Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Mewaspadai Prakarsa Sabuk Jalur Sutra

image-profil

image-gnews
Mewaspadai Prakarsa Sabuk Jalur Sutra
Mewaspadai Prakarsa Sabuk Jalur Sutra
Iklan

Ronny P. Sasmita
Direktur Eksekutif Economic Action Indonesia

Inisiatif Satu Sabuk Satu Jalan (BRI), yang juga disebut "sabuk ekonomi jalur sutra", adalah pertaruhan besar Cina pada abad ini. Ketika pertama kali dideklarasikan oleh Presiden Xi Jinping pada 2013, prakarsa tersebut dikenal dengan sebutan Satu Sabuk, Satu Jalan. Guardian memperkirakan BRI akan menghabiskan biaya lebih dari US$ 1 triliun. Melalui prakarsa ini, Presiden Xi ingin menjadikan Cina sebagai pusat pertumbuhan ekonomi global, khususnya di Asia.

Sebagaimana dilaporkan The Economist, dengan berinvestasi pada proyek infrastruktur, Presiden Xi ingin agar cadangan devisa Cina jadi lebih menguntungkan. Hal ini dikarenakan banyak dari cadangan devisa Cina ditanam pada produk sekuritas Amerika Serikat yang berbunga rendah. Selain itu, Xi berharap BRI mampu membuka pasar baru bagi perusahaan-perusahaan Cina dan menciptakan kestabilan di kawasan Xinjiang dan Tibet yang terus bergolak. Prakarsa yang juga akan melibatkan sejumlah proyek di Laut Cina Selatan tersebut diharapkan akan memperkuat posisi Cina dalam kasus-kasus sengketa di kawasan tersebut.

Sejatinya, semua motivasi itu dibalut dengan tujuan yang tampak mulia: membuat kawasan Eurasia secara ekonomi sebanding dengan Transpasifik yang dimotori oleh Amerika. Seperti dilaporkan oleh Washington Post, BRI bekerja dengan meminjamkan modal ke negara-negara asing untuk mendirikan berbagai macam proyek infrastruktur. Namun proyek-proyek ini biasanya dibangun oleh perusahaan-perusahaan Cina. Hal-hal semacam inilah yang harus ditimbang matang-matang oleh Indonesia karena, sejak 27 April 2019, BRI secara resmi telah masuk dalam bentuk kerja sama ekonomi antara Cina dan Indonesia.

Kedua negara telah menandatangani 23 kesepakatan kerja sama untuk sejumlah proyek di bawah panji BRI. Sejumlah nota kesepahaman yang ditandatangani dilakukan dengan skema business to business oleh para pebisnis dari kedua negara. Perhatian tentu tidak saja terkait dengan probabilitas pembesaran utang domestik sampai pada peluang ketergantungan Indonesia pada modal Cina, tapi juga pada imbas ekonominya di kemudian hari, ketika peluang penguasaan ekonomi domestik akan pelan-pelan bergeser ke Negeri Tirai Bambu karena ujung dari proyek BRI bagi Cina adalah penguasaan rantai pasokan dan kanal distribusi di ranah domestik negara mitranya.

Kita dapat menengok pengalaman Sri Lanka. Presiden Mahinda Rajapaksa punya hasrat untuk memanfaatkan keuntungan letak geografisnya secara maksimal. Realisasinya adalah membangun pelabuhan udara dan laut agar bisa menampung muatan lebih banyak dan jadi tempat singgah perdagangan dunia. Rajapaksa kemudian punya gagasan untuk membangun bandar udara dan pelabuhan di Hambantota, daerah kelahirannya yang masih didominasi hutan. Ini sekaligus tentunya ingin menjadikan kampung halamannya sebagai metropolis kedua terbesar di negeri itu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Megaproyek tersebut tentu saja membutuhkan pendanaan yang tak sedikit. Sri Lanka pada awalnya memang kesulitan mencari sumber dana, terutama dari Barat. Sebab, ada kebijakan Amerika Serikat dan Uni Eropa yang menutup konsesi ekonomi dan bantuan untuk Sri Lanka karena masalah perang saudara yang pernah terjadi di sana. Proyek Mattala Rajapaksa International Airport (MRIA) di Mattala, 18 kilometer dari Hambantota, kurang-lebih menghabiskan dana US$ 209 juta atau sekitar Rp 2,8 triliun. Namun anggaran negeri itu tak akan mampu membiayai proyek sebesar itu.

Rajapaksa lantas mengundang Cina, yang kemudian memberi pinjaman untuk 90 persen biaya pembangunan MRIA. Cina juga banyak memberikan pinjaman pembangunan infrastruktur di sana, seperti pelabuhan Magampura Mahinda Rajapaksa dan Stadion Kriket Internasional Mahinda Rajapaksa. Kurang-lebih terdapat pinjaman lunak US$ 4,8 miliar dari Cina ke Sri Lanka selama Rajapaksa berkuasa.

Pembangunan di Hambantota dengan utang Cina itu akhirnya membawa Sri Lanka berutang hingga lebih dari US$ 8 miliar. Sayangnya, utang yang menggunung itu tak diimbangi dengan mimpi besar Sri Lanka untuk menggerakkan ekonomi secara instan. Bahkan, MRIA merugi dan pelabuhan Hambantota mengalami defisit. Akhirnya, untuk mengatasi perkara utang tersebut, Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe menyerahkan pengelolaan pelabuhan kepada perusahaan Cina. China Merchants Holdings (International) Company Ltd mengambil alih 80 persen pemasukan pelabuhan Hambantota sebagai pelunasan US$ 1,1 miliar utang Sri Lanka kepada Cina.

Menurut Financial Times, Pakistan, Sri Lanka, Laos, Maladewa, dan Montenegro termasuk negara dengan proyek BRI yang tersendat dan berakhir dengan utang menggunung. Jumlah negara yang mengalami nasib serupa bukan tidak mungkin akan bertambah. Pasalnya, banyak dari 70-an negara yang terlibat dalam BRI adalah negara-negara dengan ekonomi yang cukup berisiko menurut daftar peringkat risiko negara yang dikeluarkan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

2 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

15 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

16 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

17 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

18 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

24 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

42 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

51 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024