Di Balik Layar Film yang (Tidak) Terungkap

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Serial Call My Agent (IMDb)

    Serial Call My Agent (IMDb)

    Di balik layar film, ada seribu tangan yang menyangga. Bukan hanya sutradara; bukan hanya aktor, tetapi ratusan kru yang namanya jarang diingat penonton. Ada lagi mereka yang sebetulnya bekerja luar biasa gila di balik sebuah produksi: agen para aktor. Di negara Barat, agen bertugas mewakili aktor untuk bernegosiasi dengan rumah produksi, memastikan aktor-aktris memperoleh peran yang mereka impikan dan menjaga agar citra kliennya tetap bersinar. Di Indonesia, peran sebagian tugas agen kurang lebih dilakukan oleh apa yang disebut manajer.

    Serial Netflix Prancis berjudul Call My Agent yang sudah mencapai musim tayang ketiga adalah kisah yang menyorot kehidupan satu tim agen para aktor-aktris Prancis bernama ASK. Didirikan oleh Samuel Kerr yang memimpin agen tersebut, agen ini terdiri dari Mathias Barneville (Thibault de Montalembert); Andréa Martel (Camille Cottin), Arlette Azémar (Liliane Rovère), dan Gabriel Sarda (Grègory Montel).

    Keempat agen ini dibantu asisten masing-masing dan dikepung oleh persoalan-persoalan pribadi yang tidak kalah sintingnya dengan problem para aktor-aktris besar yang mereka wakili, yang egonya menggelembung tak berkesudahan; yang manja luar biasa dengan permintaan yang mustahil; atau yang terlibat dalam perselingkuhan hingga sang agen yang harus menutupi agar peristiwa itu tak tercium masyarakat.

    Yang paling menarik dari serial ini adalah tampilnya para aktor aktris Prancis terkemuka-seperti Monica Belluci, Jean Dujardin, Isabelle Adjani --yang memerankan diri sendiri, yang persoalannya bercampur baur dengan problem personal para agen masing-masing.

    Serangkaian episode awal serial ini dimulai dengan kematian Samuel Kerr, pendiri dan pemilik agen ini, sehingga kekosongannya membuat kantor ASK menjadi tegang, limbung sekaligus bingung langkah apa yang harus dilakukan: mencari investor baru, atau ramai-ramai menjadi pemilik dengan keroyokan patungan membeli saham yang dimiliki Samuel Kerr.

    Sementara itu, ada problem lain. Klien Mathias, suami isteri aktor-aktris Virginie Efira dan Ramzy Bedia-yang memerankan diri sendiri-misalnya, berperan bersama di dalam satu film. Keduanya adalah klien Mathias sehingga semua kontrak, semua persoalan bisnis hingga personal ditanganinya. Maka ketika suatu malam Mathias menerima telpon panik dari Virginie yang ketahuan papparazi sedang berciuman dengan lelaki lain, maka urusan ini ternyata masuk dalam job-desc seorang agen. Mathias harus menghadapi sang suami, Ramzy, yang murka. Mathias juga harus mencoba menutupi kontrak Ramzy dari isterinya, yang mencantumkan honornya jauh lebih tinggi.

    Pada episode-episode lain, kita juga menyaksikan aktor Jean Dujardin, kena sindroma method acting; dia tak bisa keluar dari perannya sebagai seorang tentara deserse yang berperan sebagai sebuah film (fiktif) tentang seorang desertir perang. Dia tetap mengenakan kostum tentara yang tidak dicuci berbulan-bulan; berkemah di kebunnya, dan menganggap semua orang sebagai bagian dari tokoh dalam film. Tentu saja agennya, Andréa Martel (Camille Cottin) bersusah payah mencoba mengembalikan Jean Dujardin ke abad masa kini.

    Belum lagi aktris Monica Belluci yang menyatakan pada agennya Gabriel Sarda (Grégory Montel) bahwa dia lelah berpacaran dengan orang film, dan ingin merasakan mempunyai hubungan dengan "lelaki biasa" - baca: Gabriel. Atau ada juga kisah #metoo movement di mana Juliet Binoche dipaksa direktur festival film untuk menemani makan malam (yang sekaligus diharapkan tidur dengannya). Terpaksa dan agen menemani Binoche kemanapun dia pergi.

    Tentu saja persoalan yang disajikan bukan hanya keanehan dan ego para pemain film, tetapi sebetulnya yang lebih utama persoalan pribadi para agen itu. Mathias yang mempunyai anak di luar nikah -dan serangkaian perselingkuhan-atau Andrea seorang gay yang mudah bosan dengan pacar-pacarnya dan akhirnya jatuh cinta pada seorang perempuan yang cemburuan; belum lagi para asisten masing-masing yang mempunyai drama masing-masing.

    Tentu saja Call My Agent bukan sebuah ide original, karena sebelumnya kita mengenal serial dengan tema semacam seperti serial Entourage (Doug Elin, 2004-2011) yang berkisah tentang industry film Hollywood: aktor, produser, manajer dan para agen. Serial Call My Agent lebih menarik karena para agen digambarkan seperti manusia biasa saja yang berperan penting di balik gemerlapnya pada aktor dan aktris. Mereka tahu tugas mereka mengakomodsi dan mewakili para aktor aktrisnya, dan itulah yang menyebabkan serial ini terasa lebih nyata. Bahwa kemudian ada elemen komedi dan juga intrik politik dalam bisnis film membuat serial ini menjadi candu bagi para penonton yang kini tengah menanti musim tayang ke empat.

    CALL MY AGENT!
    (Dix pour cent)

    Kreator: Fany Herrero dan Domique Besnehard
    Sutradara: Cédric Klapisch
    Pemain: Grégory Montel, Camille Cottin, Liliane Rovère, Monica Bellucci, Isabelle Adjani, Juliet Binoche
    Saluran: Netflix

    LEILA S. CHUDORI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.