Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Suram

image-profil

Oleh

image-gnews
Iklan

Dari dalam tong tempat ia tinggal, Diogenes memandang politik dan manusia dengan suram. Athena di abad ke-4 sebelum Masehi baginya adalah ruang keserakahan dan hipokrisi.

Ada sebuah anekdot: sehabis sebuah peperangan, orang dari tepi Laut Hitam ini ditangkap pasukan Raja Philip dari Makedonia yang sedang menaklukkan wilayah sekitarnya. Ia dianggap mata-mata musuh. Filosof itu mengaku: "Aku memang memata-mataimu-mematai-matai nafsumu yang tak pernah terpuaskan."

Dewa-dewa, katanya suatu ketika, memberi kita kehidupan yang cukup, tapi manusia melupakan itu dengan mencari hal-hal yang berlebih. Sang filosof gelandangan mengajarkan moral yang memujikan hidup dengan hasrat minimal, abrapxeia.

Ia sendiri tak ingin punya rumah. Di malam hari ia tidur dalam sebuah tong. Di siang hari ia berkeliling Athena, memprovokasi orang banyak untuk berpikir, dengan perilaku dan pertanyaan. Tak jarang seperti anjing menyalak ia cerca mereka yang ia anggap munafik.

Pernah dikisahkan, ia berjalan di bawah matahari membawa lentera ke mana-mana: "Aku mencari orang yang jujur."

Jelas ia beranggapan: orang jujur tak ada. Diogenes, seperti kita baca dari sejarah filsafat Yunani, adalah salah seorang pelopor aliran yang disebut "Sinis"-kata yang bermula dari kata Yunani Kuno κυνικς (kynikos), yang berarti "mirip anjing". Sebutan ini mungkin karena Sinisme dikenal dari diskusi di gimnasium Cynosarges ("tempat anjing putih") di Athena.

Kini "sinis" berarti mencemooh apa saja, yang baik ataupun yang buruk. Kini pandangan yang kehilangan kepercayaan kepada manusia ini bahkan nyaring, bahkan menusuk.

Ada suatu masa ketika orang menaruh kepercayaan bahwa cita-cita menuju kebaikan bersama akan menggerakkan manusia. Cita-cita itu bernama "demokrasi". Bisa dikatakan ia bertolak dari sebuah "modal sosial": sikap saling mempercayai para warga masyarakat, sehingga dengan mudah bisa berembuk dan bekerja sama, hingga cita-cita tak hanya tinggal impian dalam isolasi.

Ada kalimat terkenal Reinhold Niebuhr dalam The Children of Light and the Children of Darkness: "Kemampuan manusia untuk adil membuat demokrasi mungkin; tapi kecenderungan manusia untuk tak adil membuat demokrasi diperlukan."

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tapi masihkah kata-kata itu berlaku? Kini orang patut bertanya: benarkah manusia mampu berlaku adil? Sungguhkah demokrasi diperlukan ketika kita menyaksikan kebusukan manusia?

Mari lihat demokrasi di Hungaria. Seperti diceritakan majalah The Economist baru-baru ini, Fidesz, partai yang menang pemilu dan memegang tampuk pemerintahan, menggunakan kekuatannya di parlemen untuk mengendalikan pengadilan, menguasai bisnis, membeli media, dan memanipulasi aturan pemilihan umum. Perdana Menteri Viktor Orban tak perlu melanggar undang-undang; ia menggerakkan parlemen untuk mengubah undang-undang sesuai dengan kehendaknya. Tak perlu polisi membungkam musuh, cukup pemerintah menyuap media, atau menggertak dengan pajak. Demokrasi di Hungaria sungguh berkibar, tapi berkibar juga apa yang dilihat Diogenes dengan suram: keserakahan dan hipokrisi.

Juga di Indonesia. Setelah pemilihan 2019 yang jujur dan bersih, setelah harapan bangkit untuk masa yang lebih baik, ternyata para penyusun undang-undang (di parlemen dan di pemerintahan) bisa dengan enteng menyisihkan tuntutan keadilan yang disuarakan di masyarakat. Bahkan bisa mereka siapkan undang-undang yang mengancam hak dasar manusia.

Sejenis sinisme merayap. Di luar parlemen dan pemerintahan, orang sulit lagi percaya ada niat baik di lembaga-lembaga resmi. Di dalam parlemen dan kabinet, sinisme tumbuh dalam bentuk lain: para politikus dan pejabat tak percaya bahwa kerja politik untuk keadilan dan kemerdekaan bakal ada hasil dan manfaatnya.

The Economist benar, setidaknya sebagai peringatan: sinisme adalah sebuah fenomena yang mencemaskan di awal abad ke-21. Dalam sebuah survei tahun lalu, hampir 70 persen orang Amerika dan Prancis mengatakan para politikus mereka korup alias busuk dan dusta. Lebih dari separuh pemilih di delapan negara di Eropa dan Amerika Utara menyatakan kepada The Pew Research Centre bahwa mereka tak puas dengan kerja demokrasi.

Demokrasi memang kisah ketidaksempurnaan manusia. Demokrasi menjadi sistem untuk mengantisipasinya. Sejarah menunjukkan politik dalam sebuah sistem parlementer tak bisa mencapai hal-hal yang muluk. Bahkan Bismarck, Perdana Menteri Prusia abad ke-19 yang menghalalkan cara dengan "darah dan besi", adalah orang pertama yang mengakui politik itu kiat untuk hal-hal yang mungkin saja: "Politik ist die Kunst des Möglichen." Proses politik, sebagai "the art of the possible", selalu dibatasi kondisi yang nyata, selalu berkompromi, ada negosiasi, bahkan hipokrisi.

Tak berarti kita akan menirukan Diogenes. Bukan saja kita akan enggan tidur dalam tong tiap malam, tapi sinismenya, pandangannya yang suram tentang manusia, meletakkan rintangan sebelum orang bertindak.

Tapi ada kearifan didapat ketika "Si Anjing" menyalak: politikus bukanlah makhluk yang bisa selalu dipercaya sebelum dan sesudah pemilu. Meskipun kita bisa diam-diam berharap ada politik lain yang akan tumbuh, politik tanpa politikus-politik yang membawa lentera bukan untuk mencari orang yang jujur, tapi menjadi orang jujur.

Goenawan Mohamad

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

7 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

21 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

22 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

22 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

23 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

29 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

48 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

57 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024