Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Setelah Pemerdekaan, Pencerdasan

image-profil

image-gnews
Paskibraka mengibarkan Bendera Merah Putih saat upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu 17 Agustus 2019. HUT Ke-74 RI mengangkat tema SDM Unggul Indonesia Maju. TEMPO/Subekti.
Paskibraka mengibarkan Bendera Merah Putih saat upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu 17 Agustus 2019. HUT Ke-74 RI mengangkat tema SDM Unggul Indonesia Maju. TEMPO/Subekti.
Iklan

M. Alfan Alfian
Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional

Ketika mendatangi museum perumusan naskah proklamasi di Jalan Imam Bonjol, Jakarta, saya terbayang propaganda Jepang yang mengklaim dirinya sebagai saudara tua. Karena itulah Bung Karno dan para tokoh nasional bersikap akomodatif, kendati ada juga kelompok yang menentang.

Museum itu merupakan bekas rumah Laksamana Maeda, perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Hindia Belanda. Di situlah Sukarno-Hatta merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang hendak dibacakan keesokan harinya, 17 Agustus 1945.

Sebagai saudara tua, Jepang mendekonstruksi banyak hal. Pengorganisasian masyarakat diatur ulang. Organisasi rukun tetangga pun konon bikinan Jepang. Cara bertanam padi yang rapi karena memakai galah ukuran, juga cara Jepang. Militerisasi memang memerlukan disiplin tinggi, kendati kadang berlebihan. Melayangnya ribuan nyawa dalam kerja paksa romusha dan perang tentu tak dapat dilewatkan. Jepang tetaplah imperialis yang menindas rakyat.

Dalam peta global saat itu, Jepang hadir sebagai representasi kekuatan militer dan politik yang mencengangkan dalam Perang Asia Pasifik. Tapi, jauh sebelum itu, sebagai bangsa Asia, Jepang telah mampu menghadirkan harapan baru nasionalisme Asia yang virusnya merembet ke mana-mana. Pankaj Mishra dalam From the Ruins of Empire: The Intellectuals Who Remade Asia (2012) mencatat kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905 merupakan pangkal naiknya rasa percaya diri dan nasionalisme Asia.

Apakah Sukarno di Hindia Belanda, Nehru di India, dan Mustafa Kemal di Turki Usmani sama-sama terinspirasi oleh kejadian tersebut? Mereka menemukan kisah nyata bahwa bangsa Asia yang selama berabad-abad terpuruk oleh bangsa Eropa ternyata mampu bangkit dan menang. Mitos bangsa Asia yang ditakdirkan tak mungkin mampu melawan Eropa patah oleh kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905.

Dari sini bisa dipahami, ketika Jepang hadir menggantikan Belanda, banyak tokoh nasional memandangnya sebagai kekuatan alternatif untuk menyingkirkan penjajah Belanda. Bahkan, pada 1943, Buya Hamka pun berpidato panjang di depan ribuan orang mendukung propaganda Jepang di Medan. Rasa-rasanya semakin mantaplah Indonesia sebagai saudara muda.

Tapi perubahan politik terjadi. Setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, pada 14 Agustus 1945, Jepang resmi menyerah. Para tokoh bangsa memanfaatkan peristiwa itu untuk menyatakan kemerdekaan. Fakta diterbangkannya Bung Karno, Hatta, dan Radjiman ke markas Jepang di Asia Tenggara, Dalat, untuk bertemu dengan Jenderal Besar Terauchi pada 9 Agustus 1945 dan kembali ke Jakarta pada 15 Agustus 1945 menggambarkan pentingnya faktor Jepang, juga kontribusi Laksamana Maeda.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kini, 74 tahun setelah kemerdekaan Indonesia, kondisi saudara tua telah melesat jauh sebagai negara maju. Kendati pada 1945 jatuh terpuruk, porak-poranda karena perang, Jepang mampu bangkit kembali sebagai negara maju di Asia Timur. Khisore Mahbubani dalam Can Asians Think? (1998) mencatat, Jepang merupakan satu-satunya bangsa di Asia yang paling cepat menerapkan pola Barat dalam pembangunannya.

Saya berdiri di depan poster tua propaganda Jepang di museum itu. Saudara tua itu seolah-olah terheran-heran dengan saudara mudanya, mengapa setelah sekian lama tidak maju-maju sebagai bangsa. Saya terkesiap. Barangkali kita memang telah mampu melakukan proses pemerdekaan. Merdeka dari penjajahan fisik kolonial Belanda dan Jepang. Merdeka dari sistem lama yang tidak demokratis. Dan merdeka sebagai semacam jimat sakti yang selalu hadir pada 17 Agustus, tapi kurang dalam pencerdasan.

Mencerdaskan kehidupan bangsa bukan sekadar sepotong kalimat sakral Pembukaan UUD 1945. Kalimat itu harus terus-menerus kita ikhtiarkan. Hanya dengan kecerdasan tingkat tinggilah kita bisa mengejar bangsa-bangsa maju. Sumber daya manusia unggul, sebagaimana jargon hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-74, menegaskannya. Unggul sudah otomatis cerdas.

Jelaslah bahwa strategi pendidikan dan kebudayaan penting. Hal itu harus bertumpu pada paradigma keadilan sosial. Kesenjangan mutu pendidikan harus diatasi. Kolaborasinya dengan dunia industri harus terus ditingkatkan. Kebijakan zonasi dalam penataan pendidikan sekaligus peningkatan pendidikan vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah tepat. Kebijakan zonasi yang tidak berhenti pada penerimaan peserta didik baru, tapi juga rotasi guru dan perbaikan sarana-prasarana, bukan saja konsekuensi politik pendidikan berkeadilan sosial, melainkan juga menjawab ragam masalah pelik pendidikan dari level mikro. Hambatan birokrasi jelas harus dipangkas.

Itu baru satu langkah yang harus dilakukan secara konsisten. Sinergi antarlembaga, antara pemerintah pusat dan daerah, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan harus dipacu. Riset-riset strategis dikembangkan secara keilmuan kolaboratif. Manajemen pemanfaatan potensi diaspora Indonesia harus lebih diefektifkan. Juga dalam konteks pencarian dan penumbuhan bakat-bakat unggul Indonesia.

Kita harus terus bergerak agar bangsa ini semakin cerdas dan cepat bisa menyusul kemajuan saudara tua.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

8 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

22 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

23 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

23 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

24 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

30 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

49 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

58 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024