Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Mall

image-profil

Oleh

image-gnews
Acara promosi Indonesia bertajuk
Acara promosi Indonesia bertajuk "Experience Indonesia: The Lands of Thousand Wonders" di mall City Center Ibu Kota Beirut, Lebanon. Sumber: dokumen KBRI Lebanon.
Iklan

Jauh sebelum mall berdiri, jauh sebelum mall pelan-pelan mati, di abad ke-15 ada Bazar Besar di Istanbul yang terbentang meliputi 58 jalan raya. Di sana berderet 4.000 toko. Atau Bazar Akbar di Teheran yang dirampungkan di abad ke-17: memanjang 10 kilometer, menampung 180 pusat belanja. Atau di St. Petersburg, Rusia, sejak abad ke-18: Gostiny Dvor seluas 53 ribu meter persegi; di dalamnya ada lebih dari 100 toko.

Para pendahulu mall itu-sebuah istilah Amerika yang dikenal baru di abad ke-20 untuk menyebut "pusat belanja"-sudah memulai jorjoran raksasa arsitektural: pentas dibangun megah, meriah, penuh gairah; jual-beli dibuka dengan pajangan, transaksi dibuat agar berjalan nyaman. Calon pembeli (pernah diibaratkan sebagai "raja") dielu-elukan menjelang masuk.

Seperti deretan panjang toko di Chester, sebuah kota di barat laut Inggris, yang konon bermula di abad ke-13, arena perdagangan di Teheran, Istanbul, St. Petersburg, Paris, Milano, London, dan entah mana lagi itu selamanya sebuah jalan beratap. Ruang dilindungi dari hujan, salju, terik matahari oleh payon lengkung di langit-langit-sebuah arkade. Mereka, dalam pelbagai ukuran, menjadi wilayah spesial bagi orang-orang yang, dengan biaya tinggi, ingin memuaskan mata dan selera.

Dengan kata lain: sebuah bujukan. Arkade adalah "sebuah jalan khusus untuk perdagangan yang menggairahkan; semua disesuaikan agar membangkitkan hasrat", tulis Walter Benjamin tentang passages couverts de Paris. Jika dibaca kalimatnya, terasa Benjamin melihat lorong yang spektakuler itu mirip sebuah bordil: "Sebab di jalan ini air liur (terjemahan bebas untuk die Säfte) tak cepat berhenti, komoditas berkembang-biak di tepi-tepi…."

Sering nada tulisannya murung, tapi Benjamin tampaknya asyik ketika ia seakan-akan menyusuri kota-kota besar Eropa di abad ke-19. Sebenarnya filosof yang menganggur ini (ia tak diterima menjadi pengajar universitas utama di Jerman) menikmati Paris di antara tahun 1925 dan 1940; ia keluar-masuk lorong perpustakaan dan deretan ribuan buku dan dokumen. Ia meneliti, mencatat, dan merenungkan dahsyatnya kapitalisme dalam sejarah kehidupan urban. Setelah ia meninggal bunuh diri, catatannya dihimpun dan diterbitkan sebagai Passagen-Werk (versi Inggrisnya: Arcades Project). Di sana ia gambarkan hubungan kekuatan modal dengan apa yang disebutnya "Tempel des Warenkapitals", "kuil" yang dibangun untuk barang dagangan, ketika komoditas meraja di masyarakat.

Benjamin seorang Marxis, meskipun bukan Marxis garis lurus. Ia selalu mengemukakan tilikan yang orisinal, bukan cuma mengutip ajaran. Ketika ia menyebut arkade sebagai "kuil", ia memang berangkat dari yang disebut Marx sebagai "fetisisme komoditas". Tapi ia tak berhenti di sana.

Marx menunjukkan, kapitalisme mengubah benda. Ketika dalam kehidupan masyarakat benda menjadi komoditas-barang dagangan yang diperjualbelikan-nilai tukar berkuasa, menyisihkan nilai guna. Rasa nyaman sepatu di kaki kita diringkas dan ditandai dengan angka rupiah. Angka itu berlaku buat sembarang orang. Apa yang tak terbandingkan pada si sepatu (juga si sepeda, si tempat tinggal, si juru masak, si tenaga ahli, si aroma parfum, bahkan juga perjalanan umrah dan ziarah) hilang.

Kapitalisme memisahkan barang dan benda dari sejarahnya masing-masing. Pada saat yang sama komoditas punya sejarah baru. Selembar baju yang diletakkan di etalase sebuah mall punya fungsi lain: ia hanya contoh, tapi sepenuhnya hadir untuk dilihat, ditonton, diraba. Ia menawarkan diri di antara tontonan lain, ia bersaing dengan komoditas lain; ia ada untuk dipertukarkan. Benda itu begitu mempesona hingga seperti seorang putri kecantikan yang dinobatkan di panggung yang gemerlap seakan-akan bidadari. Kita tak ingat ia makhluk bumi yang dihadirkan lewat jerih payah. Kapitalisme memang membangun lupa itu. Dan dengan pemasaran yang gencar dan gegap-gempita, komoditas pun jadi "fetish".

