Bahasa Jawa: Tentang Bahasa dan Persatuan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Walau kini lebih sering ditulis dalam alfabet latin, Bahasa Jawa memiliki hurufnya sendiri yang disebut Aksara Jawa. Judul tulisan Sinau Nulis Jawa berarti Belajar Menulis Bahasa Jawa

    Walau kini lebih sering ditulis dalam alfabet latin, Bahasa Jawa memiliki hurufnya sendiri yang disebut Aksara Jawa. Judul tulisan Sinau Nulis Jawa berarti Belajar Menulis Bahasa Jawa

    Lebih banyak orang yang dapat berbicara dalam Bahasa Jawa daripada Bahasa Melayu, Bahasa Birma, maupun Bahasa Thai. Tentu saja, karena 95 juta orang atau 40% dari populasi Indonesia yang berjumlah 265 juta orang adalah pengguna Bahasa Jawa.

    Namun demikian, Bahasa Jawa bukanlah bahasa nasional Indonesia. Yang digunakan sebagai bahasa nasional adalah Bahasa Indonesia, sebuah varian dari Bahasa Melayu. Bahasa Indonesia dan Melayu sangatlah berbeda dan jangan dicampuradukkan satu sama lain.

    Meski demikian, Bahasa Jawa tetap hidup – baik dalam konteks budaya populer, maupun politik. Contohnya, salah satu bintang dangdut terpopuler di Indonesia, Via Vallen dengan lagunya "Sayang," yang telah menembus angka 186 juta penonton di YouTube. Ia juga terpilih untuk menyanyikan "Meraih Bintang" yang merupakan lagu tema Asian Games 2018 di Jakarta.

    Bahkan penyanyi berusia 52 tahun, Didi Kempot, yang dijuluki sebagai "Godfather of Broken Hearts" (Rajanya Patah Hati), belakangan ini berhasil meraup banyak fans millennial.

    Pengdangdut Didi Kempot yang terkenal dengan lagu cintanya yang menggugah hati,mendapat julukan Godfather of Broken Hearts.

    Selain itu, ketujuh presiden Indonesia, memiliki darah Jawa – termasuk B.J. Habibie yang beberapa bulan lalu meninggal dunia, memiliki darah separuh Jawa.

    Bila demikian, mengapa Bahasa Jawa, sebagai bahasa dari kelompok etnis terbesar di Indonesia, tidak dipilih sebagai bahasa nasional? Bagaimana hal ini bisa terjadi?

    Untuk memahami alasannya, kita harus melihat kembali ke sejarah Indonesia.

    Kebangkitan nasional Indonesia (yang kemudian menjadi awal perjuangan kemerdekaan) berakar pada Kongres Pemuda Kedua pada Oktober 1928, di mana para pemimpin muda nasionalis dari segala penjuru negeri yang dulunya bernama Hindia-Belanda ini berkumpul di Jakarta.

    Sumpah Pemuda, deklarasi yang dibuat pada akhir Kongres Pemuda Kedua menghasilkan tiga keputusan: satu tanah air, satu bangsa dan satu Bahasa, yaitu Indonesia.

    Hasil utama dari pertemuan tersebut adalah apa yang disebut dengan Sumpah Pemuda. Pada dasarnya, Sumpah Pemuda menghasilkan komitmen perjuangan nasionalis Indonesia untuk satu tanah air dan satu bangsa (Indonesia) serta mengakui satu bahasa nasional: Bahasa Indonesia.

    Para peserta pada Kongres 1928 itu berasal dari berbagai macam kelompok etnis: Jawa, Minang, Melayu, Batak, hingga Banjar, Bugis, Ambon, Bali, dan Minahasa.

    Ada dua alasan utama di balik pemilihan Bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional.

    Pertama, meski suku Jawa adalah kelompok etnis terbesar (47% berdasarkan sensus populasi pada 1930), mereka bukanlah mayoritas yang mendominasi. Maka bilapun Bahasa Jawa dijadikan bahasa nasional, bahasa ini tidak akan menjadi kekuatan yang dapat mempersatukan gerakan nasional yang masih belia. Hal ini justru akan memperkuat rasa ketidaksukaan orang-orang Non-Jawa terhadap kolonial Belanda yang melakukan sentralisasi kekuatan pemerintahannya di Jakarta.

    Alasan kedua adalah rasa di mana Bahasa Jawa terasa terlalu kompleks dan feodal untuk sebuah negara modern.

    Pandangan ini pun diamini oleh para pemimpin dan pemikir beretnis Jawa. Dalam kesempatan lain, bapak pendiri bangsa Indonesia, Sukarno (yang berasal dari Blitar, Jawa Timur, namun tidak hadir di Kongres Pemuda), tercatat pernah berkata: "Macam-macam bentuk bahasa Jawa itu menyusahkan buat bergaul secara bebas, lagi sukar dipahami oleh mereka yang tidak berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Apakah harus diatur lagi bahasa ngoko, kromo, atau kromo inggil, sehingga dapat dipakai oleh semua orang, rendah atau tinggi."

