Serius Mengurus Mudik Lebaran

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja mengerjakan perbaikan jalan di KM 140 Tol Cipali, Indramayu, Jawa Barat, 25 Mei 2017. Sejumlah ruas Jalan Tol Cipali yang mengalami kerusakan diperbaiki guna persiapan arus mudik Lebaran mendatang. ANTARA FOTO

    Pekerja mengerjakan perbaikan jalan di KM 140 Tol Cipali, Indramayu, Jawa Barat, 25 Mei 2017. Sejumlah ruas Jalan Tol Cipali yang mengalami kerusakan diperbaiki guna persiapan arus mudik Lebaran mendatang. ANTARA FOTO

    Arus mudik Lebaran yang sebentar lagi akan datang mesti mendapat perhatian serius pemerintah. Sebagai peristiwa tahunan, Kementerian Perhubungan perlu memastikan kegiatan mudik tahun ini lebih nyaman daripada tahun sebelumnya dari berbagai sisi. Mulai dari meminimalkan tingkat kemacetan sampai upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas.

    Perhatian serius mesti dimulai dari pengaturan arus mudik dari Jakarta dan sekitarnya yang diperkirakan berlangsung pada 29 Mei sampai 4 Juni 2019. Upaya pengaturan paling penting adalah saat hari puncak mudik yang diperkirakan pada Jumat, 31 Mei 2019, hari terakhir sebagian besar pekerja masuk kantor. Jumlah pemudik dari Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok, dan Tangerang ditaksir sekitar 14,9 juta orang menuju sejumlah daerah di Indonesia.

    Sejatinya, pengaturan arus mudik tahun ini mesti lebih baik daripada tahun sebelumnya. Rampungnya sejumlah proyek jalan tol baru akan semakin mempermudah pengaturan perjalanan ke sejumlah provinsi di Pulau Jawa. Salah satunya tol Trans Jawa yang terbentang dari Merak (Banten) hingga Pasuran (Jawa Timur) sepanjang 933 kilometer. Ruas jalan ini memangkas waktu perjalanan cukup banyak. Perhitungan pemerintah, waktu tempuh kendaraan kecil dari Merak menuju Pasuruan, yang sebelumnya 21 jam, kini menjadi 11 jam.

    Jalan tol Trans Sumatera juga memangkas waktu cukup signifikan bagi pemudik. Ruas jalan ini terbentang 361 kilometer dari Pelabuhan Bakauheni hingga Kayu Agung, Sumatera Selatan. Menggunakan tol ini, jarak Bakauheni (Lampung) ke Palembang (Sumatera Selatan) bisa ditempuh 6 jam dari sebelumnya sekitar 10-12 jam.

    Namun pemerintah perlu mengantisipasi masalah klasik mudik, yaitu soal kecelakaan dan korban meninggal. Saat arus mudik (sepekan sampai Hari Lebaran) 2018, Polri mencatat ada 1.154 kecelakaan lalu lintas yang menewaskan 242 orang. Ada sejumlah faktor penyebab kecelakaan selama mudik. Menurut polisi, penyebab terbanyak kecelakaan adalah faktor kelelahan pemudik, selain ada sumbangsih dari faktor kendaraan atau onderdilnya yang kurang sehat. Komite Nasional Keselamatan Transportasi pernah melansir hal yang sama sebagai penyebab terbesar kecelakaan mudik pada 2015-2017.

    Bagi pemerintah, salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah kelelahan pemudik ini adalah menyediakan fasilitas pendukung berupa rest area yang memadai, baik di jalan tol maupun di jalan non-tol. Pemerintah perlu segera menyediakan tempat peristirahatan di sepanjang ruas tol Trans Jawa yang kondisinya masih kurang memadai.

    Selain itu, pemerintah perlu meningkatkan kesadaran pemudik untuk berkendara secara aman, yaitu beristirahat jika lelah dan mengecek kesehatan onderdil kendaraan sebelum mudik. Kampanye masif soal bahaya kelelahan perlu disiapkan dalam waktu cepat. Apalagi secara medis, berkendara lebih dari 4 jam itu menurunkan kemampuan fisik dan konsentrasi. Beristirahat dalam waktu 15-30 menit akan bisa memulihkan stamina.

    Untuk angkutan umum, hal yang harus dilakukan pemerintah adalah memastikan bahwa kendaraan yang dioperasikan sudah layak jalan melalui pemeriksaan yang ketat, selain soal kesehatan sopirnya. Pemerintah harus tegas dengan tidak memberi izin beroperasi bagi kendaraan umum yang terbukti tidak layak jalan. Jangan ada kompromi sedikit pun soal aturan keselamatan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.