Menghindari Perang Dingin Seri Kedua

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi perang dagang Amerika Serikat dan Cina. Businessturkeytoday.com/

    Ilustrasi perang dagang Amerika Serikat dan Cina. Businessturkeytoday.com/

    Tri Winarno
    Penulis buku Indonesia Responding the Dynamics of Global Economy.

    Di tengah-tengah perdebatan mengenai mengendurnya multilateralisme dan lahirnya tatanan dunia "G2" baru-tatanan dunia yang didominasi oleh Amerika Serikat dan Cina kita terlalu mudah melupakan sistem sama yang pernah ada selama beberapa dasawarsa setelah Perang Dunia II, yang didominasi oleh Amerika dan Uni Soviet. Bedanya, pada akhir 1980-an, polarisasi tersebut membuktikan bahwa sistem Uni Soviet tidak dapat bersaing dengan sistem kapitalisme yang berbasis pasar bebas.

    Setelah runtuhnya Tembok Berlin pada 1989, disusul bubarnya Uni Soviet, tatanan dunia "G2" tersebut berubah menjadi tatanan dunia "G1+n", yang semua negara lain sejumlah (n) tidak dapat menandingi Amerika sebagai adidaya global tunggal.

    Selama hampir seperempat abad, tata dunia diwarnai oleh sistem multilateral berbasis liberalisme. Demokrasi dan kapitalisme yang berbasis pasar menjadi acuan tatanan global yang, menurut Francis Fukuyama, menjadi "akhir sejarah". Secara umum, Amerika menjadi pemenang dalam sistem ini, seperti banyak negara yang diuntungkan oleh globalisasi dan munculnya rantai produksi global yang terintegrasi.

    Namun, pada akhir dasawarsa ini, kemunculan Cina sebagai raksasa baru telah mengakhiri era tata dunia "G1+n". Walaupun Amerika masih menjadi pemimpin ekonomi, teknologi, dan kekuatan militer dunia, lambat laun Cina akan menantang posisi Amerika tersebut. Selain itu, diperkirakan tidak sampai satu dasawarsa lagi Cina menandingi Amerika.

    Beberapa pihak berargumen bahwa saat ini sebenarnya kita hidup dalam tata dunia yang multipolar, dengan negara-negara kategori menengah masih memiliki peran yang menentukan dalam tatanan global. Dari sudut pandang ini, dengan mempertimbangkan dunia yang tidak datar, tatanan global mempunyai beberapa pusat (hub) dalam aktivitas aliran modal, perdagangan, pengelolaan big data, dan Internet. Hub-and-spoke structure ini memberikan peluang kerja sama dan kompetisi di antara beberapa negara, bukan hanya di antara dua negara adidaya.

    Model tatanan global struktur hub-and-spoke tersebut memberikan peran penting kepada negara-negara seperti India, Jerman, Rusia, Brasil, dan Jepang. Model ini juga menggarisbawahi mekanisme pembagian kekuasaan dan kesempatan yang didasari isu dan kepentingan di antara negara yang berpengaruh.

    Meski demikian, tatanan multipolar tersebut menjadi kurang relevan tatkala terjadi ketidakseimbangan kekuasaan yang sangat besar antara "G2" dan negara-negara kategori menengah. India, misalnya, berpenduduk sama besar dengan Cina, tapi produk domestik bruto (PDB) India hanya 20 persen dari PDB Cina. Di samping itu, kemampuan teknologi dan militer India, walaupun mengesankan, bukan tandingan Cina atau Amerika. Begitu pula kondisi negara-negara kategori menengah lainnya.

    Ketidakseimbangan semacam itu mengingatkan kita pada tatanan dunia pada 1945-1989. Walaupun tidak mirip sekali masa Perang Dingin, Amerika dan Cina kini terbelah secara ideologi dan hubungannya saling antagonistik. Namun globalisasi telah menjadikan mereka sangat saling bergantung sehingga melahirkan apa yang dikenal sebagai "two systems, one world", sebagaimana pernah disampaikan oleh mantan Menteri Luar Negeri Jerman, Joschka Fischer.

    Ketergantungan itu telah menjadi aset dan beban strategis karena kedua negara tersebut dapat menggunakan keuntungan geopolitiknya guna menjadikan jaringan global sebagai senjata untuk memenangi kompetisi. Adapun jaringan global tersebut meliputi rantai produksi, sistem kliring keuangan, dan infrastruktur telekomunikasi.

    Hanya ada dua perkembangan yang dapat mengubah gambaran tersebut. Pertama, Cina dan Amerika berevolusi, yang secara ideologis saling mendekat. Pemerintahan Amerika yang baru, setelah pemilihan presiden 2020 nanti, diharapkan dapat lebih memperhatikan dinamika internasional, selain kepentingan domestiknya. Sedangkan Cina, dengan kemajuan ekonominya, lambat laun akan semakin dekat ke politik yang lebih liberal dan demokratis.

    Kedua, Uni Eropa, yang semakin terintegrasi, dapat menjadi adidaya ketiga di dalam tata dunia "G3" serta memainkan peran kunci sebagai penyeimbang antara Amerika dan Cina. Uni Eropa memiliki kapasitas yang diperlukan dari sisi ekonomi, keuangan, teknologi, dan sumber daya manusia serta, yang terpenting, multilateralisme adalah "DNA"-nya Uni Eropa.

    Idealnya, kedua perkembangan tersebut terjadi secara simultan. Jika Uni Eropa semakin terintegrasi dan Amerika semakin berpandangan ke luar, keduanya akan saling memperkuat dan menopang multilateralisme sebagai cara terbaik untuk menjaga perdamaian global. Maka, Cina akan semakin kesulitan jika tidak terintegrasi ke dalam sistem tata dunia baru tersebut.

    Namun, dalam jangka panjang, kekuatan Cina diperkirakan menyaingi gabungan Amerika dan Uni Eropa. Walaupun proyeksi ekonomi jangka panjang perlu memperoleh perhatian khusus, proyeksi dari OECD memperkirakan PDB riil Cina pada 2040 sama dengan ekonomi Amerika digabung dengan UE27, Uni Eropa periode 2007-2013 yang beranggotakan 27 negara.

    Kini Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagai penjaga tatanan hukum multilateral yang dapat mencegah konflik di antara anggotanya, memiliki kesempatan untuk kembali pada misinya menciptakan perdamaian dunia. Kita berharap PBB dapat membantu mencegah terulangnya Perang Dingin yang akan berakibat pada memburuknya kesejahteraan global.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.