tokoh agama dan bahkan tokoh publik yang bisa diterima oleh semua golongan.

Namun ada ketokohan beliau yang belum terdeteksi oleh masyarakat, yakni Gus Sholah sebagai tokoh dalam pengendalian tembakau. Dialah yang mencanangkan pesantrennya, Tebu Ireng, sebagai pesantren yang bebas asap rokok dan melarang para santri untuk merokok. Konon inilah pesantren pertama di Indonesia yang mencanangkan diri sebagai area bebas asap rokok.

Gus Sholah juga menyerukan agar remaja Indonesia tidak terjebak pada konsumsi rokok yang sangat adiktif. Adik Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini juga berkolaborasi dengan Komisi Nasional Pengendalian Tembakau untuk bersama-sama menolak Rancangan Undang-Undang Pertembakauan, yang sempat menguat di Dewan Perwakilan Rakyat. Kini rancangan itu tampak mati suri.

Apa yang dilakukan Gus Sholah sejatinya hal yang biasa. Namun, hal itu menjadi tidak biasa manakala melihat budaya yang melingkupinya, baik dalam konteks pesantren maupun elite NU. Merokok di kalangan pesantren dan kiai tampak menjadi hal yang lazim sehingga para kiai dan santri sering dijuluki sebagai "ahli hisap" alias ahli mengisap asap rokok. Budaya merokok di kalangan santri dan kiai sangatlah kuat dan bahkan banyak pesantren yang mendapat dukungan dari industri rokok. NU pun tampak sangat akomodatif dengan masalah tembakau dan kepentingan industri rokok. Sementara Muhammadiyah dengan gagah berani mengeluarkan fatwa haram terhadap rokok, NU hanya sebatas makruh.

Secara nasional, apa yang dilakukan Gus Sholah mempunyai nilai strategis. Saat ini konsumsi tembakau telah menjadi wabah bagi masyarakat. Tidak kurang dari 35 persen penduduk Indonesia adalah perokok aktif, yang menduduki peringkat ketiga tertinggi di dunia setelah Cina dan India. Dua dari tiga laki-laki dewasa di Indonesia adalah perokok aktif. Belum lagi masyarakat yang menjadi korban sebagai perokok pasif, yang jumlahnya tak kurang dari 70 persen, khususnya yang menjadi korban asap rokok di tempat-tempat umum. Tragisnya, yang menjadi korban utama adalah kalangan anak-anak dan remaja, yang memang menjadi target utama industri rokok.

Saat ini pertumbuhan dan prevalensi merokok di kalangan anak dan remaja Indonesia merupakan yang tercepat di dunia, yakni 19,4 persen. Maka jangan heran jika saat ini di Indonesia terjadi fenomena baby smoker-hal yang tidak terjadi di belahan dunia yang lain. Promosi dan iklan industri rokok semakin masif dan lokasinya pun dekat dengan sekolah dasar dan sekolah menengah. Dengan demikian, hal yang sangat urgen jika Gus Sholah menyerukan agar anak-anak dan remaja menjauhi rokok.

Berikutnya, terkait dengan Rancangan Undang-Undang Pertembakauan. Ini sebuah rancangan yang 100 persen diusung oleh industri rokok sejak lima tahun lalu. Karena diinisiasi oleh industri rokok, isinya pun sangat kental mengusung kepentingan ekonomi industri rokok. Bahkan substansi rancangan itu pun akan mengamputasi pasal-pasal pengendalian tembakau di bidang kesehatan. Ia bahkan akan merontokkan beberapa undang-undang yang dianggap berlawanan dengannya.

Rancangan Undang-Undang Pertembakauan menjadi antitesis terhadap regulasi pengendalian tembakau, baik pada skala nasional maupun internasional. Ini merupakan antitesis terhadap Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (FCTC) yang sudah diratifikasi oleh 195 negara. FCTC sudah menjadi hukum internasional sejak 2007 tapi Indonesia masih bergeming. Maka, sikap politik Gus Sholah yang menolak rancangan itu adalah sikap yang amat mulia.

Kepergian Gus Sholah meninggalkan pesan serius baik bagi masyarakat dan terutama pemerintah. Tingkat kecanduan tembakau masyarakat Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan dan bahkan darurat. Dampak konsumsi tembakau ini bukan saja menurunkan kualitas kesehatan masyarakat, tapi juga sosial-ekonominya, khususnya di rumah tangga miskin. Menurut Riset Kesehatan Dasar 2018, prevalensi penyakit tidak menular di Indonesia justru mengalami peningkatan signifikan dibanding hasil riset serupa pada 2013.

