Kehidupan Seorang Ibu Yang Bekerja Di Yangon

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ae Ae Phyo Aung (

    Ae Ae Phyo Aung ("Ma Ae") di sebuah restoran mewah, mirip dengan hotel tempat ia bekerja.

    "Rencana saya adalah untuk selalu maju ke depan," kata Ae Ae Phyo, 39 tahun, ke Tim Ceritalah dalam Bahasa Inggris yang lancar dan jelas. "Oleh karena itulah saya dulu bekerja di Doha dan Dubai."

    Setelah menjalani masa kerja tiga tahun sebanyak dua kali di Timur Tengah, Ma Ae ("Ma" artinya "Nyonya" dalam bahasa Birma) kini bekerja sebagai seorang penyelia tata graha atau housekeeping supervisor, di sebuah hotel lokal berbintang lima di Yangon.

    Ketika pertama kali bekerja (di umur 20 tahun pada tahun 2000), Ma Ae adalah seorang pegawai pemasaran untuk Yellow Pages. Ia baru saja menyelesaikan SMA dan harus membantu ayahnya menyokong dua adik laki-lakinya. Setelah dua kerja rendahan lainnya, ia bergabung dengan industri perhotelan, bekerja keras di hotel melati, sambil kuliah jarak jauh.

    Ma Ae di depan apartemen tempat ia tinggal di Yangon.

    Lalu, pada 2004, ia pindah ke Hotel Sedona, institusi bintang lima pertamanya. Ia tahu bahwa memang inilah yang ingin ia lakukan, "Industri perhotelan selalu menyediakan pelayanan berstandar tinggi, dan orang-orangnya kebanyakan berpendidikan baik."

    Dari Sedona – seperti kebanyakan orang Myanmar – ia lalu pergi ke luar negeri. Pemberhentian pertamanya adalah Qatar, di 2006, lalu ia kembali ke Yangon setelah ayahnya meninggal pada tahun 2009.

    Ia lalu pergi ke Dubai pada tahun 2011, kemudian kembali ke Myanmar lima tahun yang lalu. Ia melihat tiap-tiap hotel bintang lima sebagai batu loncatan, menaikkan gaji serta pengalamannya, juga kesempatan di masa depan hingga akhirnya ia mendapatkan pekerjaannya sekarang.

    Ibu bekerja ini berharap dapat mengumpulkan uang untuk membayar uang muka apartemen di tahun depan

    Di negara yang baru saja menaikkan upah minimumnya dari 3.600 kyat (sekitar Rp33.000) ke 4.800 kyat (sekitar Rp44.000) perjam, ada perbedaan tajam di antara kemewahan lingkungan kerjanya dan kehidupan sehari-hari yang keras di Yangon.

    Namun, untuk Ma Ae, hotel dan pariwisata sebagai nafas hidupnya, adalah penyelamat hidup Ma Ae, memberikan ia jalan untuk merangkak keluar dari kemiskinan dan hidup keras demi masa depan yang lebih cerah.

    Meski kerap tidak disukai oleh masyarakat Myanmar, sebagai wanita yang bekerja, Ma Ae mendapatkan bayaran sebanyak kurang lebih Rp4.200.000-5.600.000 perbulan, jauh lebih besar dibandingkan kebanyakan pendapatan perbulan lain di Yangon yang hanya sekitar Rp1.400.000-2.800.000 perbulan (rata-rata pendapatan di kota Yangon adalah Rp2.800.000 perbulan).

    Ma Ae dan keluarganya, di luar apartemen di Yangon

    Terlebih lagi, di sebuah kota di mana kebanyakan wanita yang sudah menikah tidak bekerja (ibu dari Ma Ae sendiri adalah seorang ibu rumah tangga), ia memiliki penghasilan yang lebih besar daripada suaminya yang seorang penyelia tempat cuci baju. Terpaut usia dua belas tahun lebih muda, suaminya baru saja mendapatkan jabatan tersebut. Pendapatannya yang kurang lebih berjumlah Rp3.500.000, dapat menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, sementara pendapatan Ma Ae digunakan untuk menabung atau untuk membeli kebutuhan sekunder dan tersier.

    Menurut statistik tahun 2017 dari ILO (International Labour Organisation/Organisasi Buruh Internasional), hanya 50,5% dari perempuan Myanmar yang berpartisipasi dalam angkatan kerja, berlawanan dengan pria yang berjumlah 85,5%. Angka ini cukup rendah dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya seperti Indonesia (52,5% wanita bekerja), Malaysia (54,8%), Thailand (59,8%), Singapura (60,7%), dan Vietnam (72,75%).