    Secara sederhana, ada tiga tingkatan dalam Bahasa Jawa berdasarkan tingkat kesopanannya: ngoko yang merupakan tingkatan paling rendah dan bentuk paling umum, madya atau krama madya yang merupakan tingkat menengah, dan yang paling tinggi disebut dengan krama inggil.

    Ada beberapa tingkatan kesopanan dalam penggunaan Bahasa Jawa

    Yang lebih membingungkan adalah, bagaimana setiap tingkatan memiliki sub kategori berdasarkan status lawan bicara.

    Krama sendiri dibagi ke dalam dua bentuk, kromo inggil atau krama tinggi, serta kromo andhap atau krama sopan. Krama inggil digunakan dalam acara resmi atau oleh orang-orang dari kelas atas.

    Sementara krama andhap digunakan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang yang memiliki status sosial lebih tinggi, dengan merendahkan diri sendiri.

    Contohnya, kata "kamu" dalam bahasa ngoko adalah "kowe" namun dalam krama madya menjadi "sampeyan", dan dalam krama inggil menjadi "panjenengan."

    Ini berarti ketika berkomunikasi dalam Bahasa Jawa, sang penutur harus terus-menerus menyadari status dirinya maupun lawan bicaranya.

    Bila berbicara dengan orang yang baru pertama kali bertemu, bahasa yang digunakan adalah krama. Kerumitan penggunaan tatanan ini pun dirasa sukar, bahkan bagi kebanyakan orang Jawa asli.

    Mengingat kompleksitasnya, serta komitmen kelompok nasionalis Indonesia kepada egaliterianisme, mereka khawatir terhadap akar feodalisme dalam Bahasa Jawa.

    Sebagai perbandingan, Bahasa Indonesia atau Melayu, yang merupakan bahasa dari masyarakat Melayu Sumatera yang ukuran populasinya kecil, adalah lingua franca (basantara atau bahasa pengantar) di seluruh kepulauan Indonesia. Pada intinya, bahasa tersebut adalah esensi yang dimiliki dan dimengerti oleh semua orang Indonesia. Bahasa ini juga relatif lebih mudah untuk dipelajari dan digunakan.

    Bahkan, Bapak Pendidikan Republik Indonesia – sang aktivis, Ki Hadjar Dewantara (yang kelak menjadi Menteri Pendidikan pertama Indonesia) – pada 1916 sudah menyarankan agar Bahasa Melayu diajarkan kepada anak-anak, dan bukan Bahasa Jawa.

    Ini adalah sebuah hal yang signifikan, mengingat Ki Hadjar Dewantara, yang lahir sebagai bangsawan priyai Jawa dengan nama "Raden Mas Soewardi Soerjaningat" membuang nama ningratnya sebagai simbol menolak feodalisme.

    Bahasa Indonesia, di sisi lain, merupakan sebuah kesuksesan besar.

    Pada sensus penduduk 2010, 92% populasi Indonesia mengaku lancar berbicara dalam Bahasa Indonesia, dibandingkan hanya 40% pada tahun 1970an.

    Bahasa sehari-hari yang digunakan penduduk Indonesia berdasarkan sensus penduduk 2010.

    Meski demikian, mengingat dominasi orang Jawa dalam politik dan kehidupan publik, maka memahami Bahasa Jawa dan nuansa kulturalnya, sangatlah penting bagi siapapun yang ingin memahami Indonesia.

    Tentunya bagi banyak orang, Bahasa Jawa memiliki tradisi kesusastraan yang kaya. Karya sastra yang membentang ke beberapa abad ke belakang, mulai dari tulisan Mpu Prapanca, Mpu Tantular, serta Rangga Warsita, sang penyair kerajaan, dan juga Serat Centhini yang berapi-api.

    Majalah Panjebar Semangat yang terbit di Surabaya, adalah majalah berbahasa Jawa tertua di Indonesia.

    Jadi, meski Bahasa Indonesia terlihat lebih dominan, Bahasa Jawa tetap mengakar kuat dan cukup berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari warga Indonesia. Bahasa Jawa menanamkan kompleksitas dan kekayaan kebudayaannya dalam diskusi-diskusi di ruang publik dan kultur populer saat ini. Ia layaknya sebuah bayangan yang memiliki lebih banyak arti dibanding yang terlihat di permukaan.

    Maka, orang-orang pun perlu mengingat suatu peribahasa Jawa yang berbunyi: "Ojo kagetan, ojo dumeh," atau "jangan mudah terkejut, dan janganlah sombong."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.