Konsumsi rokok menjadi faktor utama dalam melambungnya tingkat prevalensi penyakit tidak menular. Fenomena finansial bleeding pada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan akan terus langgeng jika tren ini tidak turun. Sebesar apa pun suntikan dana dan kenaikan iuran tak akan mampu menyelamatkan BPJS Kesehatan.

Karena itu, perlu intervensi yang sangat kuat dari pemerintah untuk mengendalikan konsumsi rokok, khususnya pada kelompok rentan, yakni anak-anak, remaja, dan rumah tangga miskin. Semoga semangat Gus Sholah dalam pengendalian tembakau menjadi warisan bagi generasi muda, masyarakat, tokoh agama, organisasi massa keagamaan, pemerintah, dan siapa pun.

 





Kolom The Outlaw Ocean Project: Profesi Ini Paling Maut Sekaligus Paling Kejam?

12 jam lalu

Kolom The Outlaw Ocean Project: Profesi Ini Paling Maut Sekaligus Paling Kejam?

Kejahatan, kekerasan, dan perbudakan di kapal penangkap ikan terus terjadi. Bagaimana cara mencegahnya?


Ribuan Peserta BPJS Ketenagakerjaan di Ternate Terima BSU Tahun 2022 Dari Presiden

2 hari lalu

Ribuan Peserta BPJS Ketenagakerjaan di Ternate Terima BSU Tahun 2022 Dari Presiden

Program BSU ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mempertahankan daya beli pekerja dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari


Dosa Jakarta di Kasus Korupsi Lukas Enembe

4 hari lalu

Dosa Jakarta di Kasus Korupsi Lukas Enembe

Kasus korupsi Lukas Enembe menyingkap kesalahan pemerintah pusat dan daerah. Salah urus, dana otonomi khusus gagal menyejahterakan warga Papua.


Dukung Anies Baswedan jadi Presiden 2024, Fahira Idris: Agar Indonesia juga Merasakan Lompatan Kemajuan

6 hari lalu

Dukung Anies Baswedan jadi Presiden 2024, Fahira Idris: Agar Indonesia juga Merasakan Lompatan Kemajuan

Fahira Idris meyakini Anies Baswedan bisa membawa Indonesia melakukan lompatan kemajuan.


Agar Anak Terlindung dari Kejahatan Seksual

11 hari lalu

Agar Anak Terlindung dari Kejahatan Seksual

Kasus kejahatan seksual terhadap anak merajalela. Selain menegakkan aturan, kampanye dan edukasi perlu digencarkan untuk membangun kesadaran masyarakat.


Bjorka: Antara Dendam dan Ketahanan Keamanan Siber Indonesia

15 hari lalu

Bjorka: Antara Dendam dan Ketahanan Keamanan Siber Indonesia

Aksi Bjorka tentu membuat lalu lintas perbincangan publik menjadi riuh, dari ruang istana, universitas, hingga warung kopi. Bjorka berhasil memecah ombak berbagai isu kejahatan yang sedang terjadi di negara ini.


Nasehat Sederhana untuk Pemerintah, Jangan Pernah Menyusahkan Hidup Rakyat

18 hari lalu

Nasehat Sederhana untuk Pemerintah, Jangan Pernah Menyusahkan Hidup Rakyat

Cerita Revolusi Perancis, Revolusi Amerika, Revolusi Kemerdekaan, dan Revolusi lainnya, berawal dari rasa bosan dan jijik rakyat kepada kekuasaan yang sudah mulai melupakan akarnya.


Peretasan Bjorka: Kalang Kabut Atasi Kebocoran Data

18 hari lalu

Peretasan Bjorka: Kalang Kabut Atasi Kebocoran Data

Aksi peretasan Bjorka memberi pesan kelemahan sistem teknologi dan informasi pemerintah Indonesia. Darurat perlindungan data pribadi.


Di Balik "Amplop Kiai"

23 hari lalu

Di Balik "Amplop Kiai"

Sudah bukan rahasia, konflik terbuka itu merupakan buntut dari pernyataan tentang "amplop kiai" yang disampaikan Sumo saat acara Pembekalan Politik Cerdas Berintegritas di KPK beberapa waktu lalu. Protes keras terhadap Ketua Umum yang juga Meneg PPN dan Kepala Bappenas itu sudah bergulir dalam beberapa pekan terakhir.


Sebuah Hari Esok untuk Nana

24 hari lalu

Sebuah Hari Esok untuk Nana

Film terbaru karya Kamila Andini yang diangkat dari satu bab biografi ibunda Jais Darga. Sebuah puisi yang tampil dengan lirih sekaligus menyala.