    Bekerja di negara yang berorientasi Buddhis konservatif, tentunya kisah Ma Ae adalah sebuah keberhasilan. Tidak hanya berhasil mengamankan kebebasan finansial, ia juga aktif menabung – menyimpan uang selama satu setengah tahun.

    Dari kiri-kanan: Thada (putri Ma Ae), Ae Ae Phyo Aung dan Kyaw Ye Naing (suami Ma Ae)

    Dalam beberapa tahun ke depan, ia berharap ia dapat membayar uang muka untuk sebuah flat di Dagon Utara, sebuah lingkungan yang lebih kaya 20 kilometer dari Yangon, di mana sebuah apartemen kecil berukuran 180 meter persegi dimulai dengan harga sekitar Rp140 juta.

    Ma Ae memulai pekerjaannya pada pukul 8:30 pagi. Ia mengatur sebuah tim berisi lima belas orang dan pekerjaan sehari-harinya berkisar di antara rapat dengan para manajer, memeriksa kualitas ruangan (di mana standarnya harus tetap tinggi), dan menandatangani laporan-laporan.

    Ia berkomitmen untuk memberikan pendidikan kepada para staffnya dan mendorong mereka untuk mengambil les bahasa Inggris tiga kali seminggu, "Hal tersebut sangatlah penting, mengingat kebanyakan dari pelanggan kami adalah orang Eropa."

    Ma Ae makan di semangkuk mohinga - makanan pokok Burma yang terdiri dari mi dan kuah kaldu ikan.

    "Pekerjaannya melelahkan, tapi saya menyukainya," celetuk Ma Ae. Ia menikmati tanggung jawab yang banyak dari peran barunya dan tetap secara konsisten merencanakan masa depan, berharap menjadi asisten manajer dalam beberapa tahun ke depan.

    Namun tentunya, menjadi seorang ibu yang bekerja tidaklah mudah. Biaya Peluang, atau Opportunity Cost, dari jabatan yang terus menerus naik adalah waktu yang makin sedikit untuk keluarga. Setiap pagi, ia membelikan anak perempuannya, Thada, sarapan pagi, lalu menitipkannya di tempat ibunya sebelum berangkat bekerja. Saat di mana mereka menghabiskan waktu bersama lainnya hanyalah di malam hari. Itupun hanya beberapa jam yang bermakna saja.

    Ketika sebelumnya Ma Ae tidak memiliki ganjalan untuk bekerja di luar negeri, di mana kesempatan terbaik ada di sana, pada saat ini ia lebih memilih tinggal di Yangon demi pendidikan dan layanan kesehatan yang terbaik untuk sang anak.

    Suaminya, Kyaw Ye Naing, berumur 12 tahun lebih muda darinya. Mereka bertemu saat berlibur di Pagoda Kyaik Htwe Yoe pada tahun 2013. Mereka menikah setahun kemudian.

    Baginya tidak masalah dengan waktu kerja yang lama, ia merasa hal tersebut penting untuk menjamin masa depan dirinya dan keluarganya. Ketika ditanyakan apakah hal yang paling penting untuknya, ia menjawab dengan sederhana, "Saya ingin punya rumah atau flat, dan ingin anak saya masuk sekolah swasta."

    Tim Ceritalah berpamitan kepada Ma Ae di jalanan yang sunyi, di mana blok apartemennya berlokasi. Ia menutup pintu besi ke tangga, dan memeriksa kembali apakah pintunya sudah terkunci dengan baik, sebelum naik kembali ke atas, Lelah, namun puas setelah bekerja seharian dan ia akan segera berkumpul dengan keluarganya.

    Kekuatan dan kegigihan Ma Ae dalam diam adalah sebuah bukti. Dengan Taman Kanak-Kanak untuk anaknya dan flat baru menanti di tahun depan, tujuan hidupnya jelas, "Untuk saya, saya berharap suatu hari dapat menjadi seperti mereka-mereka yang ada di atas."

    Keluarga Ma Ae menikmati sarapan bersama, sebuah momen langka karena Ma Ae dan suaminya jarang mendapkan hari libur yang sama.

    Meski banyak yang mengkritisi turisme terutama di negara-negara yang berkonflik – namun dampak positif dan keuntungannya untuk komunitas lokal tidaklah terbantahkan.

    Yang paling penting dan tercermin dari kisah Ma Ae adalah, bagiamana turisme dapat mengubah kehidupan terutama untuk mereka, para wanita dan orang-orang yang kurang beruntung bahkan di negara-negara yang kehidupannya sulit.

    -------------------------

    Karim Raslan adalah kolumnis dan pengamat ASEAN. Berlatar belakang pendidikan hukum dari Universitas Cambridge, Inggris, ia memiliki pemahaman yang mendalam tentang bisnis dan politik di wilayah Asia Tenggara, terutama Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand, Filipina, Vietnam dan Myanmar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.