Dari Bruce Lee, Untuk Kita

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Joe Taslim dalam serial TV Warrior. foto/instagram/joe_taslim

    Joe Taslim dalam serial TV Warrior. foto/instagram/joe_taslim

    San Fransisco, tahun 1878.

    Berlumpur, berpeluh, Ah Sahm (Andrew Koji) berdesakan di antara para imigran yang melalui “samudera yang asin” –demikian mereka menyebutnya—dari Tiongkok. Hanya dalam beberapa menit, adegan diskriminatif –si kulit putih yang menghina imigran –diselesaikan oleh tangan sigap Ah Sahm. Saat itu, San Fransisco terbagi antara dua dunia: dunia masyarakat Tionghoa Amerika dan masyarakat kulit putih. Di Chinatown lantas ada hukumnya tersendiri, karena mereka juga terbagi dari masyarakat sipil yang selalu harus tunduk (atau menghindar) dari anggota Tong (mafia) yang berjumlah puluhan kelompok.

    Dengan segera kita tahu Ah Sahm akan menjadi protagonis serial ini yang pendiam, agak galau dan sangat menguasai bela diri hingga bisa menghajar tiga polisi kulit putih tanpa menggunakan senjata. Saat itu juga Ah Sahm direkrut oleh makelar oportunis semacam Little Finger dalam Game of Thrones, Wang Chao (Hoon Lee). Ah Sahm segera saja menjadi bagian dari geng Hop Wei Tong pimpinan Father Jun (Perry Young). Sehari-hari Ah Sahm mendampingi Young Jun (Jason Tobin), putera Father Jun yang sangat temperamental dan membunuh orang hanya karena kepingin.

    Secara diam-diam, Ah Sahm menjalankan misinya di San Fransisco: mencari adik perempuannya, Xiaojing (Dianne Doan), yang di masa lalu berhasil kabur ke AS dari suaminya Sun Yang yang sering menghajarnya. Ah Sahm merasa bersalah karena Xiaojing terpaksa menikah dengan lelaki sialan itu, karena jika tidak, maka Sun Yang akan membunuh Ah Sahm.

    Tentu saja di San Fransisco, Xiaojing ternyata sudah berubah nama menjadi Mai Ling, isteri bos kelompok Long Zii Tong. Bos Long Zii jelas sudah tua renta dan di masa senja ingin berdamai dengan pimpinan Tong lainnya. Tetapi sang isteri, Mailing yang secara de fakto memimpin kelompok Long Zii bersama kekasih gelapnya Li Yong yang (diperankan Joe Taslim) punya ambisi lain: Memimpin seluruh Tong di San Fransisco dengan menguasai perdagangan opium.

    Serial yang memiliki sejarah sepanjang 50 tahun ini adalah gagasan Bruce Lee ketika di tahun 1970-an diskriminasi ras masih kental dan perkawinan antar ras masih dianggap pelanggaran hukum. Tetapi sesudah Lee melakukan pitch ke sana kemari untuk sebuah serial TV tentang seorang jagoan kung fu di dunia Old West, para kepala studio menolak ide itu. Yang menarik, salah satu studio kemudian melahirkan serial TV berjudul Kung Fu dengan pemain David Caraddine (aktor kulit putih dan di masa kini, inilah yang disebut whitewashing).

    Adalah Shannon Lee, puteri Bruce Lee yang kemudian menghidupkan kembali ide ayahnya melalui Bruce Lee Foundation. Lee, sang puteri, kemudian menyebut bahwa ada kumpulan sinopsis dan treatment asli ayahnya kepada sutradara Justin Lin (Start Trek Beyond, serial film Fast & Furious), dan selebihnya adalah sejarah.

