Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Batu Itu

image-profil

Oleh

image-gnews
Iklan

Kita ini Sisifus, kata seorang teman. Wajahnya lelah.

Kita berjerih payah mendorong batu harapan mencapai puncak. Kita berhasil memilih seorang presiden dengan jujur dan merasa lega bisa menyiapkan masa depan. Tapi segera kita tahu, momen lega itu tak lama. Kini batu karang yang kita naikkan itu mulai merosot, terancam menggelinding kembali ke bawah. Demokrasi merapuh. Partai politik dikuasai orang-orang yang bertindak seperti pemilik yang praktis bisa melakukan apa saja dan tak bisa diganti. Republik jadi sebuah oligarki. Mereka kendalikan Parlemen, mereka memaksakan kehendak bahkan ke Presiden yang akhirnya beraliansi dengan mereka. Pada gilirannya para juragan politik ini akan membuat kita, rakyat, hanya sebagai papan pengganjal. Harapan kepada demokrasi kelar.

Kita ini Sisifus, kata teman tadi.

Dengan memakai perumpamaan itu, batu karang yang kemarin kita letakkan di pucuk gunung, harapan itu, akan bergeser. Kelak (malah mungkin tak lama lagi), ia akan jatuh sampai ke dasar, dan kita atau generasi setelah kita akan megap-megap memunggahnyalagi ke puncak.

Kita Sisifus, kata teman itu mengulang.

Umur saya cukup tua untuk tahu, ia sedang berbicara tentang sejarah politik Indonesia seraya membaca perumpamaan terkenal yang diadopsi Albert Camus dari dongeng Yunani kuno.

Sejak 1945, sejak Republik Pertama, harapan mekar: Indonesia akan tumbuh dalam keadilan dan kemerdekaan. Tapi hanya dalam beberapa dasawarsa, harapan itu retak-retak. Sistem politik diubah, sampai lima atau enam kali, dan bentuk-bentuk Republik yang berbeda dicoba. Tiap kali kita ingin merasa keadaan sudah beres, tapi tidak.

Apa gerangan yang akan terjadi jika kita tambah sadar, masa depan yang kita rancang tak pernah didapat dan kita harus tiap kali kembali mendorong batu itu ke puncak gunung?

Dalam Le Mythe de Sisyphe Camus, takdir para dewa atas Sisifusatas manusia berat dan ganjil, dan tak ada jalan keluar. Pandangan ini, amat muram, pernah dikecam sebagai "pesimisme" Eropa setelah Perang Dunia II yang tak cocok dengan sebuah bangsa yang sedang bangkit.

Tapi tidak. Camus justru menunjukkan semacam optimisme yang tak lazim. Di ujung esai filsafatnya yang kita kutip itu, Camus mengatakan, kita harus membayangkan Sisifus berbahagia.

"Saya tinggalkan Sisifus di kaki gunung itu. Manusia selalu menemukan lagi bebannya. Namun Sisifus mengajarkan kesetiaan yang lebih luhur, yang menampik dewa-dewa dan dengan sikap itu mengangkat batu. Ia menyimpulkan bahwa semua beres. Alam semesta ini, yang sejak itu tak punya penguasa, baginya tak mandul atau sia-sia…. Perjuangan itu sendiri, menuju ke ketinggian, cukup memenuhi hati manusia. Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia."

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kalimat penutup itu memang agak meragukan; saya tak bisa membayangkan Sisifus "berbahagia". Tapi agaknya sebagaimana yang kita rasakan kini setelah menempuh sejarah panjang Indonesia yang tumbuh adalah sikap yang tak lagi naif.

Dari harapan-harapan yang tak terkabul, dari antusiasme yang terbentur, "tak lagi naif" tak harus getir dan ngambek kepada sejarah. Atau mencemooh semua, dan tak mempercayai tiap ikhtiar perubahan. "Tak lagi naif" berarti kita lebih teguh, mungkin angkuh, bangga bisa bertahan. Pada Sisifus, kata Camus, tampak contoh "sebuah wajah yang seraya bekerja keras begitu dekat dengan batu, telah merupakan batu sendiri".

Dan "ikhtiarnya tak akan berhenti".

Tapi ke mana?

Tak gampang menjawab itu. Perjuangan ke kehidupan yang berkeadilan dan berkebebasan perjuangan demokrasi rasanya telah kehabisan desain.

Pernah ada masa ketika orang-orang pintar memperhitungkan bahwa keadilan dalam arti distribusi kekayaan yang meratakan terjadi jika kekayaan di masyarakat kian tumbuh. Si kaya tak perlu dipaksa, dengan dikenai pajak, membagikan kekayaan mereka ke lapisan masyarakat yang berkekurangan. Dalam pandangan yang dikenal sebagai teori trickle-down effect ini pemerataan diyakini akan terjadi dengan cara yang diumpamakan John Kenneth Galbraith secara kocak: "Bila kuda diberi makan cukup banyak dedak, dedak itu akan tercecer untuk burung layang-layang."

Tapi apa lacur: sampai hari ini, si kuda makin gemuk dan ribuan burung layang-layang tetap lapar. Negara, yang sering diharapkan akan mengelola pemerataan secara lebih baik, telah jadi alamat yang salah. Oligarki makin menghambat proses. Ketika para juragan politik mengkonsolidasikan diri dengan memusatkan uang dan kekuasaan di tangan mereka, ketidakadilan membentuk bangunan permanennya sendiri.

Siapa yang bisa mengubah itu, bagaimana mengubah ituitu pertanyaan yang jadi klasik karena tak kunjung terjawab. Demokrasi parlementer akhirnya, seperti kita saksikan, mengalami distorsi. Cara lain pemerataan, revolusi sosialis yang pernah dicoba di Rusia, Tiongkok, dan lain-lain, juga melenceng. Dalam sejarah perjuangan yang panjang, manusia memang Sisifus.

Tapi entah kenapa manusia tak bisa berhenti. Mungkin tiap kali kita maju dengan sikap yang berbeda. Kita bisa makin tangguh sekeras batu, tapi juga lebih rendah hati: mencari yang tak mutlak. Sisifus tetap dengan setia mendorong batu sampai puncak, tapi tahu, dalam kata-kata Camus, "Tak ada matahari tanpa bayang-bayang, dan sungguh penting mengenal malam." Siapa yang mengharap terang yang absolut akan kecewa secara absolut.

Goenawan Mohamad

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

2 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

16 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

17 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

17 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

18 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

24 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

43 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

52 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024