Mengucapkan Selamat Jalan Kepada Para Superhero

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Robert Downey Jr. dalam Avengers: Endgame (2019)

    Robert Downey Jr. dalam Avengers: Endgame (2019)

    Ini adalah akhir dari sebuah era.

    Avengers generasi Robert Downey Jr. dimulai dan diakhiri oleh penampilannya.

    Avengers:Endgame bukan saja ditunggu-tunggu karena merupakan bagian sekuel dari kisah Avengers: Infinity War (2018), tetapi juga lebih penting lagi karena film sepanjang tiga jam ini adalah akhir kisah perjalanan setiap superhero dari 11 tahun Marvel Cinematic Universe.

    Film ini dimulai dari Tony Stark (Robert Downey Jr) yang merekam pesan kepada Pepper Potts (Gwiyneth Paltrow) tentang kehidupannya yang tengah berlayar di ruang angkasa ketika persediaan oksigen menipis. Tetapi jangan khawatir, meski Tony Stark seolah sekarat, ternyata dia selamat dan berhasil bertemu dengan ‘sisa geng Avengers’ yang sudah dalam keadaan layu. Setelah Thanos (Josh Brolin) berhasil mengumpulkan enam batu Infinity untuk menghancurkan setengah umat manusia dengan jentikan jarinya, inilah yang terjadi: seluruh bumi hanya terdiri dari sisa-sisa reruntuhan yang berserakan; separuh umat manusia menghilang dan hanya menyisakan makam dengan nisan dengan ribuan nama; mereka yang bertahan hidup sudah pada tubir keputus-asaan.

    Demikian pula keadaan sisa Avengers seperti Natasha Romanoff (Scarlet Johansson) alias Black Widow yang berduka tak berkesudahan ; Bruce Banner alias Hulk (Mark Ruffalo) yang akhirnya berwujud “the best of both Banner and Hulk” hingga dia kini berubah menjadi Banner yang Hulk; Thor (Chris Hemsworth) yang bertubuhnya tambun dan rambut yang awut-awutan, karena dia menuangkan kepedihannya ke dalam berbotol-botol bir serta Clint Barton alias Hawkeye (Jeremy Renner) berubah menjadi pembunuh bayaran karena tak bisa menyalurkan kemarahannya.

    Steve Rogers alias Kapten Amerika adalah satu-satunya yang masih bisa berpikir positif dan mencoba mencari jalan keluar untuk mengobati kesedihan massal ini. Tiba-tiba terjadi sebuah keajaiban: Scott Lang alias Ant-Man (Paul Rudd) yang selama ini dianggap ikut ‘hilang’ ternyata muncul kembali. Setelah bolak-balik mencari penyebabnya, Ant Man ternyata satu-satunya dari mereka yang hilang yang berhasil kembali karena ada persoalan ilmiah yang seharusnya bisa membantu mereka menyelesaikan problem dunia. Setelah meyakinkan Tony Starks yang ogah mengguncang kebahagian kehidupan berkeluarga; lantas para superhero jenius ini saling melemparkan jargon fisika macam quantum mechanics , Deutsch Propositions dan seterusnya yang tidak kita pahami. Sebetulnya kita cukup paham satu terminologi: time travel. Karena si raja jahat Thanos sudah menghancurkan enam batu infinity itu, maka tugas para Avengers ini adalah kembali ke masa lalu untuk memungut satu persatu bat-batu Infinity yang bertebaran itu , agar umat manusia yang tewas bisa hidup kembali.

    Tapi ada satu hal yang perlu diingat: mereka tak bisa mengacak hal yang sudah terjadi seperti dalam film Back to Future (mereka menyebut-nyebut film ini sembari meledek). Yang bisa ‘hidup kembali’ hanyalah mereka yang tewas alibat batu Infinity.

    Maka kini terjawab sudah mengapa film ini sampai sebegitu panjang: tiga jam! Semua anggota Avengers dan kawan-kawan superhero lainnya harus punya porsi, punya peran dalam pencarian batu ini dan juga dalam perang besar terakhir. Semua akan diberikan konteks kembali seperti pada film-film mereka masing-masing. Thor akan kembali menemui ibunya; Captain America akan melihat perempuan yang paling dicintainya dan seterusnya. Tetapi mereka tetap harus ingat bahwa waktu mereka “di masa lalu” terbatas dan harus digunakan untuk mencari batu bertuah itu.

    Tentu saja akan terjadi kekacauan konsep waktu , misalnya Captain America masa kini bertemu dengan Captain America masa lalu. Atau lebih mengharukan lagi Tony bertemu dengan ayahnya –yang tentu saja tak mengenalinya, karena saat itu Tony seharusnya masih di kandungan sang ibu.

    Seperti perang besar di setiap epik, Avengers: Endgame memiliki premis yang sama. Di dalam perang akan ada tokoh yang menjadi korban dan ada yang mengorbankan dirinya. Akan ada yang bertahan, akan ada yang pergi selamanya. Bagi penggemar Mahabharata, sama seperti Gatotkaca yang dengan penuh kesadaran mengorbankan diri saat Karna bertarung melawan paman Arjuna, maka soal pengorbanan diri pasti terjadi pada setiap kisah peperangan akhir. Tetapi film ini sudah mengatur sedemikian rupa sehingga siapapun yang harus mengorbankan diri memiliki ‘tugas’ menyelamatkan separuh umat manusia –memang terdengar gagah betul jika diucapkan, tetapi saat menyaksikannya, segalanya berjalan dengan alamiah, sesuai karakter para superhero.

    Film ini, dibanding film-film jagat Marvel sebelumnya memberikan ruang untuk tokoh-tokoh yang berkontemplasi, adegan yang sunyi tanpa music dan bahkan suasana yang sesekali puitis sebelum akhirnya menghadapi perang besar pada paruh kedua. Dan pada saat perang besar itu, tentu saja ini momen adalah hadiah khusus bagi para pengabdi setia jagat Marvel yang sudah pasti bertepuk tangan girang setiap kali salah satu superhero muncul dan beraksi. Jangan lupa di sini ada superhero baru, Captain Marvel, yang sayangnya hanya bisa sesekali mampir karena “saya juga harus mengurus planet lain yang mengalami problem yang pelik juga.”

    Para penonton Marvel akhirnya mengucapkan selamat jalan bagi sebuah generasi superhero yang sudah melekat di hati para penggemarnya dan siap menyediakan jalan baru bagi generasi berikutnya. I love you 3000.

    AVENGERS: ENDGAME

    Sutradara: Antony Russo dan Joe Russo

    Skenario: Christopher Markus dan Stephen McFeely

    Berdasarkan The Avengers oleh Stan Lee dan Jack Kirby

    Pemain: Robert Downey Jr, Chris Evans, Mark Ruffalo, Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Brie Larson, Paul Rudd, Don Cheadle, Gwyneth Paltrow

    Produksi: Marvel Studios 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.