Idul Fitri dan Kearifan Lokal Bangsa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wanita membeli kulit ketupat untuk persiapan Lebaran Idul Fitri di kawasan Palmerah, Jakarta, Senin, 3 Juni 2019. Kulit ketupat tersebut dijual dengan harga Rp. 5.000 hingga Rp10.000 per 10 buah tergantung dari ukurannya. TEMPO/Fajar Januarta

    Seorang wanita membeli kulit ketupat untuk persiapan Lebaran Idul Fitri di kawasan Palmerah, Jakarta, Senin, 3 Juni 2019. Kulit ketupat tersebut dijual dengan harga Rp. 5.000 hingga Rp10.000 per 10 buah tergantung dari ukurannya. TEMPO/Fajar Januarta

    Ramadan telah sampai di ujung. Jutaan masyarakat Indonesia mudik ke kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri atau Lebaran. Mereka tak memedulikan macet atau repotnya mudik untuk dapat merayakan kebahagiaan berlebaran bersama orangtua, sanak saudara, dan tetangga di kampung. 

    Tak hanya bagi umat Islam, namun juga masyarakat non-muslim ikut bersuka cita merayakan Lebaran. Menikmati kebersamaan, menebar kasih antarsesama dan berbagi, serta saling memaafkan di antara umat manusia: menata kembali bangunan sosial yang mungkin telah rusak.

    Hal ini sesuai dengan Rasullah SAW. Rasulullah SAW tidak diutus untuk satu suku atau satu kaum saja. Beliau diutus untuk mengemban misi menyebarkan kasih sayang atau rahmah bagi seluruh umat manusia: apa pun suku, bangsa, dan rasnya. Nabi Muhammad SAW mengemban misi perbaikan dan kemaslahatan yang  bersifat universal (Wamaa arsalnaaka illaa rohmatan lil’aalamin).  

    Dalam sebuah kesempatan Rasulullah SAW menekankan bahwa misi beliau adalah menyempurnakan etika-etika yang sudah baik (Innama bu’itstu liutammima shoolihal akhlaq). Beliau, misalnya, tidak diutus untuk memaksa seluruh manusia memeluk agama Islam, apalagi menaklukkan seluruh dunia untuk dikuasai. 

    Islam juga tidak melulu bicara soal larangan dan kewajiban ibadah yang bersifat mahdhah. Jika umat Islam tidak salah dalam “membaca”, sesungguhnya sisi kemanusiaan, kedamaian, harmoni, dan kasih sayang dalam ajaran Islam merupakan inti dari risalah yang dibawa Rasulullah SAW, selain tauhid yang diajarkan tanpa pemaksaan. 

    Rasulullah SAW bahkan mengajarkan kepada kita bahwa manusia yang paling baik adalah dia yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia (Khoirunnaas anfa’uhum linnaas). Beliau juga menyebutkan bahwa orang yang paling bermanfaat bagi kemanusiaan adalah orang yang paling dicintai oleh Allah (Ahabbunnaas ilallaahi anfa’uhum linnaas). Dan Allah membenci orang-orang yang membuat kerusakan. 

    Selain perkara-perkara yang bersifat qoth’iyah dan tsawabit (tidak menerima perubahan), ajaran Islam banyak pula mengandung perkara-perkara yang bersifat mutaghoyyiroh, yakni ragam kebaikan dan ibadah di mana umat Islam diberikan keleluasaan untuk melakukan penyesuaian di dalamnya. Menutup aurat ketika salat merupakan perintah yang bersifat qoth’iyah, tetapi kain apa dan pakaian model apa yang digunakan untuk menutup aurat adalah perkara yang mutaghoyyiroh. Membayar zakat fitrah adalah kewajiban yang bersifat qoth’iyah. Namun begitu, orang Indonesia boleh membayar zakat menggunakan beras, bukan gandum atau kurma karena quutul balad bisa berbeda-beda antara satu negara dengan negara lainnya. 

    Begitu pula, terbentuknya pemerintahan dan kepemimpinan (nashbul imam) yang diharapkan bisa menghadirkan keamanan dan stabilitas (al-amnu wal-istiqror) adalah kewajiban umat Islam. Tetapi bagaimana seorang pemimpin itu dipilih, dan bagaimana bentuk pemerintahan yang digunakan, umat Islam boleh membuat kesepakatan sendiri. Empat orang al-Khulafa al-Rosyidun yang terpilih menjadi pemimpin dengan cara berbeda-beda sepeninggal Rasulullah SAW, merupakan bukti sejarah yang tak terbantahkan bahwa urusan kepemimpinan dan bentuk pemerintahan merupakan salah satu perkara yang bersifat mutaghoyyiroh

    Ketika para ulama Indonesia menyepakati bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan ideologi Pancasila, mereka mengetahui dan meyakini bahwa mereka telah menjalankan perintah untuk membentuk pemerintahan dan sistem pengangkatan pemimpin (nashbul imam) yang sah. 

