Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Selfi

image-profil

Oleh

image-gnews
Iklan

Kini kita hidup dengan drone dan selfi. Kita menyukai keduanya. Dengan langkah ringan kita memasuki zaman yang baru-sebut saja zaman hiper-okular-ketika indra visual bergerak amat cepat meluas, mendalam, ke kiri, ke kanan, berlipat-lipat kali.

Ingat adegan ini: ribuan manusia berhimpun dalam acara politik atau karnaval, dan drone dilepaskan untuk mengarahkan kameranya ke bawah, dan orang akan melambai, mengelu-elukannya dengan meloncat-loncat, seperti menyambut tamu langit yang mereka kenal. Kebanyakan mencoba, setengah serius, agar wajah masing-masing tertangkap kamera dari ketinggian itu. Entah untuk siapa.

Wajah. Selfi. Mungkin ada kecenderungan narsisisme dalam diri kita. Saya tak mengatakan itu tabiat buruk, meskipun saya tak menyukainya. Selfi adalah "klik!" ketika wajah menyerah kepada kamera dan waktu menyerah kepada momen.

Tentu kita tahu, selfi-yang juga sebuah gejala hiper-okular-berbeda dengan drone. Selfi adalah satu-dua menit kedekatan. Selfi adalah 120 detik ketika kita mesra kepada wajah sendiri, atau kepada teman, atau kepada pemandangan di dekat kita. Kita perlakukan momen itu spesial dan... "klik!": selfi adalah sejenis kecemasan bahwa kemesraan itu pasti berlalu dan kita cepat-cepat ingin mengawetkannya, malah mengabadikannya.

Kamera-kini dengan gampang disimpan di saku berjuta-juta orang di dunia dan bisa mereka pergunakan sendiri-sendiri kapan saja mereka mau-memberi peluang bagi ilusi untuk berumur panjang. Dalam selfi, kamera membawa salah sangka bahwa yang direkam adalah "kenyataan", sepatah kata yang lebih pas ketimbang "realitas". Terutama kini, ketika hasil jepretan bisa didapat tanpa perlu melalui kamar gelap: apa yang tertangkap, wajah itu, tak perlu lagi diproses lebih dulu. Kita cenderung menganggapnya sebagai potret diri. Padahal kita memilih angle dan cahaya dan saat yang baik; kita sebenarnya hendak mengubah "kenyataan". Atau membuat kenyataan baru, ketika, dengan gambar itu, kita mematikan waktu.

Di situ ada semacam kreativitas: sering tak disadari, berfoto bukanlah sekadar mereproduksi atau "mengulang" kenyataan, melainkan membikin metamorfosis. Tapi juga bisa dikatakan, yang kita kehendaki bukan diri kita; yang kita kehendaki "representasi" atau "wakil" diri itu. Kita tak lagi sekadar "ada", tapi "punya", dan kemudian "tampil". Kita mengukuhkan diri sebagai "kurang". Seperti lazimnya, identitas dikemas tergesa-gesa.

Selfi adalah cermin, tapi di dalam, di balik, dan di sekitar wajah di cermin itu, ada hubungan-hubungan sosial. Cermin, juga foto selfi, tak pernah sendirian dalam bilik. Tiap kita, dengan kesengsaraan yang jauh lebih ringan, adalah Pecola.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pecola adalah gadis negro dalam The Bluest Eyes, novel Toni Morrison, gadis dari keluarga yang retak acak-acakan, perawan yang diperkosa ayahnya dan hamil. Pecola tiap kali melihat dirinya sendiri dan menyimpulkan-mengikuti ucapan dan sikap orang sekitarnya-bahwa ia buruk muka. Juga seluruh keluarganya. "Kau pandangi mereka dan kau bertanya-tanya mengapa mereka begitu jelek. Kemudian kau sadar, itu datang dari keyakinan, keyakinan mereka sendiri. Seakan-akan ada tuan misterius yang serba-tahu telah memberi masing-masing mereka jubah kejelekan untuk dipakai, dan mereka semua menerimanya tanpa ribut-ribut."

Pecola tak jemu memandangi potret Shirley Temple, bintang cilik Hollywood yang gambar wajahnya terpasang di poci susu. Pecola pun memutuskan untuk minum susu sebanyak-banyaknya. Ia ingin, seperti Shirley, bermata biru. "Orang dewasa, gadis-gadis yang lebih tua, toko, majalah, koran, dan poster di etalase-seluruh dunia sepakat bahwa sebuah boneka bermata biru, berambut pirang, berkulit kemerahan adalah idaman tiap anak perempuan...."

Dalam renungannya yang murung, Pecola adalah sebuah citra, dan sebuah citra dibentuk dari sedimentasi kata-kata dan tatapan orang lain.

Tatapan pada wajah: selfi adalah tiruan itu. Di zaman hiper-okular, tentu saja tatapan-indra penglihat yang memandang-berada di pusat kehidupan. Bahkan sejak dahulu "mata" telah merasuk ke dalam bahasa, membentuk pelbagai kiasan, seperti dalam kalimat "melirik peluang investasi’, "pemandangan umum di DPR".... Bahkan dalam bahasa Jawa, ilmu pengetahuan disebut kawruh, dari kata weruh, melihat.

Tapi seperti yang lain-lain, weruh dan kawruh penuh risiko keliru dan risiko benar. Terutama yang berhubungan dengan wajah, bagian yang dianggap mewakili sebuah pribadi. Sebagian agama-Yahudi dan Islam, terutama-melarang wajah Tuhan dibayangkan, apalagi dilukis, mungkin karena tatapan tak pernah bisa utuh. Atau sebaliknya tatapan terlalu kuasa memerangkap wajah dalam perspektifnya, dan merasa benar-dan para imam tahu Tuhan tak bisa diperlakukan begitu.

Tapi, seperti keluh Amir Hamzah dalam salah satu puisinya, "aku manusia, rindu rasa, rindu rupa". Kita tahu "rupa" dan hal-hal yang misterius di dalamnya tak pernah dapat dipotret. Kita selfi, dan wajah kita menyerah kepada kamera, dan yang misterius dari diri kita tergerus. Tapi kita suka, bukan?

Goenawan Mohamad

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

4 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

17 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

18 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

19 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

20 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

26 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

44 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

54 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024