Skandal Dunia Sastra dan Hollywood

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kristen Stewart dan Laura Dern dalam film JT Leroy. Pride.com

    Kristen Stewart dan Laura Dern dalam film JT Leroy. Pride.com

    Oktober 2005 lalu, sebuah artikel panjang di New York Magazine mengguncang Amerika. Artikel yang ditulis Stephen Beachy itu berjudul Who is the Real JT LeRoy itu mempertanyakan siapakah sesungguhnya penulis JT LeRoy yang selama ini dikenal sangat misterius. Setahun kemudian, sebuah tulisan investigatif Warren St.John di harian New York Times berjudul “The Unmasking of J.T Leroy: In Public He’s a She” mengkonfirmasi kecurigaan banyak orang. Terungkaplah sudah: JT Leroy sesungguhnya tidak ada. JT LeRoy ternyata sebuah nama pena—atau si penulis lebih suka menyebutnya sebagai ‘avatar’—seseorang bernama Laura Albert yang tidak cukup percaya diri untuk menulis dengan namanya sendiri dan merasa tak akan sukses jika dia tampil apa adanya seperti dirinya.

    Kedua artikel itu menciptakan kehebohan dunia karena selama hampir satu dekade nama dan karya JT LeRoy (JT adalah singkatan dari Jeremiah Terminator) sudah melibatkan dunia industri buku, film, televisi, film independen, musik dan segala yang bersangkutan dengan kebudayaan pop.

    Siapakah J.T LeRoy?

    Selama hampir 10 tahun, dunia industri buku Amerika, pembaca novel, Hollywood dan musik mengenalnya sebagai seorang penulis novel Sarah dan The Heart Is Deceitful Above All Things. Kedua buku ini, terutama yang belakangan, dianggap sebagai semacam novel biografis LeRoy yang mengaku sebagai seorang anak lelaki yang masa kecilnya luar biasa buruk; tubuhnya yang dibanting ke sana kemari; ibu yang mencari uang sebagai prostitusi dan LeRoy sendiri akhirnya menjadi didandani sebagai perempuan oleh ibunya dan dijadikan pelacur yang melayani para supir truk sejak usia dini. Pada usia remaja, demikian menurut novel tersebut, LeRoy mengidap HIV.

    Tidak bisa tidak, karena gaya penulisan yang meyakinkan, novelnya meledak menjadi best-seller.JT Leroy menjadi perbincangan dunia industri buku, hingga para produser berebut membeli hak adaptasi novelnya ke dalam film. Tetapi yang menjadi gunjingan adalah: siapakah LeRoy? Mengapa dia tak pernah mau muncul di muka publik? Mengapa dia begitu tertutup dan hanya bersedia diwawancara melalui telepon atau surat elektronik?

    Setelah terlalu curiganya pembaca, maka tiba-tiba muncullah sosok “J.T Leroy” yang berdandan dengan misterius dan unik: dia mengenakan wig, berkacamata hitam superbesar nyaris menutup seluruh wajahnya yang mungil dan tampak pemalu dan berbicara terbata setiap kali muncul di hadapan wartawan atau acara pembacaan karyanya. LeRoy selalu saja didampingi ‘managernya’ bernama Speedy yang beraksen bahasa Inggris dan lebih sering menyambar pertanyaan wartawan dan segera menjawabnya. LeRoy sendiri menurut kedua wartawan, tampak tak paham apa yang ditulisnya sendiri dan sibuk menikmati pertemuan dan pujian selebritas besar macam Bono, Courtney Love, Wynona Ryder dan seterusnya.

    Begitu investigasi New York magazine dan The New Yor Times terbit, akhirnya mereka harus mengaku. JT Leroy sebetulnya tak pernah ada. Dia betul-betul sosok fiktif. Novel Sarah dan The Heart Is Deceitful Above All Things Adalah karya Laura Albert, seseorang yang memang sejak kecil mengalami pelecehan seksual. Dia mengaku tak pernah cukup berani untuk menulis dengan namanya sendiri, maka dia menggunakan nama JT LeRoy, sebuah nama pena yang kemudian digunakan untuk menjawal telepon editor dan penerbitnya. Semua orang terkenal itu tak pernah bertemu dengan JT LeRoy sekalipun dan mereka begitu saja percaya melakukan bisnis dengannya melalui surat elektronik, telepon dan pos atau kurir untuk mengirim kontrak. Tetapi Laura, setelah ketahuan melakukan kebohongan itu, mengaku bahwa dia akhirnya membutuhkan seseorang untuk mengaku sebagai JT LeRoy. Dia berkenalan dengan adik suaminya, Savannah Knoop yang berpenampilan tomboy, kelelakian.

