Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Di Balik Aksi Anarkistis Massa di Buton

image-profil

image-gnews
Kepulan asap hitam dari puluhan rumah yang dibakar di Desa Gunung Jaya usai terjadi keributan antar pemuda di perbatasan antara Desa Gunung Jaya  dan Desa Sampuabalo, Buton, Sulawesi Tenggara, Rabu, 5 Juni 2019.  ANTARA/Emil
Kepulan asap hitam dari puluhan rumah yang dibakar di Desa Gunung Jaya usai terjadi keributan antar pemuda di perbatasan antara Desa Gunung Jaya dan Desa Sampuabalo, Buton, Sulawesi Tenggara, Rabu, 5 Juni 2019. ANTARA/Emil
Iklan

Bagong Suyanto
Guru Besar Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga

Lebaran semestinya disambut dan dirayakan dengan penuh sukacita. Tapi, yang terjadi di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, benar-benar di luar nalar. Alih-alih warga saling bersilaturahmi dan memaafkan, yang terjadi adalah bentrokan antara pemuda Desa Sampoabalo dan Gunung Jaya.

Kerusuhan ini benar-benar memprihatinkan. Bayangkan, hanya gara-gara tersinggung ditegur warga desa yang dilewati saat berkonvoi dengan menggunakan knalpot racing yang digeber keras-keras, puluhan pemuda dari Desa Sampoabalo keesokan harinya menyerbu desa tetangganya itu dan menganiaya warga serta membakar rumah. Dua orang dilaporkan tewas, dua warga terluka, sedangkan 87 rumah di Desa Gunung Jaya hangus dibakar massa. Setelah kerusuhan, hampir 700 orang terpaksa diungsikan ke desa terdekat.

Kerusuhan ini bukan satu-satunya aksi beringas massa yang terjadi di Tanah Air. Kasus tawuran antar-warga desa telah berkali-kali terjadi hanya karena dipicu soal-soal sepele, seperti salah paham, bersenggolan di jalan, atau saling ejek di media sosial. Ada beberapa faktor yang menyebabkan warga desa yang sehari-hari tampak ramah tiba-tiba bisa berubah menjadi agresif dan anarkistis.

Pertama, mereka terperangkap dalam situasi dan perilaku kerumunan massa yang sering kali menghanyutkan. Bukan hal yang mengherankan jika anggota sebuah komunitas atau masyarakat kehilangan kesadaran dan identitas sosialnya ketika mereka masuk dalam situasi kerumunan. Kerumunan, yang notabene adalah massa yang sudah telanjur marah, dengan cepat akan menyeret anggotanya melakukan hal yang sama untuk memperlihatkan solidaritas kelompok.

Kedua, terjadinya eskalasi tindak kekerasan yang kemudian diikuti dengan munculnya sofistikasi kekerasan. Ketika kekerasan yang berkembang di masyarakat meningkat, batas toleransi terhadap kekerasan cepat atau lambat akan bergeser menjadi makin longgar. Masyarakat menjadi makin terbiasa dengan kekerasan dan bahkan menjadikan kekerasan sebelumnya sebagai preferensi dalam menanggapi masalah.

Jika sebelumnya kasus massa yang tawuran makin banyak dan berbagai berita sering melaporkan kasus penyerangan warga desa satu ke warga desa yang lain, ketika muncul situasi yang sama, dengan cepat orang akan terdorong mengembangkan aksi serupa.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ketiga, implikasi dari perkembangan insting bawaan yang keliru. Lorenz (1966), misalnya, menyatakan bahwa kekerasan, perilaku sadistis, dan semacamnya-yang disebut perilaku agresif manusia-pada dasarnya terjadi karena insting bawaan yang telah terprogram secara filogenetik. Sigmund Frued (1915) mengemukakan bahwa agresi manusia pada dasarnya berasal dari insting thanatos atau keinginan untuk mati yang dimiliki manusia secara alamiah. Agresi sesungguhnya bersumber dari semangat bertempur yang dimiliki manusia seperti juga spesies binatang yang lain.

Ketika masyarakat telah berbudaya dan perilakunya dikendalikan oleh nilai dan norma sosial yang tertata, naluri biologis manusia untuk bertindak agresif memang akan diendapkan dan diredam. Tapi, apabila suatu saat stabilitas hubungan sosial mulai goyah, kendali normatif yang menguasai hubungan sosial dapat menjadi lemah dan akibatnya desakan nafsu agresif di bawah sadar akan lepas tak terkendali. Tidak jarang dorongan itu meletup keluar dalam bentuk kekerasan atau tindakan lain yang melampaui batas-batas kemanusiaan, seperti menganiaya dan membakar rumah.

Upaya mencegah masyarakat larut dalam aksi anarkistis seperti yang terjadi di Kabupaten Buton, harus diakui, bukanlah hal mudah. Ketika tindak kekerasan telah membudaya, sekecil apa pun gesekan dan pertikaian terjadi, ujung-ujungnya bukan tidak mungkin akan memicu terjadinya konflik yang eksplosif.

Tindak kekerasan, apakah itu yang berdimensi politik, sosial, ataupun budaya, sering begitu mudah mencuat tanpa bisa dibendung sedikit pun oleh sistem integrasi yang ada. Akar masalahnya di sini adalah makin langka dan tiadanya preferensi yang bisa dijadikan acuan untuk berkaca pada hal-hal yang baik dalam menanggapi potensi konflik. Tiadanya panutan bagaimana menyelesaikan konflik melalui jalur yang telah disediakan sistem menyebabkan masyarakat pun seolah-olah tidak memiliki pilihan selain menyelesaikannya lewat konflik yang manifest dan keras.

Bagaimana mendekonstruksi budaya kekerasan yang sudah telanjur terinternalisasi di benak masyarakat dan mengembangkan budaya tandingan yang mengedepankan perdamaian dan harmoni adalah tantangan utama yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini. Melatih masyarakat agar tidak rentan termakan provokasi, hoaks, dan ujaran kebencian, serta terus mendorong tumbuhnya imunitas masyarakat yang kenyal, adalah proyek sosial yang seharusnya dikembangkan ke depan agar bangsa ini tidak hancur oleh bibit-bibit permusuhan yang menggerogoti daya tahan dan kohesi sosial kita.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

6 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

20 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

21 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

21 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

22 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

28 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

47 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

56 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024