Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Miopia di Industri Perunggasan

image-profil

image-gnews
Seorang pekerja memberi makan bebek di sebuah peternakan di daerah Jiaxiang, provinsi Shandong, Cina, 16 Juli 2019. Ketika demam babi terus menyebar, wakil perdana menteri China Hu Chunhua mendesak para peternak unggas untuk membantu mengisi celah protein untuk menjaga stabilitas sosial dan ekonomi. REUTERS/Jason Lee
Seorang pekerja memberi makan bebek di sebuah peternakan di daerah Jiaxiang, provinsi Shandong, Cina, 16 Juli 2019. Ketika demam babi terus menyebar, wakil perdana menteri China Hu Chunhua mendesak para peternak unggas untuk membantu mengisi celah protein untuk menjaga stabilitas sosial dan ekonomi. REUTERS/Jason Lee
Iklan

Khudori
Anggota Kelompok Kerja Dewan Ketahanan Pangan

Pelaku di industri perunggasan, terutama peternak ayam mandiri, mengalami guncangan luar biasa dalam dua tahun terakhir. Di satu sisi, ongkos beternak terus naik, baik didorong oleh kenaikan harga pakan dan harga ayam usia sehari (DOC) maupun ongkos tenaga kerja. Di sisi lain, harga jual dalam bentuk daging ayam hidup amat tidak menentu. Bahkan, sejak Agustus 2018, harga ayam hidup di tingkat peternak jatuh dan selalu berada di bawah biaya produksi.

Menurut kalkulasi Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat, kerugian peternak hingga saat ini mencapai Rp 3 triliun. Setahun lebih bukan waktu yang pendek bagi peternak rakyat untuk menanggung kerugian.

Para pihak dan pemangku kepentingan di industri perunggasan tidak pernah lelah mencari solusi. Puluhan pertemuan, diskusi, dan diskusi grup terfokus (FGD) pun digelar. Namun sampai sekarang belum ada solusi mujarab. Tidak puas akan keadaan, peternak rakyat berulang kali menggelar parlemen jalanan untuk mendesakkan kepentingan mereka kepada pemerintah. Apa hasilnya? Sejauh ini solusinya bersifat reaktif, sementara, dan jangka pendek, seperti pemusnahan telur tertunas atau afkir dini induk ayam.

Seperti mata rabun jauh, industri perunggasan kini mengidap "penyakit" miopia. Penyakit ini amat berbahaya karena dua hal. Pertama, solusi yang bersifat reaktif dan sementara tak ubahnya pemadam kebakaran. Api yang membakar bisa jadi padam, tapi akar masalah tidak disentuh dan berpotensi muncul lagi. Kedua, berfokus pada solusi jangka pendek telah menutup alternatif solusi jangka panjang. Industri ini terlalu lama tumbuh tanpa sentuhan pemerintah dan hampir banyak lini diserahkan ke mekanisme pasar. Karena itu, akar masalahnya perlu disentuh.

Masalah di industri perunggasan bersifat struktural, merentang dari hulu ke hilir. Pertama, di hulu, hampir semua input produksi diimpor. Bukan hanya biang benih ayam (GGPS) dan benih ayam (GPS), tapi juga input pakan (bungkil jagung dan kedelai). Ketika harga GGPS/GPS dan bahan pakan naik atau nilai rupiah tertekan, harga-harga itu langsung ditransmisikan ke pasar domestik.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kedua, dominasi integrator. Industri perunggasan terkonsentrasi pada segelintir pelaku, baik dalam penguasaan aset, omzet, maupun pangsa pasar. Integrasi pasar vertikal dan horisontal amat tinggi. Pada 2015, 80 persen pangsa pasar unggas dan 63 persen pangsa pakan ternak Indonesia dikuasai hanya lima pemain (Partners, 2017). Pasar pun menjadi rentan. Hasilnya, di hulu, peternak rakyat terjepit karena mereka terpisah dari integrasi vertikal hulu-hilir. Padahal peternak rakyat amat bergantung pada integrator, baik DOC, pakan, maupun obat-obatan. Sedangkan di hilir, pedagang eceran dan konsumen akhir ayam dan telur selalu terombang-ambing oleh harga yang bergerak seperti roller coaster.