    Kearifan Lokal
    Ada banyak hal di dalam Islam, yang menurut para fuqoha, menyisakan ruang untuk masuknya kearifan-kearifan lokal. Islam menyerahkan aksesori keindahannya kepada kearifan-kearifan lokal. Di Indonesia ini kita mengenal kearifan lokal yang namanya Pancasila. Tidak bisa dipertentangkan antara agama dan Pancasila. Salah satu bukti adalah perayaan Idul Fitri. Idul Fitri bukan hanya menjadi sebuah perayaan keagamaan belaka, tapi juga menjadi sebuah perayaan kebudayaan.

    Kaum muslimin di Indonesia boleh-boleh saja memiliki tradisi keislaman khas lokal yang tidak dijumpai di negeri-negeri Arab, mulai dari sistem bernegara sampai cara merayakan hari raya. Kita tidak akan mendengarkan nada takbiran yang khas Indonesia di negara-negara Arab. Tetapi orang-orang Arab juga memiliki tradisi-tradisi keislaman yang tidak dimiliki oleh orang Indonesia. Bahkan di dalam fikih, terdapat perkara-perkara yang menjadi pembahasan di negara-negara Arab, namun tidak dijumpai, kasusnya di Indonesia, seperti dhihar, misalnya. 

    Orang Arab mempunyai berbagai macam ragam makanan dengan nama yang berbeda-beda dengan peruntukan perayaan yang berbeda-beda pula. Jika orang-orang Arab memiliki makanan khas yang hanya muncul di bulan Ramadan dan Idul Fitri, orang Indonesia juga memiliki ketupat yang menjadi tradisi Lebaran. Tak perlu ada yang merasa lebih unggul dan lebih baik dari golongan yang lain. Karena kebaikan itu bukan berdasarkan golongan, tetapi seberapa besar kebajikan dan manfaat yang diberikan. 

    Semua manusia, setiap bangsa, memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan manusia sengaja diciptakan berbeda-beda oleh Allah SWT. Baik suku, budaya, bahkan agamanya. Banyak ayat Alquran yang menjelaskan bahwa perbedaan itu merupakan kehendak dan sunnatullah. Dan Rasulullah SAW sama sekali tidak diperintahkan untuk menyeragamkan manusia dan bangsa-bangsa. Dalam bingkai keberagaman yang merupakan sunnatullah itu, tugas manusia adalah berlomba-lomba berbuat kebaikan. 

    Tradisi Lebaran di Indonesia memberikan kesempatan dan memudahkan orang untuk saling memaafkan, saling mengunjungi, bertegur sapa, dan menyambung silaturahmi. Seperti disinggung sebelumnya, tradisi Lebaran di Indonesia bukan hanya membawa kebahagiaan, berkah, dan kebaikan bagi umat Islam saja. Tetapi tradisi Lebaran di nusantara telah menjadi milik bersama semua rakyat Indonesia. Bukan hanya umat Islam saja. Di seluruh pelosok negeri kita bisa lihat bagaimana orang datang saling maaf memaafkan, meskipun mereka berbeda agama. Dan ini hanya ada di Indonesia.

    Dengan demikian, kerukunan dan keharmonisan anak bangsa yang sempat terkoyak oleh tangan-tangan keji dalam perhelatan politik akhir-akhir ini, semoga bisa dirajut kembali dengan berkah tradisi Lebaran yang mengajarkan kepada kita semua untuk saling memaafkan dan menyingkirkan dendam. Mari kita pergunakan Idul Fitri ini sebagai momentum untuk mempersatukan kembali Indonesia. Idul Fitri harus kita lihat sebagai antitesa atas perpecahan. Idul Fitri adalah persatuan. Kita datang saling memaafkan. Kita datang saling mengakui kekhilafan, sehingga kita kembali bersatu dan kembali mewujudkan Indonesia maju dan sejahtera. Indonesia yang lebih besar dan Indonesia yang lebih membanggakan.

    Di momentum baik ini, saya juga ingin menyampaikan selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Selamat berlebaran. Mohon maaf lahir dan batin. Ja’alanallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidiin wal faaiziin.  

    *Penulis adalah Ketua Umum PP GP Ansor


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.