Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Waspada Bakar Modal Uang Elektronik

Oleh

image-gnews
Direktur Keuangan TransJakarta, Welfizon Yuza (kiri) melayani calon penumpang mengisi ulang uang elektronik di Halte TransJakarta Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Rabu 4 September 2019. Kegiatan tersebut sebagai bentuk apresiasi PT TransJakarta terhadap pelanggan dalam Hari Pelanggan Nasional 2019. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Direktur Keuangan TransJakarta, Welfizon Yuza (kiri) melayani calon penumpang mengisi ulang uang elektronik di Halte TransJakarta Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Rabu 4 September 2019. Kegiatan tersebut sebagai bentuk apresiasi PT TransJakarta terhadap pelanggan dalam Hari Pelanggan Nasional 2019. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Iklan

PEMAKAIAN uang elektronik merupakan keniscayaan pada zaman digital ini. Tak aneh, banyak yang meramalkan penggunaan uang tunai segera punah. Konsumen kini memanfaatkan kemudahan transaksi nontunai, dari pembayaran moda transportasi, penyaluran bantuan sosial, sampai jual-beli barang.

Makin banyaknya pemakaian uang elektronik jelas kabar menggembirakan. Kehadiran sejumlah instrumen pembayaran itu meningkatkan kemudahan transaksi keuangan sekaligus mengurangi biaya pencetakan uang. Konsumen bisa melakukan pembayaran kapan dan di mana saja. Sedangkan Bank Indonesia tak perlu cepat-cepat mengganti uang beredar. Ini sejalan dengan cita-cita pemerintah mendorong Gerakan Nasional Nontunai, yang gencar dikampanyekan Bank Indonesia sejak lima tahun lalu.

Upaya mendorong masyarakat agar terbiasa memakai alat pembayaran nontunai mulai terasa hasilnya setelah uang elektronik berbasis server, seperti GoPay, OVO, DANA, dan LinkAja, bermunculan di pasar dompet digital pada 2016-2019. Kehadiran mereka melengkapi penggunaan uang elektronik berbasis chip yang telah ada, seperti e-Money, Flazz, dan Brizzi. Jumlah entitas yang mengantongi izin uang elektronik hingga Mei tahun ini mencapai 38 perusahaan.

Lompatan pemakaian uang elektronik terekam dalam data Bank Indonesia. Pada akhir 2018, volume transaksi uang elektronik mencapai 2,9 miliar dengan nilai Rp 47,2 triliun. Nilai transaksi itu melonjak hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya, sebesar Rp 12,4 triliun. Penggunaan uang elektronik hingga Juli tahun ini bahkan sudah mencapai Rp 69 triliun. Inklusivitas pemakaian uang elektronik untuk layanan umum, misalnya pembayaran jalan tol, ikut mengerek volume dan nilai transaksi. Padahal, satu tahun setelah Gerakan Nasional Nontunai bergulir, nilai transaksi uang elektronik baru mencapai Rp 5,3 triliun atau hanya naik Rp 2 triliun dari 2014.

Di tengah ketatnya persaingan, Bank Indonesiasebagai regulatorharus betul-betul mendorong terjadinya kompetisi yang sehat di antara para pelaku. Hanya dengan cara ini mereka akan terlecut mencari inovasi agar lebih efisien dan memiliki keunggulan bersaing. Sistem pembayaran nontunai yang lebih praktis, aman, dan efisien pada akhirnya akan menguntungkan pelanggan. Dengan efisiensi ini pula perusahaan pembayaran bisa bertahan di pasar.

Tumbuhnya penggunaan transaksi nontunai tak hanya memberikan manfaat bagi konsumen, tapi juga bagi para merchant yang selama ini menjadi mitra. Jumlah merchant yang menggunakan GoPay, misalnya, mencapai 400 ribu. Sebagian besar dari mereka merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah. Naiknya nilai transaksi otomatis meningkatkan pendapatan mereka. Dengan begitu, ekosistem pembayaran digital bisa tumbuh berkelanjutan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Yang patut diwaspadai adalah praktik predatory pricing dengan menjatuhkan harga jauh di bawah biaya keekonomian dengan tujuan mematikan pesaing. Caranya: "membakar uang" terus-menerus demi membunuh pesaing. Lalu satu penyedia layanan akan menjadi pemain tunggal di pasar. Ini biasa dilakukan perusahaan yang memiliki modal besar. Indikasi ini terlihat dari maraknya diskon dan promosi uang kembali yang ditawarkan kepada konsumen. Subsidi harga ini berlawanan dengan iklim kompetisi yang sehat.

Bila nantinya terjadi monopoli atau pasar dikuasai segelintir pemain, konsumen akan dirugikan karena tak punya banyak pilihan. Gerakan Nasional Nontunai bisa redup di tengah jalan. Regulator harus memastikan tak akan tercipta pasar yang monopolistik itu.

Catatan:

Ini merupakan artikel opini majalah tempo edisi 14-20 Oktober 2019

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

23 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

31 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

50 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

59 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


1 April 2024


Hibah untuk Keberlanjutan Media yang Melayani Kepentingan Publik

26 Maret 2024

Ilustrasi perang sosial media. / Arsip Tempo: 170917986196,9867262
Hibah untuk Keberlanjutan Media yang Melayani Kepentingan Publik

Tanggung jawab negara dalam memastikan jurnalisme yang berkualitas di Tanah Air perlu ditagih.


Penjabat Bupati Banyuasin Sidak Pusat Pelayanan Terpadu Citra Grand City

12 Februari 2024

Penjabat Bupati Banyuasin Sidak Pusat Pelayanan Terpadu Citra Grand City

Hani Syopiar mengapresiasi tenaga kesehatan yang bertugas selama libur panjang.


Urgensi Kontranarasi dari Film Dokumenter "Sexy Killer" dan "Dirty Vote"

12 Februari 2024

Cuplikan film Dirty Vote. YouTube
Urgensi Kontranarasi dari Film Dokumenter "Sexy Killer" dan "Dirty Vote"

Layaknya "Sexy Killer", "Dirty Vote" layak diacungi jempol. Substansi yang dihadirkan membuka mata kita tentang kecurangan dan potensi-potensi kecurangan elektoral secara spesifik, yang boleh jadi terlewat oleh kesadaran umum kita.


PT Pegadaian Dukung Sertifikasi Halal bagi Pedangang Mie Bakso Yogyakarta

6 Februari 2024

PT Pegadaian Dukung Sertifikasi Halal bagi Pedangang Mie Bakso Yogyakarta

PT Pegadaian berkolaborasi dengan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) serta Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Ashfa Yogyakarta untuk memfasilitasi proses sertifikasi halal.


Bagaimana Bongbong Memenangkan Pilpres Filipina

5 Februari 2024

Ferdinand
Bagaimana Bongbong Memenangkan Pilpres Filipina

Kemenangan Bongbong, nama beken dari Ferdinand Marcos Jr. sering dikaitkan dengan penggunaan media sosial seperti Tiktok, Instagram dan Facebook secara masif, selain politik gimmick nir substansi berupa joget-joget yang diperagakan Bongbong.