Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Joko Anwar dan Cerita yang Jahanam

image-profil

Oleh

image-gnews
Poster Perempuan Tanah Jahanam
Poster Perempuan Tanah Jahanam
Iklan

 JOKO ANWAR DAN  CERITA YANG JAHANAM

Sebuah cerita yang gelap dan pesimistik. Karya terbaru Joko Anwar yang memperlihatkan bahwa dia adalah pendongeng sejati.

PEREMPUAN TANAH JAHANAM

Sutradara                 : Joko Anwar

Skenario                   : Joko Anwar

Pemain                      : Tara Basro, Marissa Anita, Asmara Abigail, Christine Hakim, Ario Bayu

Produksi                   : Base Entertainment, Ivanhoe Pictures, CJ Entertainment,

 Tersebutlah sebuah desa nun di ujung timur Pulau Jawa: sebuah desa gelap penuh pepohonan purba. Sebuah desa yang tak mengenal terang, matahari atau bahkan napas kehidupan. Perempuan  menjadi bunting di sana dan di sini, tetapi kemudian bisa dipastikan keesokan harinya akan ada upacara pemakaman bayi yang memilukan.

“Mengapa begitu banyak makam anak-anak di desa ini?” demikian Dini (Marissa Anita) bertanya dengan nada kritis. Maya (Tara Basro) , protagonis dalam dongeng gelap ini, seorang aktris yang selama ini menjadi muse sutradara Joko Anwar , seperti menegasikan segala curiga dan rasa takut sahabatnya.

Sejak awal , kedua perempuan ini hampir seperti adik kakak yang saling menyediakan bahu untuk menyangga dunia yang buruk. Joko menciptakan tokoh Maya yang hanya paham dirinya seorang yatim piatu . Maya ingin menyusuri asal-usulnya karena sejak awal film, dia dibenturkan oleh beberapa informasi tentang orangtuanya dan juga karena dia butuh duit. “Kalau melihat foto keluargaku ini, kelihatannya mereka cukup kaya, lihat rumahnya,” demikian Maya berteori dan terdorong untung mencari desa tempat asal orangtuanya.  Sementara sahabatnya, Dini si peragu yang bertugas ‘mengontrol’ setiap kali Maya membiarkan rasa penasarannya membawanya ke area yang asing.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Seperti saat itu , ketika akhirnya keduanya terdampar di desa purba yang seolah bukan bagian dari peradaban Indonesia, meski tetap terasa Indonesia. Maya dan Dini merasa ada sesuatu yang ganjil, gelap, aneh di sekitar desa yang hanya terdiri dari orang-orang dewasa yang memandangnya dengan penuh syak wasangka dari jauh. Maya dan Dini mengaku sebagai mahasiswa yang hendak meriset tentang dalang dan perwayangan,  karena mereka mendengar surat-surat kepemilikan rumah tua besar –yang kini sudah kosong tanpa penghuni—itu ada di tangan Ki Saptadi (Aryo Bayu ) seorang dalang tampan yang tampaknya dipatuhi dan ditakuti satu desa. Ki Saptadi adalah putera Nyi Misni (Christine Hakim dalam penampilannya yang berbeda dan betul-betul menggebrak layar), seorang sosok yang seolah telah rontok oleh usia dan penyakit, tetapi ternyata memiliki kekuasaan dan kekuatan yang mengerikan. Tak syak lagi, Maya dan Dini telah memasuki tanah jahanam.

Tentu saja Maya dan Dini  didera berbagai kekejian dan serangkaian siksa, yang secara perlahan-lahan terkuak sedikit demi sedikit. Peristiwa demi peristiwa terkelupas.  Dengan gaya yang  memukau, Joko seolah menampilkan gambaran pohon keluarga Maya.

Film ini tak bisa dibandingkan dengan film-film Joko Anwar sebelumnya , terutama Pengabdi Setan, bukan hanya karena film ini jauh lebih mengerikan, melainkan karena sebetulnya –menurut saya—ini bukan film horor.  Joko tidak bertumpu pada setan atau hantu sebagai penggerak cerita. Tokoh Maya adalah pemimpin cerita. Masa lalu dan keluarga Maya adalah penggerak plot. Manusia biasa adalah sosok terpenting , sementara  ada mahluk halus  yang tetap berkelebat seperlunya sebagai bagian dari sampiran. Pada dasarnya Joko justru memberikan pernyataan bahwa manusialah yang jauh lebih ganas dan keji daripada para hantu yang biasanya sekadar ingin ‘tenang’  dan kalau mungkin duduk-duduk saja di pohon.

Di tanah jahanam ini ada segala yang gelap. Ada ilmu hitam, ada kematian demi kematian, ada kutukan, ada klenik dan juga tumbal demi tumbal yang menurut duo Nyi Misni dan Ki Saptadi akan menyelamatkan desa itu dari kutukan masa lalu. Saksikan bagaimana Nyi Misni menggantung ‘bahan baku’ untuk serangkaian wayang kulit yang akan dipentaskan puteranya. Tenang, biasa, dengan gerakan yang biasa-biasa saja seolah dia sedang menggantung sehelai sarung bantal. Justru gaya ‘biasa’ ini yang setiap detik melahirkan rasa ngeri dan nyeri.

Sulit untuk tak mengakui bahwa film ini adalah karya Joko Anwar tergelap dan terbaik. Manusia di dalam desa itu, bahkan pendatang yang “awam” seperti Dini dan Maya memiliki hasrat yang tak tertahankan. Yang membedakan Dini dan Maya dengan keluarga Nyi Misni dan pengikutnya adalah sekelumit peradaban.

Bahwa Joko Anwar menggunakan seni tradisional sebetulnya menarik sekali. Tetapi menurut saya akan lebih kental lagi jika serangkaian wayang kulit yang dipentaskan Ki Saptadi itu menampilkan lakon tertentu dengan karakter-karakter wayang yang kemudian memiliki relevansi dengan cerita, relevansi dengan karakter Nyi Misni yang mempunyai hubungan kompleks dengan puteranya.  Dalam film ini,  dalang berikut pertunjukan wayang adalah plot device yang digunakan untuk memperlihatkan betapa purba nya solusi mereka terhadap apa yang dianggap sebagai ‘kutukan’.

Joko juga tak memberikan harapan,  bahkan seberkas sinar apapun hingga akhir cerita. Manusia, dan lagi-lagi manusia yang selalu saja membuat hidup ini menjadi jahanam.  Bagi Joko, mengapa pula kita berlagak menganggap manusia memiliki nurani.  Pada dasarnya, kita semua jahanam.

Leila S.Chudori

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

22 jam lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

14 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

15 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

15 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

16 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

22 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

41 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

50 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024