Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Cara Salah untuk Menang?

image-profil

image-gnews
Presiden Jokowi memberi sambutan dalam peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 21 Mei 2019. Dalam sambutannya, Jokowi mengingatkan agar perayaan ini bisa dijadikan momen untuk menahan ego. ANTARA/Puspa Perwitasari
Presiden Jokowi memberi sambutan dalam peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 21 Mei 2019. Dalam sambutannya, Jokowi mengingatkan agar perayaan ini bisa dijadikan momen untuk menahan ego. ANTARA/Puspa Perwitasari
Iklan

Seno Gumira Ajidarma
PanaJournal.com

Tentang politik, apa pandangan dari luar tentang Indonesia? Masih pertengahan April, sebulan sebelum pengumuman resmi hasil Pemilihan Umum 2019, mingguan analisis The Economist telah menulis artikel berjudul "The Wrong Way to Win" ("Cara Salah untuk Menang"). Apakah media Inggris itu menuduh Jokowi curang? Tidak. Bagaimana mungkin bukan-kecurangan dinyatakan salah? Rupa-rupanya bukan kecurangan, melainkan kompromi atas demokrasi yang menjadi masalahnya.

Dalam laporan pada edisi yang sama, "A Reformer Reduced" ("Seorang Reformis yang Menyurut"), kompromi itu terutama disoroti dari berbagai manuver, yang meski kurang demokratis, berfungsi untuk mendongkrak popularitas demi Pemilu 2019. Disebutkan bahwa dalam nasionalisasi tambang emas dan tembaga di Grasberg pada Desember, Jokowi telah menjadi seorang economic interventionist. Pengambilalihan mayoritas saham dari Freeport-McMoran dan Rio Tinto ini tentu populer di dalam negeri, tapi investor asing akan ragu menanam modal sampai sekian tahun ke depan.

Istilah dodgy tactics (taktik enggak level) disematkan atas tekanan kepada para pengecamnya, seperti tak kurang dari 20 unjuk rasa kelompok oposisi #2019GantiPresiden yang dicegah polisi; pemanfaatan taktis kebijakan Jaksa Agung; dan sikap mendua terhadap Hary Tanoesoedibjo setelah aset medianya mengalihkan keberpihakan kepada Jokowi. Bergabungnya jenderal-jenderal purnawirawan semasa Orde Baru ke lingkaran dalam disebut sebagai "menaikkan posisi".

Yang paling disorot adalah usaha merangkul golongan Islam konservatif. Ketika Jokowi langsung terbang ke Mekah untuk beribadah umrah begitu masa kampanye berakhir, itu jelas efektif untuk menghapus rumor dirinya seorang Nasrani, meski lebih baik dipercaya sebagai ibadah yang tulus.

Namun, dalam politik, pilihan kepada Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden adalah bentuk kompromi. Ma’ruf Amin, menurut The Economist, beraspirasi agar syariah berlaku lebih luas, cenderung melarang kegiatan kelompok minoritas, dan bahkan kelompok Islam minoritas yang kritis terhadapnya.

Penunjukannya membuat Jokowi seperti tak tertarik membela minoritas. Apalagi Ma’ruf Amin adalah saksi ahli yang menjatuhkan Basuki Tjahaja Purnama, yang notabene merupakan pasangan politik ideal Jokowi sebelumnya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Disebutkan bahwa Jokowi sering salah dimengerti dari luar. Di luar Indonesia, demikian dinyatakan The Economist, politikus yang memilih reformasi dan pembangunan diandaikan akan berjuang untuk nilai-nilai liberal pula. Namun Jokowi, dalam berbagai cara, adalah seorang konservatif dan sangat tidak menyukai risiko.

Dengan kecerdasan politis yang tidak diragukan dan keberuntungan yang mengorbitkannya, berarti pula kuasa dan popularitas Jokowi jarang tertantang, memungkinkan sisi ini tetap tak terperiksa. Majalah ini pun lantas mengutip pernyataan analis politik Kevin O’Rourke, "Ia (memiliki) cadangan kapital politis dan tak banyak membelanjakannya." Jokowi disebut akan menginvestasikannya kalau perlu. Namun, jika dengan memberikan secuil ruang buat para jenderal dan ulama efek keterpilihannya sama, bagi Jokowi, hal itu baik-baik saja.

Disebutkan betapa naluri Jokowi adalah sekuler. Dengan otoritasnya sebagai presiden, ia melarang satu kelompok ekstremis dan secara preventif menghalangi yang lain. Ia merupakan penggemar musik heavy metal, istrinya tidak berkerudung, dan partainya populer bagi kelompok agama minoritas. Yang terakhir ini, menurut The Economist, belum cukup untuk membuat Jokowi percaya diri sekalipun dia memimpin perolehan suara dalam setiap penjajakan awal.

Sebetulnya, para pemilih tahu benar perbedaan antara religius dan intoleransi, seperti tecermin dari perolehan suara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang moderat. Namun kemoderatannya tidak akan membantu jika politikus, dimulai dengan Jokowi, tidak berminat membela tradisi panjang toleransi Indonesia.

Saya tidak menyatakan The Economist benar, tapi juga tidak menyatakannya salah. Saya mengutipnya untuk menunjukkan pandangan dari luar tentang politik di Indonesia. Hal itu selalu berguna, bukan karena lebih benar, melainkan karena mungkin memperlihatkan yang tidak dapat kita lihat, terutama dalam cara memandangnya. Dari suatu jarak, terdapat "keuntungan obyektif" tertentu. Namun jarak adalah jarak.

Penggolongan seperti liberal, moderat, ekstremis, sekuler, oposisi, dan konservatif dilakukan seolah-olah penggolongan sosial-politik di sini terpilah sekat seketat keterpilahan konsep-konsep itu. Politik di Indonesia memang bisa menjadi wacana politik menggunakan konsep-konsep global, tapi konstruksi budaya setiap golongan termaksud bukanlah praksis yang disiplin dari konsep-konsep tersebut. Bahkan, ketika Jokowi disebut sebagai politikus, benarkah Jokowi itu politikus? Di sini semua orang mengerti belaka siapa Jokowi-mengingkarinya atau tidak.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

10 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

24 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

25 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

25 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

26 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

32 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

50 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

24 April 2024

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024