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ketika brand dan kemasan dilekatkan pada tas dan rokok, barang dagangan itu-yang pada dasarnya sama dengan kue pancong dan karet gelang-kian intens didambakan: ia menjadi fetish yang melipur lara dan menenteramkan. Fetish ada karena dipuja: saya dengar seorang superkaya di Jakarta membentuk tumpukan koper Louis Vuitton bagaikan altar di ruang tamunya.

Dengan kata lain, obyek berubah menjadi subyek, dan subyek menjadi obyek: aku sanggup membeli tas Louis Vuitton tapi berubah jadi oknum yang pasif; aku siap berkorban buat berada di dekat sang fetish. "Alienasi" pun terjadi-seperti dalam agama, ketika manusia yang aktif merumuskan Tuhan kemudian menjadi obyek yang takut. Tak mengherankan Benjamin berbicara tentang arkade sebagai "kuil" komoditas dan melihat persamaannya, secara arsitektural, dengan gereja.

Tapi itulah paradoks komoditas. Marx tak membahasnya, tapi tulisan Benjamin menjelaskan: kapitalisme menyelewengkan benda-benda, tapi hanya sampai batas tertentu. Di balik dirinya yang ditandai angka rupiah, komoditas masih punya sesuatu yang lain. Atau kita membuatnya tak hanya sebundel nilai tukar dan nilai guna.

Mengikuti Marx, Benjamin memakai kata "fantasmagoria" untuk menggambarkan parade komoditas yang dipajang memukau dan berubah-ubah di pusat belanja Kota Paris seperti rangkaian ilusi dalam lanterna magica. Tapi berbeda dengan Marx, Benjamin melihat bahwa dalam "fantasmagoria" itu benda-benda tak membawa lagi semata-mata harga. Deretan iklan dengan desain yang memikat dan kocak, botol parfum dengan bentuk ganjil, etalase yang dihiasi kotak antik telah menjadi semacam seni rupa-tak jauh berbeda dengan deretan karya Rothko dan Picasso di museum.

Kekuatan modal memang mengalahkan benda dan manusia, tapi tak semuanya selesai. Mall akan sepi pembeli, arkade abad ke-19 pada tutup, tapi ada daya lain yang membikin "fantasmagoria": kita tak hanya menjual, tak hanya membeli. Kadang-kadang kita bisa membuat pesona. Hidup adalah proses produksi hal-hal yang, biarpun sekejap, baru. Dalam mall, di luar mall.

Goenawan Mohamad

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

20 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

28 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

47 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

56 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


1 April 2024


Hibah untuk Keberlanjutan Media yang Melayani Kepentingan Publik

26 Maret 2024

Ilustrasi perang sosial media. / Arsip Tempo: 170917986196,9867262
Hibah untuk Keberlanjutan Media yang Melayani Kepentingan Publik

Tanggung jawab negara dalam memastikan jurnalisme yang berkualitas di Tanah Air perlu ditagih.


Penjabat Bupati Banyuasin Sidak Pusat Pelayanan Terpadu Citra Grand City

12 Februari 2024

Penjabat Bupati Banyuasin Sidak Pusat Pelayanan Terpadu Citra Grand City

Hani Syopiar mengapresiasi tenaga kesehatan yang bertugas selama libur panjang.


Urgensi Kontranarasi dari Film Dokumenter "Sexy Killer" dan "Dirty Vote"

12 Februari 2024

Cuplikan film Dirty Vote. YouTube
Urgensi Kontranarasi dari Film Dokumenter "Sexy Killer" dan "Dirty Vote"

Layaknya "Sexy Killer", "Dirty Vote" layak diacungi jempol. Substansi yang dihadirkan membuka mata kita tentang kecurangan dan potensi-potensi kecurangan elektoral secara spesifik, yang boleh jadi terlewat oleh kesadaran umum kita.


PT Pegadaian Dukung Sertifikasi Halal bagi Pedangang Mie Bakso Yogyakarta

6 Februari 2024

PT Pegadaian Dukung Sertifikasi Halal bagi Pedangang Mie Bakso Yogyakarta

PT Pegadaian berkolaborasi dengan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) serta Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Ashfa Yogyakarta untuk memfasilitasi proses sertifikasi halal.


Bagaimana Bongbong Memenangkan Pilpres Filipina

5 Februari 2024

Ferdinand
Bagaimana Bongbong Memenangkan Pilpres Filipina

Kemenangan Bongbong, nama beken dari Ferdinand Marcos Jr. sering dikaitkan dengan penggunaan media sosial seperti Tiktok, Instagram dan Facebook secara masif, selain politik gimmick nir substansi berupa joget-joget yang diperagakan Bongbong.