Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

20 Mei

image-profil

Oleh

image-gnews
Iklan

Yang dibicarakan sepatu. Ini di Jakarta, di awal abad ke-20. Persisnya: yang dibicarakan adalah sepatu, sekolah Eropa, murid-murid Belanda, murid-murid bukan Belanda, dan, di balik semua itu, kolonialisme.

“Di sekolah menengah pertama MULO saya berpakaian seperti yang diwajibkan celana pendek, jas yang dikancingkan sampai leher tapi masih memakai sandal, belum sepatu. Itu tahun 1920, dan saya masih belum mengenakan sepatu. Saya tak punya sepatu. Hanya setelah hampir masuk HBS, sekolah menengah atas hampir semua siswanya Belanda totok, bukan seperti MULO, yang muridnya kebanyakan anak Indosaya jadi gugup. Tapi, ketika pelajaran berdansa mulai di HBS... saya sudah mulai bersepatu.”

Percakapan dengan “Tuan Roeslan” ini direkam sejarawan Rudolf Mrazek dalam A Certain Age: Colonial Jakarta Through the Memories of Its Intellectuals (2010).

Mrazek selalu menulis dengan perspektif yang segar, dengan informasi yang menarik dan wawasan yang diam-diam dalam. Sejarah, dalam buku ini, seakan-akan rekaman yang melankolis tentang waktu yang dilampaui manusia bersama hal-hal yang banal.

Misalnya sepatu.

Mrazek tak menyebut sepatu selain sebagai pelindung kaki. Tapi saya ingin menambahkan: sepatu juga sebuah penanda ketegangan sosial, khususnya di Indonesia dalam kekuasaan “Hindia Belanda” sejak akhir abad ke-20. Ada orang-orang yang tak punya sepatu, ada yang berhak bersepatu, ada yang dilarang dan menolak mengenakan sepatu.

Ini thema klasik. Kostum dan kolonialisme adalah bagian cerita penindasan yang tak terpisahkan di Asia dan Afrika.

Sejak 1658, penguasa Belanda, waktu itu VOC, mengharuskan orang “bumiputra” berpakaian daerah. Mereka dilarang memakai kostum Eropa. Ketika ada sejumlah orang keturunan Cina mencoba, mereka dihukum. Aturan ini, demikian dikatakan, buat mempermudah “menangkap penjahat”.

Sejarah perlawanan lokal yang panjang sejak abad ke-17 membuat kekuasaan kolonial bersiap dengan mendeteksi apa yang di luar dirinya. Busana jadi alat paling langsung untuk itu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Seorang sejarawan terkemuka dari Leiden, Henk Schulte Nordholt, menyusun Outward Appearances: Dressing State and Society in Indonesia (1997) dari makalah beberapa peneliti. Dari buku ini kita tahu, ketika pakaian ditentukan, sebuah teknik penaklukan pun dimulai. Kees van Dijk menggambarkan murid-murid Jawa yang belajar di sekolah Belanda harus memakai pakaian Jawa dan bertelanjang kaki; sepatu adalah “tanda” Eropa. Bahkan di STOVIA, para mahasiswa kedokteran juga harus berpakaian daerah; hanya yang beragama Kristen boleh berpantalon, berjas, dan tentu saja met schoenen.

Tak mengherankan Raden Saleh mengalami kepahitan ini. Perupa tersohor ini kembali ke Hindia Belanda setelah bertahun-tahun di Eropa. Ia ingin mengenakan busana Eropa. Ini melanggar hukum. Ratu Belanda juga tak memberinya keistimewaanmeskipun yang ia inginkan cuma memakai pantalon, jas, dan mungkin boot marinir, yang modelnya sudah kedaluwarsa.

Saya kira ada orang-orang “bumiputra” yang akan menganggap Raden Saleh memperbudak diri. Bagi mereka, berpakaian tradisional seraya menampik kostum “Barat”adalah peneguhan identitas diri. Dalam Si Doel Anak Betawi oleh Aman Datuk Madjoindo (1932), engkong anak itu murka ketika si cucu datang di hari Lebaran dengan berpakaian padvinder: topi, celana pendek, sepatu. Si anak Bidara Cina dibentak dan harus datang mengenakan sarung dan kopiah....

Dengan menangis, sang cucu pun melepas kostum yang dibanggakannya. Tapi bagi Engkong, orang Betawi mesti “tetap betawi”. Yang semacam itu terjadi ketika gerakan Boedi Oetomo diambil alih arahnya oleh kalangan priayi tinggi Jawa yang bertopang kepada apa yang dianggap sebagai yang “asli”, dengan adagium Radjiman Wedyodiningrat bahwa “bangsa Jawa tetap jawa”.

Agaknya itu sebabnya kita mengenang Boedi Oetomo, pada tanggal kelahirannya, 20 Mei, dengan membayangkan wajah Wahidin Soedirohoesodo berbaju surjan dan blangkon seakan-akan “kebangkitan nasional” hanya terbatas pada apa yang dianggap “Jawa”.

Tidak, 20 Mei tak hanya itu. Dari kebangkitan 111 tahun yang lalu itu ada Tjipto Mangoenkoesoemo. Dalam Kongres Pertama “Jong Java” di tahun 1908, lulusan STOVIA itu menunjukkan perlawanannya menghadapi Radjiman dengan berdebat dalam bahasa Melayu, sementara lawannya berbahasa Jawa.

Dalam dasawarsa selanjutnya, getar perlawanan itu berlanjut. Doenia Bergerak, yang terbit di tahun 1914 dan tentu saja pemimpin redaksinya, Mas Marcoakan dikenang sebagai penentang keras ide “bangsa Jawa tetap jawa”. “Adat Majapahitan” harus ditolak. Kain, destar, dan blangkon hanya mempermudah penindasan. Jas, pantalon, dan dasi yang dipakai di depan para aristokrat dan pejabat kolonial akan menggedor mereka: ini bukan pakaian untuk menyembah. Maka, tulis Mas Marco, seorang bupati hilang lepas nyawanya ketika melihat seorang Jawa berpakaian Eropa, lengkap dengan sepatu di kakinya.

Memang ini bukan cerita pengganti sandal. Ini cerita ketika politik identitas diungkai dan ditunjukkan: di atas itu, di atas sol itu, ada politik ketaksetaraan.

Goenawan Mohamad

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

8 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

22 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

23 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

23 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

24 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

30 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

49 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

58 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024