    Ada beberapa hal yang menarik dari serial yang terdiri dari 10 episode pada musim tayang pertama. Bagi penonton Indonesia, agaknya, mungkin inilah visi atau keinginan sutradara Mike Wilujan dengan film Buffalo Boys (2018), jagoan Indonesia di dunia Old West. Bedanya, serial TV Warrior berhasil mengawinkan kedua unsur itu dengan pas dan asyik. Para sutradara memahami kapan menampilkan adegan-adegan koreografi martial art, dan kapan mereka butuh adegan perkelahian yang lebih menekankan karakter kekejian tokohnya. Adegan pertandingan besar antara Ah Sahm dan Yong Li adalah salah satu adegan perkelahian paling menegangkan. Baik Andrew Koji maupun Joe Taslim sama-sama menyajikan ketrampilannya, baik seni bela diri maupun seni peran.

    Hal lain yang membuat serial ini membuat kita menjadi candu dan sulit untuk menunda lanjutannya adalah karena jalan cerita nya memang kompleks. Serial ini bukan sekedar kisah rival geng Tong yang saling brantem, tetapi ada elemen polisi Amerika, politik walikota dan oh bahkan ada percintaan antara Ah Sahm dengan isteri pejabat tinggi AS. Hubungan inter-rasial inilah yang menjadi visi personal Bruce Lee dalam salah satu subplot cerita, karena ia menikah dengan Linda Emery, warga Amerika kulit putih.

    Lee jelas melakukan riset yang dalam karena pada sebuah masa Amerika pernah memiliki Chinese Exclusion Act yang isinya mendiskriminasi warga Amerika keturunan Tionghoa untuk melakukan pekerjaan buruh. Dalam serial ini terasa betul pada beberapa episode akhir, persoalan rasial semakin memanas karena para politikus yang ingin menguasai kursi kekuasaan memainkan aturan dan kartu rasial ini.

    Sulit untuk tidak membandingkan kekejian tokoh Mai Ling dengan Cersei dari Game of Thrones, meski harus diakui Bruce Lee pasti sudah mempunyai model pimpinan perempuan dalam benaknya saat dia menciptakan tokoh-tokoh serial ini. Tokoh makelar yang juga mirip dengan si penjilat yang jago mencium semua pimpinan geng seperti Wang Chao adalah Sangkuni yang wajib ada dalam setiap cerita. Sialnya dalam banyak hal, Wang Chao sering dibutuhkan kehadirannya, karena hanya dialah yang lincin dan bisa meliuk kemana saja.

    Yang juga membuat serial ini jauh lebih superior daripada, katakanlah film Buffalo Boys yang memiliki perkawinan genre yang sama, adalah karena Warrior tak ada satupun tokoh-tokohnya yang suci. Semua tokoh memiliki latar belakang kelam, apakah dia Amerika kulit putih atau keturunan Tionghoa, dan mereka semua mencoba bertahan. Yang membedakan para tokohnya mungkin antara kriminal yang masih mencoba manusiawi dan kriminal tanpa hati. Apalagi tokoh-tokoh perempuan dalam serial ini juga tak ada satupun yang cengeng berurai airmata, semuanya tangguh dengan caranya masing-masing.

    Musim tayang pertama yang sudah selesai yang diakhiri dengan cliffhanger, alias akhir yang terbuka, ini sudah tentu akan dinanti lanjutannya tahun depan oleh penonton. Mereka yang menanti bukan saja karena Joe Taslim tampil bagus atau karena ini serial yang melibatkan martial-art tetapi karena memang serial ini digarap dengan baik.

    WARRIOR
    Produser: Jonathan Tropper, Justin Lin, Daniel Woodrow, Shannon Lee
    Sutradara: Assaf Bernstein, Loni Peristere, David Petrarca
    Skenario: Jonathan Tropper, Adam Targum, Kenneth Lin
    Berdasarkan cerita asli Bruce Lee
    Pemain: Andrew Koji, Joe Taslim, Olivia Cheng, Jason Tobin, Kieran Bew, Dianne Doan, Dean Jagger, Langley Kirkwood, Hoon Lee, Christian McKay, Joanna Vanderham, Tom Weston-Jones, Perry Yung


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    RAPBN 2020, Ada 20 Persen untuk Pendidikan, 5 untuk Pendidikan

    Dalam RAPBN 2020, pembangunan Indonesia akan difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Berikut besaran dan sasaran yang ingin dicapai.