Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Menteri

image-profil

Oleh

image-gnews
Sejumlah wakil menteri Kabinet Indonesia Maju mengucapkan sumpah saat dilantik di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 25 Oktober 2019. Presiden secara resmi melantik 12 wakil menteri untuk membantu kinerja menteri-menteri di Kabinet Indonesia Maju. ANTARA
Sejumlah wakil menteri Kabinet Indonesia Maju mengucapkan sumpah saat dilantik di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 25 Oktober 2019. Presiden secara resmi melantik 12 wakil menteri untuk membantu kinerja menteri-menteri di Kabinet Indonesia Maju. ANTARA
Iklan

Putu Setia
@mpujayaprema

Menarik sekali menonton audisi calon menteri kabinet Joko Widodo jilid II yang digelar di Istana Negara. Saya tak beranjak dari televisi hanya untuk memuaskan hasrat bermain tebak-tebakan. Ketika Mahfud Md. keluar dari ruang audisi dan menceritakan hasilnya, saya menebaknya ia bakal menjadi Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Ini adegan pembuka. Semua calon menteri dilarang mengumumkan penunjukan ia ditugaskan di mana. Inilah kelebihan Presiden Jokowi, yang membuat penonton tetap penasaran.

Belakangan muncul Yasonna Laoly, dan tebakan saya soal Mahfud pun harus direvisi. Yasonna pasti kembali ke habitatnya sebagai Menhukham. Kini tebakan saya menjadikan Mahfud sebagai Menteri Agama. Alasannya, Menteri Agama lazim berasal dari NU. Apalagi diperkuat dengan munculnya Muhadjir Effendy, yang saya tebak pasti tetap sebagai Mendikbud. Sudah jadi rahasia umum, jatah NU ada di Kemenag dan jatah Muhammadiyah di Kemendikbud.

Audisi bak sinetron terus berputar. Jenderal (purnawirawan) Fachrul Razi muncul di layar. Tebakan saya, sang jenderal menjadi Menkopolhukam. Siapa lagi yang bisa dijadikan atasan Prabowo Subianto yang sudah diplot sebagai Menteri Pertahanan? Tak mungkin anak muda semacam Nadiem Makarim, pikir saya.

Esoknya, setelah semuanya jelas siapa menjadi apa, ternyata tebakan saya semua meleset. Saya salah menggunakan pakem tradisional, karena itu, tebakan meleset. Saya menduga Fachrul Razi enggan menjadi atasan Prabowo karena pernah "ada kontak" pada masa lalu. Lalu Fachrul dijadikan Menteri Agama, tukaran sama Mahfud. Karena jatah NU hilang di Kemenag, supaya adil, jatah Muhammadiyah di Kemendikbud juga harus hilang. Maka Muhadjir dijadikan Menko. Lalu siapa menjadi Mendikbud? Calon milenial Nadiem Makarim ditaruh di sana.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kalau begitu, kabinet ini bukanlah soal siapa yang tepat menjadi apa, tapi kumpulkan nama dulu, lalu dicarikan tempatnya. Begitu dugaan saya. Apakah anak muda 35 tahun seperti Nadiem bisa mengatasi problem pendidikan dan kebudayaan dan tidakkah dia rikuh mengumpulkan ratusan rektor yang profesor sepuh sambil memberikan pengarahan soal radikalisme? Itu akan diuji kemudian. Apakah NU protes Menteri Agama dari tentara, itu soal nanti. Kalaupun ada protes, biarlah kiai meredakannya.

Imajinasi liar saya pun terus muncul. Pada saat-saat terakhir audisi, saya membayangkan Jokowi capek, lalu ada yang memberondong pertanyaan: Kenapa menteri perempuan sedikit? Kenapa menteri dari Bali belum ada? Kenapa jatah PDIP baru empat, kan Mbak Mega emoh? Lalu Jokowi menjawab: "Oh, lupa. Ya sudah, carikan calon menteri perempuan dari Bali yang mewakili PDIP. Tapi harus ada di Jakarta saat ini, tidak bisa menunggu." Orang di sekeliling Jokowi pun sibuk mencari. Sulit dalam waktu kepepet. Yang ada cuma istri mantan Menteri Koperasi. Maka jadilah Gusti Ayu Bintang Puspayoga sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, tanpa audisi.

Saya tertawa dengan imajinasi liar ini. Begitu gampangkah mencari calon menteri? Tentu tidak. Jokowi dan Ma’ruf Amin sangat serius mencari pembantunya. Nadiem sudah dipersiapkan matang. Fachrul Razi memang sejak awal diminta menangkal radikalisme yang menyusup ke ranah agama. Namun, jika hasilnya mengecewakan orang, berbagai dugaan muncul. Padahal, harap dimaklumi, pertimbangan mengangkat menteri itu banyak. Ada balas jasa politik, memperluas dukungan, representasi kultural dan etnis, lalu tekanan dari partai pendukung. Belum lagi pencitraan bahwa kabinet harus diisi kaum milenial. Jadi, mari kita terima apa adanya.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

22 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

31 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

49 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

59 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


1 April 2024


Hibah untuk Keberlanjutan Media yang Melayani Kepentingan Publik

26 Maret 2024

Ilustrasi perang sosial media. / Arsip Tempo: 170917986196,9867262
Hibah untuk Keberlanjutan Media yang Melayani Kepentingan Publik

Tanggung jawab negara dalam memastikan jurnalisme yang berkualitas di Tanah Air perlu ditagih.


Penjabat Bupati Banyuasin Sidak Pusat Pelayanan Terpadu Citra Grand City

12 Februari 2024

Penjabat Bupati Banyuasin Sidak Pusat Pelayanan Terpadu Citra Grand City

Hani Syopiar mengapresiasi tenaga kesehatan yang bertugas selama libur panjang.


Urgensi Kontranarasi dari Film Dokumenter "Sexy Killer" dan "Dirty Vote"

12 Februari 2024

Cuplikan film Dirty Vote. YouTube
Urgensi Kontranarasi dari Film Dokumenter "Sexy Killer" dan "Dirty Vote"

Layaknya "Sexy Killer", "Dirty Vote" layak diacungi jempol. Substansi yang dihadirkan membuka mata kita tentang kecurangan dan potensi-potensi kecurangan elektoral secara spesifik, yang boleh jadi terlewat oleh kesadaran umum kita.


PT Pegadaian Dukung Sertifikasi Halal bagi Pedangang Mie Bakso Yogyakarta

6 Februari 2024

PT Pegadaian Dukung Sertifikasi Halal bagi Pedangang Mie Bakso Yogyakarta

PT Pegadaian berkolaborasi dengan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) serta Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Ashfa Yogyakarta untuk memfasilitasi proses sertifikasi halal.


Bagaimana Bongbong Memenangkan Pilpres Filipina

5 Februari 2024

Ferdinand
Bagaimana Bongbong Memenangkan Pilpres Filipina

Kemenangan Bongbong, nama beken dari Ferdinand Marcos Jr. sering dikaitkan dengan penggunaan media sosial seperti Tiktok, Instagram dan Facebook secara masif, selain politik gimmick nir substansi berupa joget-joget yang diperagakan Bongbong.