Dalam jangka pendek, selain pemusnahan telur tertunas atau afkir dini induk ayam untuk menyesuaikan pasokan dan permintaan, langkah yang amat mendesak adalah memastikan penyebab anomali harga. Seharusnya, saat harga ayam hidup di tingkat peternak jatuh akan diikuti turunnya harga karkas di tingkat konsumen. Demikian pula sebaliknya. Namun dalam setahun terakhir itu tidak terjadi. Komisi Pengawas Persaingan Usaha dan Satuan Tugas Pangan perlu melacak siapa yang bermain, siapa pengendali pasar, pemegang remote harga, dan penikmat untung besar. Mengapa keduanya seperti diam? Jangan sampai kasus ayam ini mengikis kepercayaan publik kepada kedua lembaga.

Dalam jangka menengah-panjang, perlu ada langkah yang berdimensi struktural. Pertama, menyediakan harga khusus jagung untuk pakan ternak. Pakan merupakan komponen utama di industri perunggasan, mengambil porsi 70 persen dari ongkos produksi. Tinggi-rendahnya harga jagung akan menentukan harga ayam dan telur. Pasokan jagung yang pasti dengan harga terjangkau merupakan pilar penting untuk mewujudkan industri perunggasan yang kompetitif. Kedua, audit menyeluruh terhadap 14 perusahaan GPS. Audit tidak hanya untuk menghitung populasi ayam GPS dan PS, tapi juga buat mengikis krisis kepercayaan di antara para pelaku dengan output data yang benar dan akurat.

Ketiga, integrator wajib menyelesaikan integrasi hingga ke hilir. Integrator wajib membangun rumah pemotongan unggas plus cold storage dan industri pengolahan, seperti diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2017. Integrator harus mengintegrasikan seluruh mata rantai nilai dari produksi primer, distribusi, pengolahan, pemrosesan, hingga penjualan di pasar dengan pendekatan from feed to meat. Langkah ini, selain memperbesar nilai tambah, menjadi solusi kelebihan pasokan. Agar ini berjalan, pemerintah bisa memberikan insentif menarik. Selama ini, implementasi aturan ini masih memble dan penegakan sanksinya juga lemah.

Jika langkah ini konsisten ditempuh, pelan tapi pasti bakal terbentuk segmentasi pasar: integrator melayani pasar premium, yakni pasar hotel, restoran dan katering, pasar modern, serta ekspor melalui rantai dingin (cold chain). Secara bertahap, pasar tradisional harus diperuntukkan bagi peternak rakyat melalui rantai segar (fresh chain). Saat ini, 90 persen ayam (produksi peternak rakyat dan integrator) dijual dalam bentuk hidup di lapak yang sama: pasar basah. Pemisahan pasar akan mengeliminasi watak predatorik integrator.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

18 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

26 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

44 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

54 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


1 April 2024


Hibah untuk Keberlanjutan Media yang Melayani Kepentingan Publik

26 Maret 2024

Ilustrasi perang sosial media. / Arsip Tempo: 170917986196,9867262
Hibah untuk Keberlanjutan Media yang Melayani Kepentingan Publik

Tanggung jawab negara dalam memastikan jurnalisme yang berkualitas di Tanah Air perlu ditagih.


Penjabat Bupati Banyuasin Sidak Pusat Pelayanan Terpadu Citra Grand City

12 Februari 2024

Penjabat Bupati Banyuasin Sidak Pusat Pelayanan Terpadu Citra Grand City

Hani Syopiar mengapresiasi tenaga kesehatan yang bertugas selama libur panjang.


Urgensi Kontranarasi dari Film Dokumenter "Sexy Killer" dan "Dirty Vote"

12 Februari 2024

Cuplikan film Dirty Vote. YouTube
Urgensi Kontranarasi dari Film Dokumenter "Sexy Killer" dan "Dirty Vote"

Layaknya "Sexy Killer", "Dirty Vote" layak diacungi jempol. Substansi yang dihadirkan membuka mata kita tentang kecurangan dan potensi-potensi kecurangan elektoral secara spesifik, yang boleh jadi terlewat oleh kesadaran umum kita.


PT Pegadaian Dukung Sertifikasi Halal bagi Pedangang Mie Bakso Yogyakarta

6 Februari 2024

PT Pegadaian Dukung Sertifikasi Halal bagi Pedangang Mie Bakso Yogyakarta

PT Pegadaian berkolaborasi dengan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) serta Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Ashfa Yogyakarta untuk memfasilitasi proses sertifikasi halal.


Bagaimana Bongbong Memenangkan Pilpres Filipina

5 Februari 2024

Ferdinand
Bagaimana Bongbong Memenangkan Pilpres Filipina

Kemenangan Bongbong, nama beken dari Ferdinand Marcos Jr. sering dikaitkan dengan penggunaan media sosial seperti Tiktok, Instagram dan Facebook secara masif, selain politik gimmick nir substansi berupa joget-joget yang diperagakan Bongbong.