    Skandal ini sudah diwujudkan menjadi film dokumenter oleh sutradara Jeff Feuerzeig yang menyorot dari sudut pandang Laura Albert –mengapa dia sampai merasa harus mewujudkan sosok fiktif, dan tak maju sebagai dirinya sendiri sebagai penulis –dengan judul Author: The JT Leroy Story. Di dalam dokumenter yang bernada pembelaan terhadap sang penulis, dia mengaku sebagai korban pelecehan pada usia dini, dia tak nyaman dengan dirinya sendiri. Dan karena dia juga pernah bekerja sebagai orang yang melayani phone-sex, dia merasa mudah untuk berperan sebagai orang lain. JT LeRoy adalah salah satu avatar yang dia ciptakan. Ada lagi Speedy, manager JT LeRoy yang sangat mengatur kehidupan LeRoy.

    Film JT LeRoy arahan sutradara Justin Kelly mencoba memfokuskan suara Savannah Knoop (Kristen Stewart), adik dari Goffrey Knoop (Jim Sturgess) yang menikah dengan Laura Albert. Film ini dimulai kedatangan Savannah ke rumah kakaknya. Begitu Laura (Laura Dern), sang kakak iparnya bertemu, dia langsung saja merasa sosok Savannah sangat cocok menjadi JT LeRoy: kurus, berwajah androgini, polos dan sedikit naif. Laura segera menawarkan sudikah Savannah menjadi semacam avatar dari novelnya. “Kau tak perlu berbuat apa-apa, cuma tampil di sana-sini, senyum, menjawab pertanyaan, dan nanti kubayar engkau US 50.

    Semula pekerjaan itu terlihat mudah, karena hanya senyam-senyum dan berpose di depan kamera. Uang mengalir masuk karena banyak pihak yang mulai tertarik pada sosok misterius ini. Tentu saja sering tidak sinkron, karena orang-orang biasa bebricara dengan JT LeRoy di telpon, di mana Laura yang menjadi orang yang di balik kop telpon; sementara secara fisik adalah Savanna yang berperan sebagai LeRoy. Bukan saja Savannah sering lupa dengan diskusi yang terjadi di telpon, dia juga tampak polos dan tak paham diskusi sastra yang terjadi pada saat konperensi pers.

    Kerumitan semakin meningkat ketika tawaran untuk membeli hak adaptasi novel LeRoy mengalir; bintang film besar, para selebriti seperti Bono, Winona Ryder yang menemuinya dan menyebut namanya di atas panggung. Savannah makin galau karena ia berkenalan dan jatuh hati pada aktris/sutradara Eva (Diane Kruger) yang membujuknya agar hak adaptasi novel The Heart Is Deceitful Above All Things diberikan kepadanya (di dalam kisah nyata, film ini disutradarai oleh Asia Argento). Mereka sempat berhubungan, tetapi setelah film sudah mulai berproduksi, Eva mulai dingin dan kalkulatif, sesuatu yang tak terlalu dipahami Savannah/JT LeRoy yang polos.

    Karena film ini diambil dar sudut pandang Savannah/JT LeRoy, bahkan dia juga menjadi salah satu penulis skenario bersama sutradara Justin Kelly, maka tak heran film ini sangat simpatik terhadap Savannah. Dia digambarkan berkali-kali berhenti dari kegilaan dan kebohongan ini, untuk kemudian kembali lagi ‘berperan’ sebagai JT LeRoy karena bayarannya semakin tinggi. Perasaan tak nyaman menipu publik akhirnya tertutup oleh kebutuhan finansial dan karena dia jatuh hati pada Eva.

    Akhir dari film ini tentu saja seperti yang sudah tercatat dan terekam: Savannah Knoop dan Laura Albert akhirnya harus berhadapan dengan publik mengakui penipuan yang terjadi. Apakah yang mereka lakukan sebuah kriminal? Sejauh ini, mereka berhadapan dengan rumah produksi yang membeli hak adaptasi novel mereka, karena tandatangan pada kontrak dilakukan dengan nama JT LeRoy yang sesungguhnya tak ada. Tuntutan hukum itu kemudian diselesaikan di luar pengadilan.

    Kristen Stewart sebagai Savannah Knoop/JT LeRoy tampil bagus sekali, meski terkadang dia agak terlalu sophisticated untuk seseorang yang dianggap ‘kurang berpendidikan’. Sementara Laura Dern yang berperan sebagai Laura Albert yang manipulatif sungguh bersinar.

    Bagi mereka yang tak mengikuti skandal ini tetap bisa memahami film ini karena Justin Kelly bernarasi dengan runtun dan kronologis. Mungkin kompleksitas Savannah yang akhirnya bingung dengan identitasnya sendiri karena harus bolak balik peran kurang digali lebih dalam lagi. Tetapi film ini sungguh menarik untuk memperlihatkan betapa absurdnya dunia sastra dan film. 

    LEILA S. CHUDORI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.