Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Mengapa Papua Membara

image-profil

image-gnews
Warga Papua memakai pakaian adat dan menari dalam acara Yospan Papua saat Car Free Day di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad, 1 September 2019. Menurut panitia, acara yang dikemas dengan musik dan tarian ini digelar untuk menunjukkan bahwa warga Papua memiliki budaya yang energik sesuai dengan alam dan kondisi tanah di Papua. TEMPO/M Taufan Rengganis
Warga Papua memakai pakaian adat dan menari dalam acara Yospan Papua saat Car Free Day di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad, 1 September 2019. Menurut panitia, acara yang dikemas dengan musik dan tarian ini digelar untuk menunjukkan bahwa warga Papua memiliki budaya yang energik sesuai dengan alam dan kondisi tanah di Papua. TEMPO/M Taufan Rengganis
Iklan

Bagong Suyanto
Guru Besar FISIP Universitas Airlangga. Pernah meneliti dampak industrialisasi di Papua.

Aksi kerusuhan yang meletup di Papua tak kunjung selesai. Meski telah dilakukan berbagai pendekatan persuasif dan pembatasan akses informasi agar hoaks tidak makin meluas, ternyata itu semua tidak banyak bermanfaat. Berita terakhir melaporkan, suasana di Jayapura makin mencekam karena dilanda aksi perusakan dan pembakaran sejumlah fasilitas publik dan bangunan komersial.

Lebih dari sekadar unjuk rasa biasa, kerusuhan yang pecah di Papua sebagian dipicu oleh beredarnya kabar bohong atau hoaks yang membuat suasana batin masyarakat Papua semakin panas. Massa yang berbaur dalam kerumunan pun dengan mudah termakan hoaks, kemudian melampiaskannya dengan merusak sejumlah fasilitas publik.

Banyak faktor yang menyebabkan Papua terus membara. Isu pengusiran mahasiswa Papua, hoaks foto warga Papua yang tewas dianiaya aparat di Surabaya, dan kabar bohong yang menceritakan Kepolisian Resor Surabaya menculik dua pengantar makanan untuk mahasiswa Papua bercampur aduk menjadi rumor yang liar. Masyarakat Papua yang sudah telanjur emosi pun dengan cepat tersulut.

Isu penyerbuan dan pengusiran mahasiswa Papua di Surabaya dan persekusi yang menyudutkan mahasiswa Papua tidak hanya membuat rasa solidaritas mereka bangkit dengan cepat, tapi juga rasa sakit hati kembali muncul di atas luka lama. Seperti yang beredar di media sosial, penyebutan mahasiswa Papua dengan kata-kata yang merendahkan bagaimanapun telah menyakiti hati mereka. Di tengah kemarahan yang berkecamuk, ketika ada pihak ketiga yang mengail di air keruh, kerusuhan pun tidak lagi bisa dicegah.

Untuk mencegah aksi kerusuhan di Papua tidak makin berkembang, pemerintah dilaporkan telah mengambil berbagai langkah yang diperlukan. Kementerian Komunikasi dan Informatika misalnya, telah memperlambat akses Internet di beberapa wilayah Papua agar hoaks tidak makin menyebar. Selain itu, kepolisian telah melacak pembuat dan penyebar hoaks yang membangkitkan sentimen masyarakat Papua.

Dalam batas-batas tertentu, tindakan cepat pemerintah meredam aksi kerusuhan di Papua harus diakui telah berhasil memadamkan api ketidakpuasan yang telanjur menyala. Namun apakah tindakan pemerintah benar-benar berhasil mematikan api hingga ke akar-akarnya? Tentu masih bisa diperdebatkan. Buktinya, di Jayapura, aksi kembali muncul dalam skala yang makin mencemaskan.

Kerusuhan di sejumlah daerah di Papua belum lama ini sesungguhnya bukan aksi yang berdiri sendiri. Itu semua merupakan aksi yang secara langsung dan tidak langsung berkaitan dengan sejarah dan pengalaman traumatis yang dialami masyarakat Papua.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pembangunan yang berlangsung di Papua selama ini hanya mencakup aspek-aspek teknis dan finansial tanpa memperhitungkan biaya sosial yang harus ditanggung penduduk lokal, terutama eksistensi adat istiadat dan hak-hak adat masyarakat setempat. Ini terbukti hanya melahirkan sejumlah masalah sosial-budaya. Kesenjangan budaya antara kultur kapitalisme yang sudah mengglobal dan sistem nilai tradisional telah menimbulkan kejutan budaya.

Studi yang dilakukan Ngadisah, Konflik Pembangunan dan Gerakan Sosial-Politik di Papua (2003), misalnya, menemukan bahwa sebagian warga pribumi Papua yang menolak kehadiran Freeport dan aktivitas industrialisasi lain tidak sekadar melakukan protes sosial, tapi juga melakukan serangkaian aksi yang dapat ditengarai sebagai suatu gerakan sosial.

Ibarat bara api, ketidakpuasan, kekesalan, dan dendam sesungguhnya telah lama berkecamuk dan membekas di benak sebagian besar masyarakat Papua. Pengalaman pada masa lalu telah menorehkan luka yang mendalam dan menyebabkan masyarakat Papua cepat panas tatkala mereka merasa kembali diperlakukan tidak adil.

Menyembuhkan luka lama masyarakat Papua memang membutuhkan waktu. Kendati upaya untuk membangun Papua agar tidak ketinggalan dengan provinsi lain di Indonesia terus dilakukan, hasilnya memang tidak bisa seketika tampak dan dirasakan masyarakat Papua secara keseluruhan.

Saat ini, masyarakat Papua umumnya mensyukuri pemerintah sudah berusaha keras membuka isolasi dengan pembangunan jalan Trans-Papua. Namun, agar upaya pemerintah menyediakan fasilitas dasar untuk membuka isolasi tidak kontraproduktif, ke depan negara bertugas memastikan pembangunan jalan itu benar-benar bermanfaat bagi masyarakat lokal. Jangan sampai pembangunan itu justru menjadi karpet merah bagi industrialisasi yang kapitalistik dan mengeksploitasi Papua.

Sepanjang masyarakat Papua masih diperlakukan sebagai penonton atas pembangunan dan perubahan yang terjadi di wilayahnya, sepanjang itu pula aksi-aksi kerusuhan akan tetap berpotensi pecah. Kasus mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya adalah pemicu. Akar masalahnya adalah bagaimana mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat Papua.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

16 jam lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

14 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

15 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

15 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

16 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

22 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

41 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

50 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024