Perang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perang punya atraksinya sendiri. "Militer" tak selamanya sehimpun wajah kaku. Dan itu tak hanya ketika di Hari Angkatan Perang tim Jupiter AURI mempertontonkan akrobatik udara dan 1.000 prajurit menarikan Gemu Famire. Atraksi juga bisa diimajinasikan di arena bunuh-membunuh.

    Seperti pertandingan bola, perang mengandung sesuatu yang estetis-entah kenapa. Setidaknya fotogenik, juga (atau justru) ketika brutal. Dalam karya fotografi termasyhur Robert Capa dari Perang Saudara Spanyol dan James Nachtwey dari Kosovo-atau dalam adegan fiktif Game of Thrones-gambar-gambar menampilkan realisme yang gelap, tapi pada saat yang sama mempesona. Di Indonesia, kita tak heran. Dalam wayang kulit, di tangan ki dalang yang cekatan, yang ganas dalam adegan perang hanya melintas, ketika dua tokoh bertarung, bertabrakan, meloncat, roboh.

    Kadang-kadang prajurit tampak bak ornamen: dalam film Kagemusha karya Kurosawa-mungkin demikian di Jepang masa lalu-ratusan panji oranye dan hitam berkibar di punggung infanteri dan kavaleri menjelang pertandingan tikam-menikam.

    Bukan kebetulan jika di mana-mana tentara memakai kostum dan senjata yang tidak saja praktis, tapi juga keren. Di abad ke-20, seragam pasukan Nazi didesain Hugo Boss AG, bisnis busana yang bermula di Metzingen di tahun 1924. Kalau tidak, pembunuhan dilakukan dengan alat yang mirip seni rupa. Dalam sejarah Ken Arok di abad ke-13 di Jawa, kita baca keris Empu Gandring ditempa dan diraut dengan saksama; di abad ke-21, bedil HK416 yang dipakai menembak Usamah bin Ladin adalah gabungan ketitisan yang canggih dengan desain yang enak dipandang. Dalam cerita Homeros tentang Perang Troya, ujung tombak Akhiles yang membinasakan Hektor digambarkan berkilau bagaikan "bintang yang terapung di antara konstelasi tengah malam, terpacak seperti permata paling cantik di angkasa".

    Lalu dunia pun jadi modern. Kebuasan berlanjut, tapi telah dibikin seperti operasi jantung di rumah sakit yang bersih, steril, dan tertutup. Pembunuhan bahkan bisa dilakukan tanpa heboh tanpa bunyi ketika pistol ditembakkan dengan peredam suara; di Amerika kini ada grup Facebook yang beranggotakan para perakit silencer di rumah-rumah.

    Tak ada lagi perang sebagai atraksi. Senjata, pakaian seragam, pesawat tempur, dan kapal perang tetap didesain dengan serius, tapi tak ada lagi gerak tubuh yang memukau seperti dalam film silat Crouching Tiger, Hidden Dragon, dengan latar abad ke-19 Tiongkok. Perang makin memperhitungkan jarak; benturan pedang dan badan nyaris tak ada lagi.

    Pada saat yang sama, manusia merasa tangannya tak dikotori darah, tapi juga ia jadi kurang penting. Sejarah Jepang menunjukkan transformasi ini dengan mencolok.

    Berabad-abad kekuasaan bertumpu pada kemampuan para samurai membunuh manusia. Mereka menyiapkan diri seumur hidup untuk bertempur, dengan keterampilan pedang yang ulung dan stabilitas kejiwaan yang terlatih. Mereka elite yang tak dapat disaingi orang kebanyakan yang tunduk.

    Tapi zaman berubah. Bedil masuk Jepang: sebuah alat pembunuhan yang lebih mudah dikuasai siapa saja. Manusia membinasakan dengan lebih efisien dan efektif-meskipun tanpa sikap yang elegan, karena anak petani yang kasar pun sanggup melakukannya. Demokratisasi instrumen kekerasan mulai. Samurai bukan manusia istimewa lagi.

    The Last Samurai (2003)-biasanya diingat sebagai film Tom Cruise yang seru-sebenarnya juga satu ilustrasi perubahan sosial-politik Jepang di pertengahan abad ke-19. Katsumoto, diperankan Ken Watanabe, samurai yang membangkang kekuasaan pusat, hidup dengan memilih "jalan pedang". Tapi para petinggi di sekitar Kaisar Meiji memilih bedil, kereta api, bisnis besar, dan dengan cara itu mengalahkan tokoh yang mengagungkan tradisi ini. Tradisi itu indah, tapi seperti dikatakan dengan angkuh (dan benar) oleh Omura, penggerak modernisasi di dekat Istana Meiji, "Bahkan si samurai perkasa tak akan tahan menghadapi howitzer."

    "Jalan samurai sudah berakhir," akhirnya Katsumoto mengakui dunianya runtuh. Pemerataan kemampuan bersenjata menyisihkan para pendekar yang piawai, tapi memudahkan penguasa memperkuat diri. Dalam sejarah, dimulai di Eropa, perang pun membesar, bersama munculnya lapisan sosial yang kemudian disebut "massa". Dari lapisan ini ratusan ribu serdadu direkrut, jumlahnya menggelembung dalam waktu pendek. Perang bukan lagi kisah heroisme. Heroisme bahkan akan tampak seperti narsisisme.

    Dari masa inilah muncul Schweik. Tokoh fiktif yang diciptakan Jaroslav Hašek (terbit pada 1921) ini adalah seorang Cek yang gendut, jelek, dipandang bodoh, tapi mungkin orang paling cerdas dan mulia dalam situasi politik yang absurd. Ia terdaftar jadi serdadu Kerajaan Austria dan menunjukkan betapa joroknya perang, bejatnya para petinggi, dan konyolnya para prajurit.

    Saya membacanya dalam terjemahan Indonesia di awal sekolah menengah pertama dengan judul Schweik Serdadu Baik. Saya baru memahami satire antiperang Hašek bisa panjang dan asyik setelah saya lulus: "Tak ada pahlawan, hanya ternak untuk disembelih...," kata Schweik menjelang tidur.

    Lalu ia berseru: "Hidup Tentara! Selamat malam!"

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gempa Maluku Utara dan Guncangan Besar Indonesia Selama 5 Tahun

    BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami. Peringatan ini menyusul Gempa Maluku yang terjadi di Jailolo, Maluku Utara, Kamis, 14 November 2019.