Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Ketahanan Rezim-rezim Arab

image-profil

image-gnews
Para pengunjuk rasa berdemonstrasi di jalan-jalan Aljir, Aljazair, untuk memprotes pencalonan pilpres Presiden Abdelaziz Bouteflika untuk masa jabatan kelima, Jumat, 1 Maret 2019.[Washington Post]
Para pengunjuk rasa berdemonstrasi di jalan-jalan Aljir, Aljazair, untuk memprotes pencalonan pilpres Presiden Abdelaziz Bouteflika untuk masa jabatan kelima, Jumat, 1 Maret 2019.[Washington Post]
Iklan

Ibnu Burdah
Dosen UIN Sunan Kalijaga

Gerakan protes rakyat Arab untuk menumbangkan rezim kembali berembus kencang setelah mengalami jeda cukup panjang. Selama sekitar tujuh tahun, berita di dunia Arab diwarnai dengan perang masif terhadap Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Irak serta perang Yaman yang mengakibatkan krisis kemanusiaan.

Gerakan protes rakyat seperti terhenti selama masa itu karena mereka menyaksikan akibat-akibat lanjutan dari proses penggulingan rezim yang sangat buruk. Konflik dan perang pecah di mana-mana, yang disertai dengan penderitaan rakyat dan kehancuran dalam skala sangat luas.

Rakyat di negara-negara Arab seperti diliputi ketakutan dan pesimisme terhadap gerakan mereka. Amat pantas mereka khawatir preseden Suriah dan Yaman akan menimpa negerinya jika mereka memaksakan pergantian rezim melalui protes jalanan.

Namun gerakan protes kembali pecah di Aljazair dan Sudan. Dua rezim Arab yang berbasis militer itu baru saja tumbang, yakni rezim Bouteflika di Aljazair dan rezim Umar Basyir di Sudan. Musim Semi Arab gelombang kedua ini, kendati karakternya sama, menunjukkan hal berbeda. Protes ini berlangsung lebih damai dan menimbulkan sedikit korban. Bahkan di Aljazair tak ada satu pun nyawa melayang dalam aksi demonstrasi masif selama berpekan-pekan. Hal ini terjadi, antara lain, berkat sikap militer yang menunjukkan arah tegas sejak awal, yakni menolak melakukan represi terhadap rakyat.

Hal ini sangat berbeda dengan Musim Semi Arab gelombang pertama pada 2011-2012. Setidaknya ada empat rezim yang tumbang kala itu. Penjatuhan rezim Zaenal Abidin bin Ali di Tunisia, Husni Mubarak di Mesir, Muammar Khaddafi di Libya, dan Ali Abdullah Soleh di Yaman disertai korban nyawa dalam jumlah cukup besar. Di Libya dan Yaman, korban kemanusiaan berlipat-lipat akibat konflik berkepanjangan.

Dari empat negara itu, tiga di antaranya mengalami kekacauan hebat dengan tingkat destruksi dan korban kemanusiaan sangat besar. Hanya Tunisia yang selamat dan bisa melanjutkan proses demokrasi kendati pada fase-fase awal juga mengalami guncangan tak kecil.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dengan adanya preseden gerakan rakyat Aljazair yang "damai", apakah rezim-rezim Arab lain akan mampu menahan laju gerakan rakyat yang cenderung menular ke negara-negara Arab lain?

Secara umum, kita bisa menilai bahwa rezim militer di dunia Arab cenderung lebih mudah tumbang dibandingkan dengan negara-negara Arab monarki. Dari 23 negara Arab, delapan di antaranya monarki, baik rajanya yang disebut al-malik, emir, maupun sultan. Kebanyakan dari mereka berada di Teluk; satu di Levant, yakni Kerajaan Yordania; dan satu lagi di Arab Barat, yakni Maroko. Sisanya adalah kekuasaan yang hampir semuanya berbasis militer.

Dari delapan rezim monarki itu, tak satu pun yang tumbang oleh gerakan rakyat, baik gelombang pertama maupun gelombang kedua. Gerakan protes sempat mencuat cukup besar di Bahrain, Maroko, dan pada tingkat tertentu di Oman. Namun semuanya dapat diredam melalui program sosial, reformasi konstitusi, cara semi-militer, dan sebagainya. Hingga saat ini belum tampak tanda-tanda akan terjadi gerakan rakyat dalam skala besar di wilayah negara-negara Arab monarki.

Kekuatan monarki-monarki Arab untuk bertahan itu beragam. Kekuatan itu sebagian bersumber dari legitimasi agama, seperti Penjaga Dua Tanah Suci di Saudi serta keturunan nabi di Yordania dan Maroko. Kekuatan itu juga bisa berupa ekonomi dan keberhasilan proses pembangunan pada tingkat tertentu, sebagaimana terjadi di kebanyakan negara Teluk. Kendati negara-negara Teluk mengalami penurunan penghasilan signifikan dari sektor minyak, tingkat kesejahteraannya masih berada jauh di atas rata-rata kesejahteraan rakyat Arab. Mungkin masih banyak alasan lain untuk menjelaskan ketahanan rezim-rezim monarki Arab. Faktanya, kepemimpinan tradisional lebih mampu bertahan di dunia Arab sejauh ini.

Adapun rezim militer di Arab sudah terbukti lebih rentan mengalami kejatuhan. Enam rezim yang tumbang oleh gerakan rakyat Arab, baik gelombang pertama maupun kedua, adalah rezim militer. Di luar mereka, praktis hanya rezim Mauritania dan Suriah yang belum tumbang. Karena itu, tak sedikit pengamat yang melihat rezim Mauritania akan menjadi korban berikutnya dari gelombang kedua protes rakyat Arab.

Rezim-rezim di Libanon, Irak, Somalia, Palestina, dan lain-lain merupakan rezim yang relatif tidak kuat. Penguasa di negara-negara ini bahkan rentan akan pergantian secara cepat akibat konflik-konflik politik yang rumit. Rezim-rezim ini relatif mudah jatuh tanpa gerakan rakyat sekalipun. Rezim militer Suriah juga sempat mengalami guncangan hebat tapi akhirnya mampu bertahan kendati melalui perang yang sungguh mengerikan.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

8 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

21 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

22 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

23 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

24 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

29 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

48 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

57 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024